
"Aku tau siapa kamu dan latar belakang keluargamu," kata Claudia membuat Aruna heran.
Apa maksudnya?
"Terus?" Aruna berusaha ngga kepancing.
"Papamu hanya pegawai biasa di perusahaan multinasiona. Mamamu hanya ibu rumah tangga biasa. Tapi kamu dan kakakmu beruntung mendapat pendamping.dari keluarga yang kaya raya," kata Claudia mulai mengintimidasi.
"Well, kami memang beruntung," responnya tetap tenang. Lagian buat apa marah. Yang perempuan di depannya ucapkan memang sepenuhnya benar.
Hanya saja yang Aruna heran, untuk apa perempuan ini mencari informasi dirinya dan keluarganya sampai sedetil ini.
"Aku menyukai suamimu," kata Claudia terus terang membuat Suster Uci menutup mulut saking kagetnya.
Karena Kiano, batinnya sumbang.
Tapi Aruna terap menampilkan ketenangannya. Baginya selama Kiano hanya memilihnya dan mencintainya, dia ngga perlu merasa khawatir dengan perempuan perempuan yang menyukai suaminya.
Claudia menatap Aruna dengan tatapan penuh selidik pada wajah yang tetap tenang di depannya. Seolah olah segala hal yang dia ucapkan ngga berimbas apa pun padanya.
"Apa yang akan kamu lakukan? Kamu ngga marah?" pancing Claudia.
Aruna mengulaskan senyum tipisnya.
"Bukan anda saja nona. Banyak yang menyukai suami saya. Bahkan beberapa kali saya mendengar pengakuan mereka secara langsung," sahutnya ringan.
Wajah Claudia memerah menahan rasa kesal dalam hatinya. Sedangkan suster Uci mulai ikut tersenyum.
Doktermya memang luar biasa,. Menghadapi pelakor memang ngga boleh kendor, batinnya kagum.
Mempunyai suami terlalu tampan dan kaya raya memang berat godaannya. Januarnya saja yang belum seberapa ketampanan dan apalagi kekayaannya sudah menjadi rebutan di rumah sakit ini.
Januar lagi, batin Suster Uci kesal.
"Kamu sangat percaya diri sekali," sindir Claudia sinis membuat Suster Uci ingin menampol mulut nenek sihir ini. Suster Uci meralat istilahnya tadi si cantik, tapi berubah menjadi nenek sihir.
"Begitulah," jawab Aruna mash ringan.
"Kalo hanya itu yang mau kamu sampaikan, saya rasa kita bisa mengakhirinya. Kami akan ke kantin," sambungnya lagi sambil berdiri dan meraih tas tangannya.
"Oke," ketus Claudia ikut berdiri, sangat jengkel karena di usir.
"Saya akan merebutnya dari kamu. Apalagi kami membuat proyek kerjasama yang akan membiasakan kami berduaan," Claudia menyeringai sinis saat melanjutkan ucapannya.
DEG
Ketenangan Aruna agak terusik, tapi dia berusaha tersenyum, walau garing.
"Silakan saja."
Setelah berdecih, Claudia melenggang pergi, keluar dari ruangannya.
"Pe de sekali dia," kecam Suster Uci setelah nenek sihir itu menjauh.
__ADS_1
"Yuk, kita ke kantin. Aku sudah lapar," kata Aruna sambil menggandeng lengan suster Uci.
Hatinya resah. Pasti gadis itu sering menemui Kiano dengan alasan kerjaan. Selain rasa cemburu, Aruna merasa gadis itu tengah mengancamnya.
Apa Kiano harus tau hal ini? batinnya ngga nyaman.
"Dokter tenang aja. Nenek sihir tadi hanya memberikan gertak sambalnya saja. Suami dokter ngga mungkin suka sama dia," kata Suster Uci menenangkannya.
"Dokter ingatkan, gimana susahnya dia mendapatkan dokter? Dari ngirim coklat sampai buket bunga," tawa Suster Uci karena mengingat kejadian lampau. Dia dan teman temannya pun mendapat berkah coklat dari pacar yang saat itu ngga mau di akui dokter Aruna.
Aruna tersenyum. Dia masih mengingat perbuatan jahatnya pada Kiano. Nanti dia akan meminta maaf pada Kiano karena pasti sangat menyakiti hati Kiano waktu itu. Sekarang dia harus mempercayai Kianonya. Kalo Kiano mau, pasti sudah dari dulu dipacarinya nenek sihir itu.
Sekarang Kiano sudah memilihnya.
Memilihnya.
Aruna mengulangkan kata kata itu berkali kali dalam hatinya untuk mempertebal rasa percaya dirinya.
*
*
*
Dengan emosi yang memuncak, Claudia menendang ban depan mobilnya.
Awas kamu dokter kurang ajar, geramnya dalam hati.
Claudia langsung menelpon pengawal terpercayanya.
"Siap, Nona muda."
Claudia menyimpan ponselnya ke dalam tasnya.
Bentar lagi dokter. Kau akan menyesali kata katamu, geramnya lagi sambil menutup pintu mobilnya dengan kasar. Kemudian Claudia menggas sangat dalam dan hampir saja menabrak seseorang yang akan menyeberang di area parkiran itu.
Claudia pun ngga mempedulikan sumpah serapah orang yang mau ditabraknya dan terus saja melajukan dengan kencang mobilnya meninggalkan parkiran basemen rumah sakit.
*
*
*
Seperti biasa, saat jam pulang, Suster Uci selalu menemani dokter Aruna menunggu suaminya di parkiran. Keduanya terus saja mengobrol sambil bercanda. Sampai akhirnya ponsel Aruna bergetar.
"Sayang, sepertinya aku agak telat. Ada kecelakaan di depan rumah sakit," kata Kiano langsung begitu teleponnya tersambung.
"Kecelakaan apa?" tanya Aruna kaget. Dia akan mengirimkan ambulance rumah sakit agar korban segera tertolong
"Ngga kelihatan, sayang. Terlalu banyak orang yang kumpul. Kayaknya sedang diangkut ambulance dari rumah sakit kamu," jelas Kiano lega karena akhirnya ambulance bergerak pergi dan kerumunan orang orang mulai membubarkan diri.
"Oke, aku akan menghubungi dokter IGD agar cepat menyiapkan ruangan."
__ADS_1
Aruna menoleh pada suster Uci.
"Ada ambulance yang bawa korban kecelakaan di depan rumah sakit kita, suster," kata dokter Aruna cepat.
"Iya, dokter. Ini suster Ria memberitau lewat grup. Untung dokter Zaldi belum pulang," ucap Suster Uci yang juga sibuk dengan ponselnya.
"Syukurlah masih ada dokter di IGD," ucap Aruna lega.
"Tenang aja dokter. Mereka sudah bersiap siap di depan nunggu pasien," kata Suster Uci sambil menatap layar ponselmya.
"Syukurlah."
"Suami dokter ketahan, ya?" tanya Suster Uci sambil tersenyum menggoda.
"He eh."
"Bentar lagi pasti nyampe. Biasa, kan, dok, kalo ada kecelakaan pasti jadi rame. Jadi bikin macet," komentar Suster Uci sambil melihat layar ponselnya lagi. Tapi kali ini mimik wajahnya terlihat kaget.
"Loh, kok, kata Ria, ambulancenya melewati mereka yang sudah bersiap di depan," ucap Suster Uci heran.
Apa? kaget Aruna membatin.
"Sayang, ambulancenya kok, masuk ke parkiran basemen?" tanya Kiano bingung.
"Biasanya langsung di depan, kan?" sambung Kiano lagi ngga abis pikir.
"Kok, bisa?" Aruna tanpa sadar berjalan agak ke tengah dan terpaku melihat ambulance yang dikatakan Kiano meluncur cepat ke arahnya.
"DOKTER!" teriak suster Uci ketakutan tapi reflek berlari ke arah Aruna yang hanya diam bagai patung.
Laju ambulance itu semakin kencang dan jaraknya semakin dekat.
Kiano yang heran mendengar jeritan Suster Uci dari ponselnya berubah jadi panik.
"Aruna. Apa yang terjadi!" serunya sambil menggas mobilnya yang kini sudah bebas dari kemacetan dan segera masuk ke dalam parkiran basemen.
BRAKK
BUG
JEDER
CIIIITTT
Aruna jatuh bergulingan dengan suster Uci yang mendorognya menjauhi ambulance yang akan menabraknya.
Ada seseorang yang mendorong brankar pasien dan menabrakkannya pada ambulance yang terdengar mengerem kencang.
"ARUNAAA!" seru Kiano yang langsung keluar dari mobil yang dia hentikan mendadak. Di belakangnya beberapa petugas security dan para perawat berlarian.
Ambulance terus saja bergerak maju hendak melarikan diri, tapi malah menabrak tembok batas parkir.
Tiga orang keluar dari ambulance termasuk orang yang mengalani kecelakaan dan segera naek ke dalam tiga motor trail yang menunggu. Kemudian melaju cepat dengan suara keras yang meraung memekakkan telinga.
__ADS_1
Bahkan orang orang yang berusaha menghadang di depan terpaksa menyelamatkan diri karena hampir ditabrak tiga trail itu.