Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Curhat


__ADS_3

BRAK


Alva membanting kasar pintu ruang privat Kiano.


"Sial. Jantung gue wooiii," seru Glen kaget campur kesal.


"Lo mikir, dong kalo mau marah," omel Reno sempat sport jantung.


Kiano hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat nasib pintu ruangannya. Untung dari kayu jati. Tetap kokoh berdiri tegak mengetawai penderitaan Alva.


Ada ada aja, Kiano kembali mencela pikiran absurdnya.


"Menyebalkan," serunya uring uringan sambil menghentakkan kakinya.


"Lo di suruh kawin besok?" ledek Reno setelah kagetnya hilang.


"Tinggal pura pura nurut aja," saran Arga yang sudah pengalaman.


Beberapa kali orang tuanya minta bertemu dengan putri klien bisnis mereka. Yah, sekedar bertemu. Setelah itu ada ada aja ulah Arga membuat calonnya mengundurkan diri.


Mulai ngajak kegiatan bersih bersih jalan dengan ngumpulin sampah, ngajak makan di warung pinggir jalan, bahkan telat menjemput berjam jam dengan alasan meeting.


"Iya, gitu aja pusing," cerca Glen meremehkan.


"Lebay lo," Regan ngga kalah ikut mencaci.


Alva mendengus kesal.


"Calon istri gue si Meti. Mana bisa gue pake taktik kalian," seru Alva dongkol.


Mendengar nama Meti mereka pun ngga bisa menahan tawanya lagi.


Meti sahabat kecil Alva yang super cerewet. Umurnya lebih muda lima tahun. Mereka bertetangga sampai sekarang. Tapi Alva sudah telanjur menganggapnya sebagai adik kecilnya karena Alva anak tunggal. Begitu juga dengan Meti. Tapi gadis itu selalu merengek ingin menjadi istrinya. Itu yang membuat Alva gerah.


Yang Alva heran, mengapa mami dan papinya bahkan orang tua Meti mengabulkan keinginan Meti. Padahal bagi mami dan papinya, Meti sudah dianggap jadi putri kecilnya. Gadis itu sangat betah di rumahnya bersama mami. Bahkan oang tuanya menyediakan kamar untuknya.


Kenapa Meti harus menjadi mantunya mami, sih.


Gedek banget Alva dalam hatinya.


"Kapan kalian akan dinikahkan?" tanya Glen di sela tawanya yang paling seru.


"Asem. Ngga langsung nikah, 'kali," sentak Alva ketus.


"Lo bisa di kira jadi sugar dadynya," ejek Reno dengan tawanya yang berderai derai mengingat selisih umur mereka yang cukup jauh.


Mendengar itu, gelak tawa pun ngga pernah bisa usai memenuhi ruangan Kiano.


"Sialan, sialan," umpat Alva kesal.


Bahkan maminya mengancam akan menjadikan dirinya OB jika ngga menurut.

__ADS_1


Gila, anak tunggal bos besar jadi OB? Ngga akan pernah, tekatnya dalam hati. Emosinya sudah ditekannya agar ngga meluap. Meluber kemana mana.


Ciiih, apa kata sahabat sahabat nya jika melihatnya dengan seragan OB, dengus Alva. Yang jelas pasti mereka akan sangat senang, dan menjadi hiburan terseru buat mereka.


*


*


*


"Jadi kamu beneran putus sama perawat ganteng itu?" tanya Aruna ketika mereka tinggal berdua di ruangannya. Pemeriksaan pasien pun sudah selesai.


"Iya, dokter. Januar udah kesinggung," curhat suster Uci sedih.


"Kamu buat salah apa, sih, sampai ngga termaafkan," tanya Aruna penasaran. Dia sungguh ngga ngerti apa yang membuat susternya sampai patah hati. Di tambah Aruna juga belum pernah bertemu dengan perawat laki laki itu yang namanya saja baru sekarang dia tau.


Suster Uci menghela nafas berat.


"Waktu itu saya diajak mas Reno jalan jalan dengan mobil barunya. Trus saya rekam. Trus saya upload. Januar marah."


Alis Aruna sampai bertaut karena heran.


"Masa karena itu aja marah. Berarti Januar ngga dewasa, dong," celanya membuat Suster Uci mencebikkan bibirnya.


"Bukan karena itu aja, dokter," sanggah Suster Uci cepat.


"Ada lagi?" Aruna mengerutkan keningnya.


Tanpa sadar Aruna terkikik mendengar pengakuan jujur suster Uci.


"Dokter malah ketawa," kesal suster Uci.


"Lagian kenapa kamu sampai ngga mikir waktu upload," tukas Aruna di sela tawa kecilnya.


"Saya telanjur senang, dokter. Mas Reno gitu loh nyamperin saya," ucap Suster Uci bangga.


Makan tuh Reno, hina Aruna membatin. Dia ngga memberi tanggapan lagi tapi malah menambah interval tawanya.


"Jadi sekarang beneran udah ngga ada harapan?" tanya Aruna beberapa menit kemudian, setelah puas dengan tawanya.


"Saya, sih, masih suka lihat lihat Januar..Tapi Januar udah cuek. Katanya Januar lagi dekat dengan bidan Rumi," cerita suster Uci lagi.


Aruna manggut mamggut.


"Ya, udah. Sabar. Semoga nanti ada perawat laki laki yang baru lagi," kata Aruna membujuk.


"Dokter, gimana kalo saya ikut dokter pindah. Di Jakarta pasti banyak perawat sama dokter dokter laki laki yang keren keren. Siapa tau ada yang kecantol sama saya," pinta suster Uci penuh harap.


Aruna terdiam.


"Orang tua kamu gimana?" Aruna balik bertanya.

__ADS_1


"Ngga pa pa mereka dokter..Yang penting saya cepat dapat jodoh," katanya kemudian terkikik. Begitu pun Aruna yang mendengarnya.


"Nanti coba saya ngomong sama dokter Burhan ya," katanya memberi sedikit harapan.


"Horee......, makasih dokter," sambut Suster Uci kegirangan.


"Tapi kalo ngga diijinkan dokter Burhan, kamu jangan sedih, ya," kata Aruna agak ngga enak melihat reaksi bahagia Suster Uci.


"Ngga apa, dokter..Dokter Aruna udah mau bantu ngomong ke dokter Burhan aja, saya udah senang," kata Suster Uci tulus.


Aruna tersenyum sambil.menepuk nepuk bahu Suster Uci lembut. Aruna akan meminta tolong pada kakek Kiano agar berbicara dengan dokter Burhan. Pasti lebih joss. Memikir sampai ke sana membuat Aruna melengkungkan bibirnya dengan hati senang.


"Oh iya, dokter udah belah duren ya?" tanya Suster Uci penuh semangat mengganti topik.


Mulai kepo, kan, batin Aruna kesal. Tadi sedih, sekarang udah menguap berganti dengan sifat kepo biasanya.


Aruna kagum dengan sifat pancaroba Suster Uci.


"Ya udah lah. Kan udah jadi suaminya," jawab Aruna malas.


"Cie cieee.... Berapa ronde dokter?" lagi Suster Uci bertanya dengan tatapan usilnya.


PUK


"Sakit, dokter," ringis Suster Uci pura pura, kemudian keluarlah suara tawanya.


"Rasain," tukas Aruna setelah memukul pelan kepala susternya dengan pulpen.


"Oh iya, dokter..Dokter Farel udah ngga di sini lagi. Dia pindah ke Singapura," kata Suster Uci membuat Aruna kaget.


"Kok, ke Singapura?"


"Rumah sakit kita kerja sama dengan rumah sakit di sana. Dokter Farel jadi direktur di sana," jelas Suster Uci bangga.


Aruna tersenyum senang.


Syukurlah, batinnya. Masalah dengan Kiano selesai. Rupanya Kiano belum tau tentang kepindahan Farel.


"Rumah sakit jadi sepi dari candaan dokter Farel. Dokter Aruna juga nanti mau pindah," kata Suster Uci sedih.


Iya, dokter Farel selalu membuat suasana rumah sakit menjadi hangat dengan candaan candaannya, batin Aruna setuju.


Biasanya jam.jam.begini dokter Farel akan mengganggunya. Membuatnya tersenyum.


Semoga kamu tambah sukses dan bahagia ya, harap Aruna dalam hati.


Selama dia berdinas di rumah sakit ini, dokter Farel sudah menjadi teman yang baik untuknya. Anak pemilik rumah sakit yang ngga sombong, dan mau berbaur ramah dengan kalangan perawat dan OB.


"Pernikahannya juga berlangsung di sana," tambah Suster Uci lagi.


Aruna hanya ber oh dalam hati. Mengingat kekasih dokter Farel yang selalu judes dengannya.

__ADS_1


__ADS_2