Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Tentang Arga


__ADS_3

Regan menghentikan mobilnya bentar di dekat toko bunga. Dia akan memesan rangkaian bunga besar untuk acara pesta syukuran Kiano dan Aruna.


Tapi mata elangnya menangkap bayangan Arga yang baru saja keluar dari toko itu dengan seikat mawar putih.


Lagi? batinnya getir.


Regan membatalkan niatnya dan memilih mengikuti Arga yang kini sudah melaju dengan mobilnya.


Regan tau Arga akan menemui kekasihnya.


Regan sengaja memarkirkan mobilnya di belakang mobil Arga setelah laki laki itu memasuki sebuah kawasan pemakanman yang cukup asri dan terawat. Dia pun keluar dari mobil dan menyalakan rokoknya sambil duduk di kap mobilnya. Dia akan menunggu ritual Arga sampai selesai.


Sampai rokok ketiga Regan tinggal separuh, barulah dia melihat sahabatnya itu melangkah mendekatinya.


"Udah lama?" kekehnya pelan sambil mengambil sebatang rokok Regan dan menyulutnya.


"Ini rokok ketiga," balas Regan juga terkekeh setelah menghembuskan asap rokoknya.


"Gue bilang sama Aya kalo sahabat gue si Kiano mau punya baby," ungkap Arga setelah keduanya lama terdiam.


Regan ngga menyahut, menatap jauh ke depan mereka.


"Gue ngga tau sampai kapan bisa move on," jujur Arga setelah menghembuskan asap rokoknya kuat kuat.


Regan ngga juga berkomentar. Dia bukan Glen atau Reno atau Alva yang pasti akan memgomeli Arga tanpa henti.


Kalau memamg Arga belum bisa move on, biarkan saja. Mungkin dia masih butuh waktu yang ngga tau sampai kapan. Dia ngga akan menghakimi.


Lima tahun berlalu begitu saja. Tapi rutinitas Arga mengunjungi makam Ayana Chalisa tak pernah hilang.


Padahal mereka hanya bersama selama dua tahun. Tapi dua tahun itu terasa tertanam sangat dalam di hati Arga.

__ADS_1


"Tadi gue mau pesan bunga buat Kiano, telanjur lihat lo malah lupa," jelas Regan lalu menginjak sisa rokoknya di tanah.


"Sekarang belum pesan?" Arga balik bertanya


"Belum," balas Regan dengan cengirannya.


"Oke, gue pesankan ya, sekalian gue juga," ucap Arga lalu mengetikkan pesan di ponselnya.


"Lo sering pesan bunga di sana?" tanya Regan kepo.


"Iya. Perusahaan menakai jasanya juga jika mengirimkan karangan bunga ke klien atau kemana aja," jelasnya lagi dengan fokus ke arah ponselnya.


"Oh "


"Selesai."


"Nanti sore jam empatan akan dikirim ke rumah kakek Suryo," lanjut Arga lagi yang diangguki Regan.


"Ayana pasti senang lihat lo setia padanya," ucap Regan membuat Arga hanya tersenyum tipis kemudian keduanya sama sama melihat langit.


Regan melirik wajah hampa Arga sebentar. Ayana adalah teman kuliah satu jurusan dengan Arga. Dari awal masuk kuliah, Arga yang sudah suka langsung menembaknya. Ayana pun sangat senang menyambutnya. Mereka menjadi sepasang kekasih, bahkan Ayana sering ikut dalam acara Arga bersama sahabat sahabatnya.


Tapi delapan belas bulan kemudian Ayana tiba tiba pingsan dan dokter memvonisnya kanker otak stadium lanjut. Itu yang mengejutkan. Ayana yang ceria dan selalu sehat ternyata ngga sadar kalo penyakit itu sudah menggerogotinya sejak lama.


Hanya sesekali saja gadis itu mengeluh pusing, tapi ngga mau dibawa ke dokter. Hanya meminun obat ringan pereda sakit saja yang di jual bebas di apotek. Arga pun ngga memaksa, begitu juga keluarganya. Mungkin itu yang disesali Arga hingga sekarang.


Selama enam bulan, Arga menjaga Ayana sambil kuliah. Ayana memarahinya saat dia memutuskan cuti demi bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk merawatnya.


Sampai akhirnya semua dokter angkat tangan, karena memang sudah sangat terlambat. Kanker otak Ayana ternyata bersifat silent dan ganas.


Kalo saja ngga ada Regan dan sahabat sahabatnya yang lain yang selalu menemani dan menghiburnya, Arga pasti sudah hancur terpuruk dalam kesedihannya sampai sekarang.

__ADS_1


Karena itu Regan hanya membiarkan Arga mengenang Ayananya. Gadis itu terlalu baik, mungkin karena iru dipanggil pemilik-Nya lebih cepat.


Selama memgenal Ayana, Regan pun tau akan sulit bagi Arga untuk memcari penggantinya. Gadis itu cantik, baik, pintar dan tangannya sangat ringan menolong orang lain.


Jika Arga seperti Reno, Glen atau Alva, ngga akan sulit untuk move on dan mencari penggantimya.


"Papi kemarin malam mengenalkanku pada salah satu putri kolega bisnisnya," cetus Arga setelah keduanya terdiam.


Setelah Kiano dan Aruna pulang, Arga dipanggil papinya dan meninggalkan mereka yang masih saja mentertawakan Alva.


"Pantasan lo ngga balik balik."


"Ya. Bahkan nanti malam papi memintaku membawanya ke rumah Kiano," ucap Arga datar.


"Tapi gue tolak," sambungnya lagi.


"Dia kerja di perusahaan orang tuanya?"


Arga menggeleng


"Dia dosen."


"Oh."


Arga membuang sisa rokoknya di tanah.


"Papi minta aku nemuin dia besok pas jam makan siang di kampusnya," lanjut Arga gerah. Dia terlihat malas sekali. Papinya sangat memaksanya.


Regan tersenyun miring mendengarnya.


"Lo nemennin gue ya. Siapa tau lo kecantol sama mahasiswi mahasiswi di sana," pinta Arga ringan.

__ADS_1


"Kita bisa dikira sugar dady," jawab Regan asal.


Keduanya pun sama sama saling melengkungkan sedikit sudut bibir ke atas.


__ADS_2