
Arga menatap laki laki yang berdiri di samping Bang Athar dengan tajam. Dia ingat pernah melihat laki laki laki ini, ngga hanya sekali. Selain saat memeluk Qonita sambil tertawa tawa, rasanya ada sedikit memory nya yang hilang tentang laki laki ini.
Arga yakin sudah pernah melihat laki laki ini jauh sebelumnya
Tapi Regan yang mewakili adiknya dalam tender besar proyek ini langsung menyalami keduanya.
"Aku Regan, bang. Teman Kiano. Kita pernah ketemu waktu nyelamatin Aruna," jelas Regan mengenalkan dirinya.
Athar dan Arik tertawa kecil.
"Pantas sepertinya pernah lihat," balas Athar sambil menyambut tangan Regan.
"Juga saat Aruna sama Kiano nikah, kan," lanjut Athar lagi.
"Iya, bang." Keduanya pun tertawa akrab.
Kemudian dia ganti menyalami Arik.
"Iya, kita ketemu waktu mau adegan tembak menembak itu, ya," balas Arik sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
"Tapi aku kayaknya lihat kalian waktu Aruna sama Kiano resepsi," lanjut Arik lagi sambil melihat Arga juga.
"Ohya?" ucap Regan agak ngga enak hati, karena saat resepsi kurang memperhatikan para tamu undangan.
"Kamu ngga lihat, ya? Padahal waktu itu aku sangat tampan," balasnya nyeleneh kemudian tergelak.
"Lo kira dia perempuan, sadar dengan ketampanan lo," cerca Athar di sela tawa renyahnya.
Arik ngga membalas lagi, hanya ikut tertawa renyah. Malas dia mendebat Athar. Pasti sahabatnya akan punya seribu alasan untuk membalasnya.
Ingin sekali Arga memukul kepalanya agar ingatannya yang lelet ngga usah kembali saja. Sudah ngga berguna lagi, apalagi sekarang ada Regan yang sudah mengingatkan kejadian yang terjadi di masa lalu.
Dia pun balas menyalami keduanya
__ADS_1
"Aku Arga, bang."
Saat menyalani Athar, sikap Arga terlihat senang, tapi berbeda saat bersalaman dengan Arik. Sikapnya berubah kaku.
Apa hubungannya dengan Qonita? batinnya penuh tanya karena sangat penasaran.
Tapi senyum laki laki ini sangat lebar, terlihat senang bertemu dengannya membuat Arga heran.
"Arga Satria Adinata. Senang bisa bertemu lagi dengan kamu," katanya ramah.
Arga hanya tersenyum, walau dirasanya cukup kaku. Terdengar aneh karena laki laki ini mengetahui nama keluarganya.
Ingin bertanya ada hubungan apa dengan Qonita, tapi lidahnya terasa kelu.
Arga juga merasa momennya ngga tepat.
"Kita seperti reuni," kekeh Athar diikuti Regan dan Arik. Sementara Arga terlihat hanya tersenyum tipis.
"Ngga pa pa" balas Arga berbisik juga.
"Kamu dapat salam dari Qonita," cetus Arik tiba tiba.
"Qonita?" ucap Athar dan Regan bersamaan.
Arga hanya tersenyum sementara Regan menatap Arga aneh. Dia yakin ada yang sahabatnya itu sembunyikan darinya. Sikapnya saja sudah sangat menunjukkan.demgan jelas.
"Dia calon suami Qonita," jelas Arik sambil menatap Athar.
Eh, kenapa dia kelihatan senang? Sebenarnya dia siapanya Qoni? batin Arga tambah penasaran.
"Wah wah wah... aku ketinggalan informasi besar," kekeh Athar lagi.
Ngga nyangka adik sepupu Arik yang dulu suka mereka gangguin sampai namgis menjerit jerit, akan menikah sebentar lagi.
__ADS_1
Dan calonnya Arga, yang track recordnya cukup bersih sebagai non player.
"Jangan lupa undangannya," ucap Athar berbasa basi. Pastilah dia akan diundang, secara dia kan sahabat sepupunya.
"Siap, bang," respon Arga cepat.
"Ngga mungkinlah lo sama gue diundang. Kita, kan musuh anak manja itu," gelak Arik.
"Betul juga," kekeh Athar setuju.
Sementara Arga menatap keduanya yang sedang tertawa dengan heran. Begitu juga Regan.
"Mereka sepertinya sangat mengenal Qonita," bisik Regan agak curiga melihat raut penuh selidik Arga terhadap bang Arik.
"Ya."
"Bang Arik yang kulihat waktu itu lagi pelukan sama Qoni," bisik Arga lagi dengan tenang.
"Lo becanda?" bisik Regan ngga percaya.
"Gue serius," tandas Arga.
Regan langsung terdiam.
"Kita masuk.dulu, ya," ucap.Athar sambil melangkahkan kakimya memasuki ruangan di.depan mereka bersama.Arik.
"Iya, bang," balas keduanya kompak.
"Arga sepertinya ngga tau hubungan lo dengan Qonita," lirih Athar setelah tawanya usai.
"Biar saja. Akan menjadi sangat menarik," tawa Arik.
"Dasar, tukang rusuh," timpal Athar kemudian tertawa lagi.
__ADS_1