
Arga ternyata ngga bisa menghabiskan makanannya. Dia pun segera keluar menyusul Qonita. Tapi begtu dia menginjakkan kaki di luar resto, dia melihat Qonita sudah menaiki taksi dan berlalu dari situ.
Arga terdiam. Ingin menyusul tapi rasanya enggan. Bukannya dia ingin menjadi laki laki brengsek di mata Qonita?
Setelah membuang nafas berkali kali Arga berjalan ke arah mobilnya dan menjalankannya cukup kencang sampai mobil yang tadi dinaeki Qonita terlihat.
Dia pun membuntutui mobil itu. Ternyata mobil itu ngga mengantarkannya ke kampus. Tapi ke depan sebuah kafe.
Pasti masih lapar, ya, celanya dalam hati sambil tersenyum.
Tapi senyumnya memudar ketika melihat seorang laki laki menghampiri Qonita. Mereka terlihat akrab. Dan yang membuat darah Arga seakan tersirap Qonita dengan manjanya memeluk laki laki itu yang membalasnya dengan tertawa.
Siapa? batin Arga terusik. Tapi dia meneruskan menjalankan mobilnya menuju kantornya dengan banyak tanda tanya.
Harusnya dia lega, tapi mengapa seperti ada perasaan yang mengganjal.
*
*
__ADS_1
*
Meeting mereka pun berakhir juga dengan cukup alot. Ketiadaan Kiano dan Regan membuat mereka benar benar kewalahan. Arga yang biasanya sigap dan tanggap menjawab pertanyaan para kliennya terlihat kurang fokus. Banyak pertanyaan yang diucapkan berulang ulang kali baru Arga mengerti maksud yang ditanyakan. Walaupun dia bisa memberikan jawaban yang cukup memuaskan para klien, Glen merasa Arga berada di titik terendahnya.
Apalagi Reno, benar benar ngga bisa diharapkan. Bahkan tadi dia beberapa kali salah menampilkan file di laptopnya.
Glen benar benar gusar. Alva pun sama seperti Kiano dan Regan, sibuk mengurusi perusahaan keluarga dan pernak pernik pernikahannya.
Ngga ada orang yang bisa membantunya. Lagi lagi Glen mengasihani otaknya yang harus berpikir sangat keras sampai dia merasa amat pusing.
"Kalian kenapa, sih? Terutama lo, Ga. Seperti bukan lo aja," semprot Glen setelah para kliennya meninggalkan ruang meeting.
"Sorry," ucap Arga sambil mengusap kuat wajahnya. Dia akui dirinya salah karena ngga bisa berkonsentrasi di meeting tadi. Hampir saja para klien marah dan merasa ngga puas.
"Lo juga Ren. Dari siang tadi pas gue antar lo makan siang ampe sekarang, muka lo ditekuk aja," semprot Glen lagi sambil berkacak pinggang. Kepalanya digeleng gelengkannya berulang kali.
"Sorry," jawab Reno sambil menggaruk kepalanya yang ngga gatal.
"Kalian itu kalo ada masalah pribadi jangan dibawa bawa saat meeting," omel Glen masih kesal.
__ADS_1
Kemudian tanpa menunggu jawaban keduanya dia pun langsung bergegas keluar dari ruang meeting yang membuat pikirannya penuh dan siap meledak.
Setelah Glen berlalu pergi, Reno menatap Arga heran. Kalo dia sudah biasa ngga konsentrasi, tapi tadi Arga benar benar di luar nalarnya.
"Lo belum bersihin kuping sampai ditanya berulang kali baru ngeh?" ledek Reno mencela.
"Lo sendiri udah burem tu mata sampai salah baca file," ngga kalah sarkas Arga balas meledek.
Kemudian keduanya kompak tertawa. Mentertawakan kebodohan mereka tadi yang sudah melampau batas di ruang meeting.
"Biar aja sesekali Glen berpikir keras," ejek Reno dalam tawanya.
"Gue setuju," sahut Arga dengan tawa yang berderai derai.
"Ternyata dia cukup pintar juga," puji Reno sekaligus mencela, masih dalam gelak tawanya. Bahkan dia menyandarkan bokongnya di pinggiran meja.
Beban pikirannya sedikit berkurang dengan mengingat apa yang sudah dilakukan Glen.
"Iya, ngga nyangka," balas Arga masih tergelak gelak mengingat betapa Glen tadi tampil cukup memukau.
__ADS_1
Pasti dia memaksa otaknya sangat keras, batin Arga bersama tawanya yang berderai derai.