Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Rumit


__ADS_3

"Alva, kamu jangan asal bicara," kata Glen mengingatkan. Kepalanya pusing mendengar raungan Meti.


"Aku bicara yang sebenarnya," kata Alva bersikeras.


"Coba panggil Tamara. Tante dan Om.mau bicara dengannya," ucap mama Alva pada Regan.


"Barusan pulang dengan Om Bari Tante," sahut Arga cepat. Kepalanya juga ikutan pusing melihat sikap aneh Alva.


"Pulang kemana?" tanya mama Alva heran.


"Ke rumah kakek Suryo, tante. Tamara ingin menemui Aruna," jelas Regan.


"Bohong, kan, Kak Alva. Perempan itu aja ngga nungguin Kak Alva. Dia juga ngga terlihat khawatir," tuding Meti beruntun dalam tangisnya yang keras membuat Mama Meti menhela nafas berat melihat reaksi histeris putrinya yang sangat berlebihan.


Tapi Alva ngga hilamg akal. Bodohlah setelah ini dia dibejek bejek sama Tamara. Yang penting bebas dulu dari pertunangan bodoh ini, pikir Alva dalam hati.


"Papi, Mami, Tamara memang bukan pacarku. Tapi aku harus bertanggung jawab," kata Alva memulai kebohongannya dengan meyakinkan.


"Maksud kamu?" tanya Papi Alva mulai tertarik. Alva ngga pernah mengutarakan ketertarikan yang serius dengan perempuan. Tapi Glen, Regan dan Arga sudah tau kemana arahntujuan pembicaraan Alva.


Alva mengambil nafas panjang, membuat ekspresinya tambah sangat menyakinkan.


"Selain dipukulin, aku juga diberi obat perangsang dosis tinggi."


"APPAAA!" Keempat orang tua itu menatap Alva dengan ekspresi ngga percaya. Meti tambah meraung keras dalam pelukan maminya.


Perasaan akan kehilangan Kak Alvanya terasa semakin kuat. Dia ngga mau dan ngga akan bisa terima. Kak Alva miliknya, tekat Meti dalam hati.


"Papi tau, kan, artinya? Karenanya aku akan bertanggungjawab," jawab Alva sangat gentle dan ringan.


Ketiga sahanatnya menatapnya kesal, rasanya ingin sekali menampol.kepala Alva yang ngga ada sama sekali isinya yang sangat bermutu.


Padahal dari ekspresi Tamara yang diperlihatkan sejak di kamar hingga di rumah sakit, hanyalah perasaan kesalnya saja. Sama sekali ngga terlihat seperti seseorang yang bingung menuntut pertanggungjawaban.


Bahkan Tamara sangat lega dan senang karena diperbolehkan pulamg dengan di antar Om Bari, ketua pengawal kepercayaan keluarga Glen.


Keempat orang tua itu saling pandang.


"Kamu serius?" tanya mami setelah rasa kagetnya berangsur hilang.

__ADS_1


"Sangat serius, Mi," tegas Alva. Dia melemparkam bola panas. Tamara yang akan mengeksekusi. Alva yakin Tamara akan menolakmya mentah mentah. Dia ngga peduli apa akibat dari kebohongannya, yang penting perjodohannya dengan Meti berakhir sampai di sini.


"Baiklah. Besok kita akan ke rumah kakek Suryo dengam membawa seserahan untuk melamar Tamara," putus Papi Alva tegas. Beliau tersenyum mirimg melihat keterkejutan di wajah Alva.


Benaknya yakin kalo putranya terlalu membesar besarkan hal yang ngga ada. Tapi kepalang tanggung, beliau dan istrinya ingin Alva cepat menikah, agar hidupnya lebih teratur dam bisa bertanggungjawab. Ngga seperti ini, selalu bermain main dengan perempuan, hedonis, bahkan hampir kehilamgan nyawa.


Alva menatap pada ketiga temannya. Minta bantuan. Tapi ketiganya sudah kadung kesal hingga sama sama memalingkan pandangan menghindari tatapan Alva. Membiarkan Alva menyelesaikan sendiri kebohongannya.


Gila, masa langsung lamaran, kagetnya membatin. Pikirnya papi dan mami akan membujuk Meti agar melepaskannya. Setelah itu menanyai kesanggupan Tamara untuk.menikahinya yang bisa dia pastikan akan langsung ditolak. Kepalanya Alva mendadak jadi pusing. Ngga sesuai dengan rencananya.


"Papi! Meti ngga mau. Meti ngga setuju," raung Meti tambah keras membuat orang oarng yang ada di ruangan itu merasakan telinga mereka menjadi pengang akibat jeritan Meti yang tiada henti.


*


*


*


"Melvin, dady ngga bisa terima," geram Herman Permana saat menemui putranya di ruang kerjanya.


"Kita ngga bisa berbuat apa apa lagi, dady. Tapi aku akan coba memohon pada Om Dika, Om Banyu dan Om Rifki. Semoga mereka mau meringankan hukuman Tamara," ucap Melvi ngga begitu yakin seperti saat dia biasa memenangkan tender tender besar.


Kesalahan adiknya cukup fatal. Untungnya istri Kiano dan perawatnya ngga sampai meninggal dunia.


Sekarang pekerjaannya bertambah banyak. Ketiga projek besar yang harus ditanganinya sendiri membuat dia cukup kelimpungan. Pinalty yang sudah dibayar oleh perusahaan ketiga rekan bisnis dadynya yang kini jadi musuh, bukanlah akhir dari penyelesaian tanggung jawab perusahaan mereka. Nama perusahaan mereka kini dipertaruhkan. Kebangkrutan besar bisa saja terjadi di depan mata.


"Ngga perlu. Ada dua belas pengacara yang akan membela adikmu," sarkas Herman sombong.


"Kasus ini beda, dad," jelas Melvin mencoba sabar agar dadynya mengerti.


Herman Permana mendengus


"Dady sudah punya cara agar mereka semua menarik tuntutan mereka," tukasnya dengan nada dingin


"Jangan berbuat yang aneh aneh, dady. Kasian mami," tegas Melvin. Dia sudah tau niat yang ada dalam hati dadynya.


"Kau urus saja perusahaan. Biar dady yang urus lainnya," tandas Herman sambil melangkah pergi.


"Dady, Melvin mohon. Jangan lakukan apapun," seru Melvin sambil mengejar dadynya dan kini sudah berdiri idepannya.

__ADS_1


"Jangan mendikte dady!" geram Herman sambil mendorong bahu Melvin kasar hingga terhuyung dan beranjak pergi.


Melvin menggusar rambutnya dengan perasaan kesal. Dady dan adiknya sama sama keras kepala.


Setelah menitipkan kondisi maminya pada perawat, Melvin melajukan mobilnya ke kantor polisi, temlat adiknya tertahan.


Disinilah Melvin sekarang. Baru beberapa jam Claudya di dalam sel istimewanya. Tapu keadaan adiknya sudah kusut dan suntuk. Wajahnya masih sembab habis menangis.


Melvin menghela nafas kasar.


"Kak, tolong bebaskan aku," pinta Claudya sangat memohon dengan suara serak.


"Kakak akan bantu. Tapi kamu ngga bisa langsung bebas," jelas Melvin pahit.


"Kenapa? Mereka juga ngga sampai mati," geram Claudya penuh dendam.


"Karena itulah hukuman kamu bisa ringan," sergah Melvin ebuat adiknay mendelik kesal.


"Ngga adil. Mereka bersenang senang, sedangkan aku menderita," marah Claudya frustasi akan nasibnya Terkurung dalam sel, nama baik yang hancur. Sementara si Aruna tetap baik baik saja.


Harusnya perempuan miskin itu mati, dan Claudya akan merasa rela menjalani hukuman. Hatinya akan lega karema Kiano akan melajang lagi. Tapi nyata perempuan itu selamat dan dia di dalam sel penjara karema perbuatan jahatnya ketahuan.


"Seharusnya kamu bersyukur istri Kiano ngga meninggal dunia. Kalo itu terjadi hukuman kamu akan lebih berat, Claudya sayang," ucap Melvin lembut. Dia mengusal kepala adiknya penuh sayang.


Melvin.sadar, dia juga bersalah, terlalu sibuk sampai ngga memberikan perhatian yang lebih pada adiknya.


"Perempuan itu sombong, kak. Aku benci dia," makinya dengan suara bergetar.


Melvin membuang nafasnya perlahan. Sudah nya membuat adiknya mengerti akan kesalahan yang telah dia perbuat.


"Setelab kamu keluar dari penjara, kakak akan menemani kemana pun kamu mau pergi," bujuk Melvin lembut.


Air mata Claudya kembali menetes


"Berapa lama aku di sini, kak?" tanyanya setengah merintih.


"Semoga ngga sampaj setahun," janji Melvin.


"Lama sekali. Aku ingin cepat keluar dari sini, kak," tangis Claudya ngga terbendung.

__ADS_1


"Kakak usahakan. Percaya sama kakak," janji Melvin lagi. Kasus Claudya cukup berat. Setelah hampir menabrak Aruna dan perawatnya, bahkan juga para pengawal mereka sudah menghajar salah satu putra dari konglomerat sampai babak.belur.


Jika saja bukan orang kaya dan berpengaruh yang setara dengan mereka, kasus ini sangat mudah. Melvin tinggal memberikan sejumlah uang pada keluarga korban, kasus pun akan ditutup. Sayangnya ngga akan semudah itu.


__ADS_2