Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Jodoh?


__ADS_3

"Ada masalah?" tanya mama Regan setelah kedua tamunya meninggalkan ruangannya.


Instimg tajamnya sudah bereaksi sejak kedatangan Regan. Karena ada temannya yang berkunjung maka beliau menahan dirinya untuk bertanya.


"Ngga ada apa apa, ma," elak Regan sambil membaringkan kepalanya di pangkuannya mamanya.


Matanya terpejam saat mamanya mengusap rambut tebalnya.


Tadi hatinya memang panas saat meninggalkan kantor. Tapi sekaramg sudah terasa dingin menyegarkan.


Bertemu mamanya dan juga gadis itu yang ngga disangka sangka membawa kebaikan tersendiri padanya.


Mamanya menghela nafas, ngga mau memaksa.


"Kamu mau dijodohkan dengan putri teman mama tadi?" goda mama dengan senyum lebarnya. Mengalihkan pembicaraan. Beliau tau, Regan nantinya akan menceritakan sendiri tanpa diminta. Saat ini yang beliau lakukan hanyalah menenangkan hati putra kesayangannya.


Regan membuka matanya dan mengembangkan senyumnya.


"Apa ngga aneh laki laki sepertiku berjalan dengan perempuan berkerudung?" tanya Regan ringan.


"Ya enggaklah," kekeh mamanya.


"Apa ngga aneh kalo aku bawa dia ke club? Addduuuhh, sakit, ma," ringis Regan sambil mengusap lengannya yang dicubit mamanya dan mulai memerah warnanya.


"Kamu jangan asal membawa anak orang alim begitu ke tempat yang banyak maksiatnya," sahut mama dengan tawa yang berderai derai.


Regan jadi tertawa mendengarnya.


Iya, gadis itu sepertinya cukup alim. Tapi kenapa berteman dengan dua temannya yang mau jadi sugar baby? Masa dia juga mau jadi sugar baby? batin Regan diliputi tanda tanya.


"Coba pedekate dulu. Nanti kamu bisa jadi laki laki sholeh kalo sering bareng Dinda," ucap mamanya setelah tawanya usai.


Regan tertawa lagi kemudian memejamkam matanya.


Terbayang lagi di pikirannya wajah yang malu malu mencuri lirik menatapnya tadi.


Dia semakin cantik atau mataku yang mulai rusak, batin Regan merasa dadanya berdesir desir aneh saat membayangkan wajah Dinda.


Ngga ada yang bisa dilihat dari gadis itu, hanya wajah dan telapak tangannya. Beda dengan gadis gadis yang terang terangan mendekatinya. Segalanya seakan akan ingin diperlihatkan pada Regan.


Dengan status CEO muda dari perusahaan besar yang sudah melanglang sampai benua Eropa, jumlah followers nya pun tambah berlipat ganda.


Regan sesekali memposting foto dirinya yang pasti akan mendapatkan ribuan likes dan komentar. Walaupun Regan ngga pernah membalas komentar komentar itu.


Well, sangat mudah baginya mendapatkan gadis mana pun yang dia mau.

__ADS_1


Mungkin termasuk gadis yang berkerudung itu. Regan tau kalo gadis itu tertarik padanya. Terlihat dari sikap malu malu dan salah tingkahnya.


Kalo benar dia mau jadi sugar baby, Regan akan dengan senang hati menampungnya.


"Mama sudah dua kali bertemu Dinda. Anaknya baik. Mama suka," ucapnya sambil matanya menerawang jauh. Terlalu banyak yang beliau pikirkan akhir akhir ini.


"Mama jadi merasa bersalah dengan kamu, karena ngga memberikan pengetahuan agama yamg cukup," sambungnya getir.


"Supaya kamu bisa jadi imam yang baik," lanjutnya lagi.


"Aku sudah cukup baik, kok, ma," jawab Regan cepat agar mamanya ngga terlalu larut dengan perasaan sedihnya.


"Ngaji aja kamu belum khatam. Shalat jarang jarang," cela mamanya kemudian tersenyum lebar.


Regan tertawa mendengarnya. Apa yang dikatakan mamanya memang benar.


Dia mengusap lagi kepala putranya yang matanya masih terpejam.


"Kerjaan kamu gimana? Apa papa kamu ikut ngatur ngatur?" tanya mamanya ingin tau. Tersirat nada kekesalan di sana.


"Engga. Kayaknya terserah aku. Papa malah belum ke perusahaan lagi."


"Syukurlah," jawab mamanya lega. Jika saja mantan suaminya mengintimidasi putra mereka, beliau akan bertindak dengan menarik putranya dari perusahaan mantan suaminya.


Ngga peduli kalo itu merupakan perusahaan besar dan mertuanya keukeh mengatakan hanya Regan pewaris satu satunya. Beliau ngga akan membiarkan putranya tertekan dan terkekang.


Regan memyadari sepertinya papanya sedang berusaha mengambil hatinya sekarang. Selama beberapa hari bekerja, segala keputusan meeting, Reganlah yang menentukan. Tidak ada interupsi dari papanya. Klien dan pemegang saham lainnya juga setuju dengan pendapatnya.


"Sesekali lihatlah adikmu. Dia cukup kesulitan," tawa mamanya membuat Regan membuka matanya dan ikut tertawa kecil.


Adiknya yang selama ini menjadi wakilnya sewaktu di perusahaan mamanya pasti akan sibuk mengomel tanpa henti karena dihadiahi setumpuk pekerjaan yang ngga terduga.


Karena selama ini, Aira menjadi wakilnya hanya sekadar status saja. Reganlah yang mengerjakan semuanya. Dia membebaskan Aira menikmati hidupnya bersama teman temannya.


Tapi kini dengan sangat mendadak, dia harus memghandle pekerjaan pekerjaan besar dan pasti waktu mainnya sudah banyak berkurang.


"Iya, ma."


Mamanya pun kembali tertawa bersama dengan dirinya.


*


*


*

__ADS_1


"Dapat salam lo dari Dinda," ucap Arga begitu melihat Regan di lobi kantor.


Setelah beberapa menit beristirahat di ruangan mamanya, Regan memutuskan pergi ke perusahaan miliknya bersama teman temannya sebentar, sebelum mengunjungi adiknya.


"Gue barusan ketemu dia," jawab Regan ringan.


"Kapan?" tanya Arga ngga percaya. Ini info sangat pe ting buatnya. Awalnya ingin membuat surprise untuk Regan, malah dia yang kecolongan.


Keduanya kini memasuki lift diiringi tatapan memuja pegawai pegawai perempuan di kantornya.


"Di butik mama," balas Regan masih santuy.


"Kok bisa?" kejar Arga penasaran. Benar benar ngga disangka, akan semudah itu pertemuan Regan dengan Dinda.


"Mama mama kita rupanya berteman," kekeh Regan.


"Ooo... ya ya. Jodoh rupanya ngga jauh juga, ya." Arga juga ikut mengekeh.


Ngga perlu pusimg pusing mencari, malah merapat sendiri.


"Hubungan Lo dengan Qonita gimana?" tanya Regan beberapa lama kemudian.


"Dia kayaknya udah punya pacar."


"Bagus, kan, lo tinggal putusin aja," saran Regan tanpa beban.


Arga ngga menjawab membuat kening Regan berkerut.


"Jangan bilang lo udah mulai move on," ejeknya menggoda.


Arga tertawa, tapi terdengar sumbang di telinga Regan.


"Miris ya," katanya setengah jujur. Sedikitnya Qonita sudah menggeser kedudukan Ayana dan membuat celah. Tapi kalo Qonita sudah punya pacar, lebih baik memang putus saja, pikir Arga menimbang nimbang dalam hati.


Regan menonjok pelan bahu sahabatnya.


"Semangat bro. Pastiin dulu sebelum ambil keputusan," saran Regan lagi.


Arga hanya tersenyum.


"Gue santai lah... Lima tahun atau sepuluh tahun lagi ngga masalah buat gue jomblo," tawa Arga ringan.


Regan juga ikut tergelak.


"Gue temenin," timpal Regan dalam tawanya.

__ADS_1


"Hanya saja gue telanjur suka sama wajah judesnya," cetus Arga membuat Regan teringat pada wajah malu malu Dinda.


Dia juga telanjur suka dengan ekspresi salah tingkah gadis berkerudung itu. Tapi kalo menjadikannya pacar, Regan ngga berani dan masih mikir seribu kali. Gadis itu seperti porselin mewah yang gampang pecah. Regan hanya ngga ingin merusaknya. Cukup memandangnya saja sudah membuat hatinya nyaman.


__ADS_2