Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Menyesal?


__ADS_3

Rain menatap jam di ponselnya. Sudah hampir se jam dia menangis. Dia juga melihat banyak sekali panggilan ngga terjawab dari mamanya dan Dinda.


Pesan pesan yang mananyakan keberadaannya pun ada di kotak pesan.


Mereka memang janjian akan merampungkan tugas seminar mereka.


Rain memutuskan menelpon mamanya.


"Kamu dimana sayang?" tanya mamanya khawatir, karena semalaman ngga mendengar kabarnya.


"Maaf, ma. Rain ada kerjaan, trus ketiduran di rumah teman," dustanya terpaksa. Rain pun menggigit bibir bawahnya, menahan tangisnya yang ingin meledak.


Dia butuh mamanya buat bercerita, tapi dia juga takut membuat mamanya *shock.


"Oh, ya, udah kalo begitu, sayang. Kapan kamu ke rumah sakit*?""


'"Nanti malam, ya, ma. Kerjaan Rain sedikit lagi selesai," dustanya lagi.


"Jangan terlalu capek, ya, sayang," ucap mamanya sangat lembut.


"Iya, ma. Rain tutup dulu."


Tanpa menunggu jawaban mamanya, Rain menutup telponnya dan air matanya yang sejak tadi ditahan meluber lagi.


Kemudian Rain meraih pil yang diberikan Reno. Menatapnya lama.


Haruskah?


Tapi Rain juga takut kalo nanti hamil dan harus menanggungnya sendiri. Apalagi tadi Reno mengatakan ngga menginginkan anak.

__ADS_1


Papanya juga baru saja sembuh. Kalo dia ketahuan hamil tanpa suami, mungkin papanya akan sakit lagi. Mungkin mamanya juga bisa ikutan sakit karena memikirkannya.


Rain menatap lagi pil itu dengan mata basah. Kemudian dengan tangan bergetar Rain memasukkan obat itu ke dalam mulutnya. Dan mengambil gelas yang berisi air mineral dan langsung meneguknya sampai habis.


Semoga belum terlambat, harapnya dalam hati.


Rain meraih mangkok kecil yang berisi sop.


Tanpa nasi, Rain memakannya. Rasanya tenggorokannya susah sekali untuk menelan.


Hanya dua sendok yang sanggup dia telan.


Rain pun membuka plastik berisi salep antibiotik. Lalu mengoleskan pada sekujur tubuhnya yang penuh luka. Kembali air mata Rain menetes.


*


*


*


Pengawalnya memberitaunya kalo Rain sudah pergi sejam yang lalu.


Ranjang itu masih berantakan, sisa pergulatan mereka semalam. Tepatnya, hanya dirinya sendiri, sedangkan Rain hanya diam dan menangis.


Matamya tertuju pada piring kecil, tempat dia meletakkan pil kb milik sepupumya.


Kosong.


Dia menelannya?

__ADS_1


Reno menghela nafas lega.


Syukurlah, batinnya lagi.


Malam itu Reno pulang sebentar saat Rain sudah tertidur. Atau mungkin pingsan.


Dia sengaja mampir ke rumah sepupunya yang memiliki stok pil pencegah kehamilan.


Kebetulan sekali dia mendengar sepupunya akan melakukan program kehamilan dari dokter untuk anak kedua mereka. Jadi obat kb nya ngga diperlukan lagi dab akan dibuangnya.


Diam diam Reno mengambil satu saja pil itu. Hanya saja, Reno saat itu agak bingung, ada dua botol kecil yang berukuran sama tapi dengan warna pil yang berbeda.


Dengan iseng Reno menggunakan telunjuknya berhitung hingga lima puluh, pada dua botol itu secara bergantian. Akhirnya tepat dihitungan terakhir tangannya berada, botol yang dipegangnya, itulah yang dia pilih.


Reno masih memegang botol itu sambil mencoba mencari keterangan yang bisa dia mengerti pada pinggiran botol itu. Tapi hanya berisikan detil nama bahan bahan aneh pembuat obat yang ngga dia mengerti.


Setelah memikir berulang kali, akhirnya dia mengambil sebutir pil dari botol tersebut dengan harapan, dia ngga salah. Dan memyimpannya sebelum pergi diam diam, keluar dari kamar sepupunya.


Reno menarik nafas panjang melihat sepihan kertas cek yang ada di lantai dalam keadaan acak. Cek yang diberikannya ternyata dirobek sampai menjadi potongan yang kecil kecil.


Reno pun menatap nasi, buah, puding yang masih utuh. Hanya sopnya saja yang berkurang sedikit.


Dia terduduk di atas tempat tidur sambil menatap percikan darah yang cukup banyak.


Reno menggigil, apa dia sudah berbuat terlalu kejam?


Padahal awalnya dia hanya ingin memberi sedikit pelajaran pada Rain karena sudah memphp juniornya.


Sekarang entah mengapa dia menjadi khawatir akan keadaan Rain.

__ADS_1


__ADS_2