Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Jodo, Pertemua, sudah diatur


__ADS_3

"Ma," panggil Regan ketika dia membuka pintu ruangan kerja mamanya di butik baju muslim yang belum lama diresmikan.


Tiga orang langsung menatapnya dengan tatapan berbeda.


DEG


Regan menatap lurus pada gadis muda berkerudung yang duduk diapit dua wanita paruh baya yang masih sangat cantik walau sudah menua. Yang satu jelas mamanya, sedangkan yang lain pastilah tamu.


Setelah isteri kedua papanya berhasil diusir, Regan kemudian mengikuti meeting pengukuhannya sebagai CEO. Tentunya kabar tentang betapa piawainya Regan dalam mengelola perusahaan mamanya dan perusahaannya bersama teman temannya yang sedang meroket sudah berhembus kencang.


Mereka tentu sangat mempercayai pilihan papa Regan yang memberikan kursi CEO pada putra dari istri pertamanya. Pewaris sah yang diakui pendirinya, kakek dan nenek Regan.


*M*eeting pun selesai satu jam sebelum jadwal makan siang.


Regan mampir di restoran kesukaan mamanya, dan membawa beberapa paper bag dan sudah dibagikan ke sekuriti dan karyawan yang ditemuinya di luar tadi.


Terjadi cukup kehebohan saat pembagian jatah makan siang gratis dari putra bosnya yang sangat tampan dan ramah.


Bagi karyawan baik laki maupun perempuan, Regan sangat favorit dijadikan pacar ataupun calon mantu. Mereka memujanya. Regan ngga sombong dan selalu memperlakukan karyawan mamanya sangat baik.


Lebih sering Regan mengirimkan jatah makan siang yang mahal dan berkelas tanpa kehadirannya karena dirinya sangat sibuk.


Makanya saat Regan bisa hadir, penyambutan untuknya sangat luar biasa.


Dia perlu menemui mamanya agar hatinya tenang setelah sempat terbakar akibat perkatan perkataan isteri kedua papanya.


Tapi yang di temuinya malah si cantik berkerudung yang sempat dinakalinya.


Senyum pun terkembang tipis di wajah Regan. Baru kali ini dia senang saat bertemu dengan seorang perempuan.


"Sayang," sahut mamanya sambil menghampirinya dan membantu membawakan dua buah paper bag yang dibawa Regan.


Sekertaris mamanya mengatakan kalo di ruang beliau ada dua orang tamu. Karena itu Regan membawa dua paper bag yang masing masing berisikan dua tempat plastik.yang berisi bebek.


"Bebek Pak Sartono, ya," ucap mamaya senang saat melihat isi paper bag.


"Putranya, bu Asri?" tanya wanita berkerudung yang seumuran dengan mamanya.


Regan pun menyatukan kedua telapak tangannya di dada sambil mengangguk sopan.


Dia tau ada beberapa wanita berkerudung yang ngga mau bersalaman dengan yang bukan muhrimnya.


Wanita itu pun tersenyum senang melihat adab kesopanan Regan.


"Iya, ini putra pertama saya, Regan," ucap mamanya mengenalkan sambil menarik Regan agar duduk di sanpingnya.


"Santum sekali putranya, bu. Oh iya, ini putri saya, Dinda," sahut wanita itu balas mengenalkan.

__ADS_1


Kedua pasang mata saling bertatapan. Regan dapat menangkap riak protes di mata Dinda saat mamanya sendiri memuji dirinya.


Seperti dengan mamanya, Regan pun melakukn hal.yang sama dengan menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, yang juga dibalas Dinda.


"Ini Umi Salamah, teman pengajian mama, sayang. Umi Salamah sudah lama bergerak.di bidang fashion baju muslim," jelas mamanya membuat Regan menganggukkan kepalanya.


"Gimana kalo kita makan siang dulu. Kebiasaan anak saya selalu membawa banyak makanan kalo ke butik saya," ucap mama Regan lagi kemudian membuka dan membagikan isi paper bag.


"Barakallah," puji mama Dinda dengan bibir penuh senyum. Kemudian menerima uluran tempat plastik dari tangan mama Regan.


"Ini makanan favorit saya bu," kekeh mama Regan senang.


"Anak yang sangat menyayangi mamanya," puji Umi Salamah lagi sambil memberikan tempat plastik itu pada putrinya Dinda.


Regan memberikan botol minuman kemasan pada mamanya dan kedua tamunya.


Saat memberikannya kepada Dinda, tangan mereka saling bersentuhan. Tanpa setahu mama mama mereka, Regan menowel salah satu jari Dinda dengan jari telunjuknya.


Dinda langsung melirik ngga enak pada mamanya, dengan jantung berdebar kencang. Wajahnya pun merona.


Tanpa rasa bersalah, dan seolah ngga teejadi apa apa, Regan pun membuka tutup botolnya dan mulai meminum air kemasannya.


"Bebeknya lembut ya, bu. Enak lagi. Ya, kan, Dinda?" puji Umi Salamah sambil menatap putrinya yang entah mengapa hanya menunduk dan diam saja.


"Ya, ma. Enak banget," ucapnya pelan.


Mamanya tersenyum senang karena kedua tamunya sangat menyukainya.


Sudah berapa lama ya, ngga ketemu? batin Regan mencoba mengingat.


Sepertinya cukup lama juga, batinnya lagi.


Gadis ini sempat terlupakan, karena masalah keluarganya dan membuat Regan harus berkonstrasi penuh atas perusahaan keluarga yang dipimpinnya.


Regan kembali menelisik penampilan gadis itu.


Kenapa dia terlihat lebih cantik? batinnya kemudian mengalihkan pandangannya pada bebeknya saat melihat ekor mata mamanya seperti akan melihatnya.


Dinda tanpa sadar menarik nafs lega karena laki laki di depannya sudah ngga menatapnya lagi.


Gimana dia bisa makan dengan tenang jika pandangan laki laki di depannya tersorot tajam dan nakal ke arahnya.


"Dinda bentar lagi lulus kuliah, ya?" tanya mama ketika setelah menyudahi makanannya.


"Iya, tante. Satu semester lagi," jawabnya sopan.


"Dia mahasiswinya Qonita, ma," timbrung Regan membuat kedua wanita cantik walau sudah berusia di atas empat puluh tahun itu menatapnya.

__ADS_1


"Qonita?" tanya mama berusaha mengingat.


"Kalian sudah kenal?" tanya Umi Salamah mulai mengerti kenapa putrinya terlihat sungkan. Sekarang dia mulai menatap putrinya yang terlihat salah tingkah(?).


"Iya ma, Qonita calon istri Arga," sahut Regan kemudian berpaling pada Umi Salamah.


"Ketemu sekali wakti saya nemenin Arga menemui calon istrinya di kampus, tante," jelas Regan membuat Dinda menatapnya penuh makna.


"Ooo," balas kedua wanita itu berbarengan.


"Jadi Arga akan menyusul Alva?" senyum mamanya mengembang, mengingat polah kedua sahabat putranya.


"Sepertinya begitu, ma," jawab Regan santai sambil menyudahi makannya.


"Kalo nak Regan, kapan akan menikah?" goda mama Dinda sambil melirik putrinya yang terlihat agak kaget memdengar ucapannya.


"Ngga tau saya, Umi. Tiap mau dijodohkan, nolak terus," kekeh mama Regan sambil melirik Dinda yang hanya menunduk.


"Kalo Dinda apakah sudah dikhitbah?" tanya mama dengan sorot mata serius.


Feelingnya mengatakan ada sesuatu diantara putranya dan putri teman pengajiannya.


"Belum, bu. Memang sudah ada yang melamar. Tapi kata Dinda tunggu selesai dulu," jawab Umi Salamah penuh makna. Seakan ucapannya tadi adalah umpan yang siap untuk diterima oleh mama Regan.


"Wah, wah, kalo begitu, kita jodohkan saja mereka berdua. Tapi anak saya ilmu agamanya terlalu dangkal," sambut mama Regan terus terang membuat Dinda kaget. Untung dia sudah menelan suapan terakhirnya.


Sementara Regan menaikkan sudut bibirnya ke atas sambil menepuk lembut lengan mamanya.


Cukup ma, kasian anak teman mama, jadi salah tingkah begitu, batin Regan yang memperhatikan dengan nakal duduk Dinda yang mulai mgga tenang.


"Nanti bisa belajar sama papanya Dinda. Gimana Regan?" sahut mama Dinda diplomatis membuat Dinda menatap mamanya ngga percaya.


Dia nakal dan kurang ajar, ma, batin Dinda ngga terima. Tapi saat dilirikmya Regan, laki laki itu tampak tenang seakan yang dikatakan mamanya bukan suatu hal yang besar.


"Kalo Dinda ngga menolak, saya mau kok, tante."


Dinda langsung spechless.


"Wow, Regan. Kamu serius, sayang?" tanya mamanya takjub. Ngga pernah Regan beraksi positif begini saat guyonan perjodohan.


"Serius, ma," jawab Regan ringan sambil melemparkan senyumnya pada Dinda yang tampak bengong menatapnya karena jawabannya barusan.


"Deal ya," canda mama Dinda dengan wajah sumringah.


Dari awal kedatangan Regan, beliau pun sudah tertarik melihat kesopanan putra temannya yang baru bisa ditemuinya sekarang. Selebihnya beliau hanya mendengarkan cerita tentang kebaikan Regan dari sahabatnya saja.


"Dinda, tante jamin, Regan ini setia loh, juga pekerja keras," balas mama Regan berpromosi kemudian tersenyum lebar.

__ADS_1


Regan hanya tertawa mendengar pujian mamanya. Dia melirik Dinda yang hanya diam sambil menunduk dalam dalam dengan wajah sangat merah.


Malu atau senang ya, batin Regan mencoba menebak.


__ADS_2