Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Reno Yang Mundur


__ADS_3

"Susternya mana?" tanya Kiano begitu sampai di depan Aruna dan Reno. Agak herqn aja, biasanya sang suster menemani istrinya saat dia datang menjemput.


"Dijemput pacarnya barusan," jelas Reno.


"Ok, Aruna, karena Kiano udah datang, gue cabut ya," lanjutnya pamit sambil menepuk bahu sahabatnya.


"Lo beneran rela ngelepas tuh suster," kekeh Kiano membuat Reno ngakak.


"Gue deketin tuh suster, kan, buat cari info tentang lo yang naksir Aruna," bisiknya tambah tergelak.


"Dasar lo," makinya juga berbisik di sela tawanya.


Tentu saja mereka ngga akan membiarkan Aruna tau. Bisa nelangsa nanti malamnya Kiano karena ambekan Aruna.


"Hati hati," ucap Aruna.


"Thank's ya," kata Kiano tulus.


"Sama sama," jawab Reno kemudian melangkah menuju mobilnya.


Sambil merangkul Aruna, mereka melambaikan tangannya pada Reno.


"Apa yang kalian bicarakan tadi? Kenapa harus berbisik?" tanya Aruna ingin tau begitu mobil Reno sudah menjauh.


"Hanya obrolan sesama lelaki," balas Kiano santai, tapi menyebalkan bagi Aruna.


Aruna mendengus kesal karena Kiano ngga mau menjawab secara jelas.


"Tadi baik baik aja, kan?" tanya Kiano sambil mengamati Aruna dengan serius. Dia mengelus rambut istrinya penuh sayang.


"Kan, tadi udah jawab pesan tiap jam," sungut Aruna membuat senyum Kiano melebar.


Tadi di sela sela kesibukannya, Kiano terus saja mengirimkannya pesan tiap jarum jam yang panjang berpindah ke angka dua belas.


Aruna senang diperhatikan Kiano seperti itu, tapi dia malu menampakkannya.


"Ayo kita pulang," kata Kiano sambil melangkah dengan tetap merangkul bahu Aruna.


Melihat Arunanya baik baik saja membuat hatinya cukup tenang.

__ADS_1


Mungkin benar kata papinya, beberapa hari ke depan keadaan akan aman.


"Jadinya mereka pacaran?" tanya Kiano kepo sambil menghidupkan mesin mobilnya.


"Mungkin. Tapi sikap Reno bisa membuat mereka salah paham lagi," kekeh Aruna membuat Kiano terkekeh juga.


"Reno memang perayu.tingkat dewa. Tapi mungkin asisten mu itu mirip dengan adik perempuannya. Jadi Kiano bisa langsung akrab," jelas Kiano agar Aruna ngga salah paham dan menuduh temannya macam macam. Nanti akan berimbas dengan hubungan mereka juga.


"Tadi Reno juga udah ngomong gitu, yang."


Eh. Aruna langsng menutup mulutnya dan wajahnya terasa sangat panas sampai ke telinga. Dia keceplosan. Entah apa yang dia pikirkan, Aruna merutuki dirinya abis abisan akibat kecerobohannya dalam hati.


Apalagi Kiano menatapnya sangat dalam. Seakan ngga percaya dengan panggilan yang barusan Aruna ucapkan.


"Ngomong apa, sih tadi? Ulang," titah Kiano dengan senyum menggoda membuat Aruna tambah malu.


"Nggak," bantah Aruna cepat tanpa mau melihat wajah Kiano.


Kiano tersenyum lembut kemudian meraih dagu Aruna agar menghadapnya.


Wajah putih istrinya sudah sangat merah seperti kepiting rebus.


"Terimakasih sudah memanggiilku seperti tadi," kata Kiano lembut tambah membuat Aruna seperti terbakar wajahnya dan jantungnys semakin ngga menentu debarannya.


"Haah?" kaget Aruna akan permintaan mengerikan Kiano.


Kiano hanya membalasnya dengan tawa renyahnya sambil membayangkan nikmatnya pergulatan mereka nanti malam.


*


*


*


"Lo percaya kalo Claudia yang jadi dalangnya?" tanya Glen pada Alva yang menemaninya di bar.


Setelah perdebatannya tadi dengan Regan, Glen langsung merasa kesal dan menghabiskan waktunya dengan segelas alkohol.


"Jangan minum terlalu banyak," kata Alva mengingatkan.

__ADS_1


"Aku belum.menghabiskan separoh isi gelas ini," kekeh Glen sambil menggoyangkan gelasnya.


Alva pun terkekeh. Dia pun menyesap gelasnya kemudian.


"Lo segitunya tertarik dengan Claudia?" kekeh Alva mengejeknya membuat Glen tergelak.


"Ngga juga. Cuma penasaran," jawab Glen santai.


"Kalo dia memang dalangnya seperti yang Regan tuduhkan, lo.masih suka?" tanya Alva mulai serius.


Glen hanya membuang nafas kesal.


"Jangan karena perempuan kita bertengkar," kata Alva lagi.


Glen tertawa.


"Gue ngga sepicik itu," tandasnya kemudian menghabiskan minuman dalam gelasnya.


"Syukurlah," respon Alva cuek, juga ikut menghabiskan minuman di gelasnya.


"Apa perlu gue jadi intel buat ngawasi Claudia?" tawar Alva sambil menggoyangkan gelasnya. Tatapannya mengejek Glen.


"Gue belum sebucin itu," kekeh Glen menolak santai. Dia memang tertarik karena gadis itu sangat cantik..Hanya sekedar tertarik. Ngga lebih. Cuma.hatinya kesal karena Claudia sedikitpun ngga melirik dirinya. Dia juga ngga kalah gagah dari Kiano..Batinnya mendengus kesal.


"Gimana pernikahan lo?" tanya Glen saat keduanya mulai melangkah meniinggalkan bar.


Alva membuang nafas kesal.Kalo mami dan dady ngga mengancam akan mencabut semua fasilitas mewahnya, Alva pasti akan menolak memtah mentah.


"Lo takut hidup miskin," ejek Glen terkekeh. Dia sudah tau alasan Alva terpaksa menerima perjodohan ini.


Alva hanya mendengus kesal.


"Perusahaan kita juga bisa memberikan lo gaji yang tinggi," kata Glen memberikan solusi.


"Kurang buat gaya hidup.gue," sarkas Alva nembuat Glen kembali tergelak.


"Terserah lo lah," kekeh Glen


Alva hanya menggusar rambutnya dengan kasar.

__ADS_1


"Kita kita pasti bantu lo. Bilang aja mau lo apa," tantang Glen.


"Nanti gue pikirin," kata Alva sambil membuang mafas kasar.


__ADS_2