
Regan mamasuki butik mamanya dengan langkah lebarnya.
"Tuan muda," sapa pegawi butik mamanya penuh hornat.
Regan memganggukkan kepalanya.
Dia memukul jidatnya sambil berlalu. Dia lupa membawakan para pegawai itu makanan seperti kebiasaannya jika maen ke butik.
Memang jam makan siang sudah sangat lewat. Regan pun sangat tergesa gesa karena ngga nyampe sejam lagi akan ikut meeting bareng papa dan kakeknya. Meeting.Pengukuhan dirinya sebagai pemilik tujuh puluh persen saham dan menyatakan dirinya adalah pewaris tunggal Paramadya Grup.
Kakek dan papanya memberikan seluruh saham yang mereka miliki untuknya. Kalo kakekya yang memiliki empat puluh lima persen memang inginkan Regan yang mewarisi Paramadya Grup. Sedangkan papanya pemilik dua puluh lima persen, mungkin memberikannya karena perasaan bersalah karena sudah menelantarkannya.
Jujur dalam hati Regan dia jadi kasian dengan Riko yang masih di penjara dan Arsa yang baru berumur lebih kurang empat tahun.
Mereka ngga mendapatkan apa apa. Kedua ibu tirinya bakalan gigit jari, marah dan kecewa pastinya.
Setelah memberitahukan pada mamanya, Regan akan memberitahukan soal lamarannya pada papa dan kakeknya yang sedang berkumpul.di ruang meeting.
CEKLEK
Regan membuka pintu ruangan mamanya dan mendapati ada Aira juga di sana.
Kedua wanita yang paling disayanginya itu sedang tersenyun bahagia dan tambah berbinar melihatnya.
Aira berlari menyongsongnya dan langsung memeluknya. Regan membalasnya dengan senyum lebar dengan hati penuh tanya.
Setelah hari di saat dia menerima permintaan papa, Aira bersikap seolah memusuhinya. Regan tau, Aira sangat kecewa dengan pilihannya.
"Selamat, ya, kak."
Kening Regan berkerut.
Selamat jadi pewaris tunggal Paramadya grup? batinnya ngga percaya. Seingatnya adiknya ngga terlalu suka dengan itu.
"Selamat?" suaranya bernada heran.
"Ya, karena kakak udah mau lamaran sama Dinda," balas Aira riang.
Regan menatap mamanya yang tersenyum lebar dengan sepasang mata penuh binar.
"Mama Dinda udah cerita barusan lewat telpon," jelas mamanya kemudian juga menghampirinya. Dan ikut memeluk putra kesayangannya.
"Selamat sayang." Kali ini mamanya ngga bisa lagi menahan air mata kebahagiaannya.
Telpon dari temannya sangat mengejutkannya. Dan beliau sangat berbahagia dan bersyukur mendengarnya.
Regan mendapatkan istri dan besan yang dapat membimbingnya dalam memahami agamanya. Tanggungjawab yang ngga pernah bisa dirinya dan suaminya penuhi untuk anak anak merreka.
__ADS_1
Regan pun membalas pelukan erat kedua perempuan yang sangat berarti dalam hidupnya.
Ngga lama kemudian ketiganya saling melepaskan pelukan.
Regan membimbing keduanya untuk duduk di sofa.
"Aira, apa kamu mengenal Dinda?" tanyanya yang merasa heran dengan ucapan adiknya tadi. Seakan nama itu tidak asing untuknya.
"Dia teman SMA, kak. Ngga nyangka aja Dinda mau sama kak Regan," canda Aira tertawa sambil menghapus air matanya.
"Siapa yang bisa menolak kakakmu," kekeh Regan dengan nada sombong. Kedua perempuan beda usia itu pun tertawa.
"Ma, Ai. Aku ngga bisa lama. Sebentar lagi mau meeting dengan papa dan kakek," katanya agak sedikit terus terang.
"Mama tau. Kakek sudah memberitahukannya pada mama. Selamat ya. Walaupun mama ngga terlalu berharap, tapi syukurlah kamu yang jadi pewarisnya," ucap mamanya penuh haru.
"Keren ya, kakakku yang satu ini," puji Aira sangat kagum. Bahkan papanya memberikan seluruh sahamnya untuk kakaknya seorang. Tidak menyisakan sedikitpun buat kedua saudara tiri mereka.
Dia ngga membenci mereka, yang dia benci hanyalah dua wanita matre yang merebut papa dari mamanya. Juga darinya dan kakaknya Regan.
Malahan Aira merasa kasian dengan Riko yang masih mendekam di penjara.
Riko cukup tau diri dan memiliki sifat yang berbeda dari mamanya. Tapi tetap saja ada jarak di antara keduanya.
Aira ngga membenci, juga ngga memusuhi, hanya saja ngga mau peduli.
Wajah ceria mama sedikit berubah sesaat, tapi kemudian beliau mencoba bersikap bijaksana.
Sebenci apa pun dirinya dengan suaminya yang brengsek itu, dirinya harus tetap melibatkannya dalan proses lamaran Regan.
Mama Regan ngga mau menimbulkan kesan buruk. Apalagi kisah hancurnya keluarganya pasti sudah banyak yang tau.
Mamanya hanya ingin membuat Regan merasa memiliki orang tua lengkap saat melamar perempuan yang berhasil mencuri hatinya.
Apalagi keluarga Dinda jauh dari skandal. Jaug berbeda dari keluarga mereka.
Regan ngga berkata apa pun lagi. Dia tau hal ini pasti sudah cukup membuat mamanya ngga suka.
"Iya. Katakan kapan papamu ada waktu. Tapi mama harap, istri istrinya ngga dilibatkan," pinta mama agak tegas. Beliau ngga ingin kedua wanita itu merusak kesakralan acara lamaran putranya.
Regan tersenyum senang mendengarnya. Sangat mudah mewujudkan keinginan mamanya. Karena itu juga keinginanmya.
"Tentu ma. Aku juga ngga mau ada mereka," jawab Regan ngga kalah tegasnya.
Aira tersenyum senang. Jika terwujud, walau hanya sebentar mereka akan berkumpul seperti keluarga nornal yang bahagia. Ada mama, dirinya, kakaknya Regan dan papanya.
*
__ADS_1
*
*
Setelah meeting selesai, Regan menahan kakek dan papanya yang ingin cepat cepat pergi. Keduanya seakan akan sedang menghindari virus yang sangat berbahaya.
Regan tau keduanya masih bermusuhan. Kakeknya sangat wajar membenci papanya karena kelakuannya. Tapi sikap papanya yang juga memusuhi kakeknya membuat Regan kesal juga. Papanya tipe yang ngga mau disalahkan.
"Ada yang mau Regan bicara, kan," ucapnya setelah memastikan sekertarisnya keluar dan menutup pintu.
"Hal apa? Kakek harus segera. pulang."
"Pap juga," sahut papanya ngga mau kalah sok sibuknya.
Regan tersenyum dan berdiri di dekat kakeknya yang sedikit berjauhan dengan papanya
"Regan minta kakek dan papa ikut melamar gadis yang sudah Regan pilih."
Keduanya menatap Regan ngga percaya, tapi juga sangat senang mendengarnya.
"Kamu serius, nak? Kalo nenekmu tau pasti akan sangat bahagia," seru kakeknya dengan mata yang mulai memanas.
Beliau ngga menyangka kabar ini yang akan di dengarnya dari cucu kesayangannya.
Selama ini beliau ngga pernah mendengar kalo cucunya dekat dengan gadis manapun. Itu yang membuat dirinya marah karena merasa yakin jika Regan begitu karena malu bahkan trauma dengan kelakuan papanya, yang adalah putra tunggalnya.
"Iya, kek. Sangat serius," jawabnya mantap.
Kakeknya mengangguk anggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya yang mengalir perlahan.
'Selamat, papa pasti akan ikut," jawabnya terharu. Ngga menyangka Regan akan melibatkan dirinya dalam proses paling penting dalam hidupnya. Beliau merasa malu, karena selama ini menelantarkan Regan dan Aira. Walaupun dirinya ngga bermaksud begitu, tapi kedua anaknya benar benar menghindarinya.
"Makasih, pa."
"Kapan rencananya?"
"Mama terserah papa.dan kakek," Regan menjeda ucapannya, tatapannya berubah serius ke arah papanya
"Pap, aku harap acara ini hanya untuk keluarga kita, saja" kata Regan serius.
Regan jelas ngga mau menyakiti hati mamanya. Istri kedua dan ketiga papimya sangat lebai dan selaku bertingkah memuakkan jika berada di tempat umum.
"Dengar itu, Dharma. Jangan berani berani kamu membawa dua istrimu itu," sarkas kakek keras.
"Ya, tentu saja. Kalian ngga usah khawatir," jawabnya cepat. Bahkan dirinya ngga tersinggung akan ucapan ayahnya.
Tentu papa Regan ngga akan menolak keinginan putranya..Seingatnya baru kali ini Regan mengajukan permintaan selama menjadi putranya.
__ADS_1
Dia masih beruntung karena Regan masih mau mengikutsertakan dirinya. Padahal keluarga calon besannya pasti sudah tau skandal skandal yang sering beliau lakukan.