
"Lo yakin kita ngga salah masuk ruangan?" tanya Reno sambil menepuk pundak Glen. Suasana ruangan yang mereka masuki terasa dingin dan sedikit mencekam.
"kita, kan, ngga tau mereka dimana. Sepi sepi aja. Padahal di sini titik lokasinya," kata Glen sok tau sambil melangkah perlahan memasuki ruangan yang cukup luas itu.
Saat mereka tiba di halaman parkir samping sesuai titik lokasi yang Regan kirimkan, keadaan terasa sunyi sepi. Ngga ada bunyi tembakan, teriakan atau suara suara perkelahian lainnya.
Ada satu ruangan yang mencurigakan dengan pintu yang sedikit terbuka. Tanpa tau ruangan apa, keduanya langsung masuk karena sudah telanjur curiga dan niat menolong yang menggebu gebu setelah usai rapat.
Tercium bau bau yang agak menyengat hidung tapi ngga mereka hiraukan.
"Kalo memang terjadi pertarungan, kenapa sepi sepi aja," tambah Reno lagi dan langkahnya langsung terhenti ketika melihat lusinan brankar tidur. Dan beberapa di antaranya di tutupi kain putih.
"Glen, kita salah masuk nih. Yakin gue," bisik Reno sambil mencekal lengan Glen. Suasana terasa mistis.
"Sepertinya ini kamar mayat," ucap Glen dengan suara bergetat.
"Ummmph..... Ummmph......."
"Ada suara?" bisik Reno merimding. Glen pun sudah kehilangan fokus dan ingin cepat cepat keluar. Tapi anehnya keduanya masih mematung dan memperhatikan setiap sudut dengan jantung berdebar debar ngga menentu.
"Ummmph..... Ummmph........"
Keduanya saling pandang dengan perasaan sama. Mulai takut. Bagi mereka lebih baik menghadapi orang betulan dari pada mahluk gaib.
"Gue ngga hapal ayat kursi," bisik Glen dengan suara bergetar. Reno pun sama. Mereka hanya hapal bacaan shalat saja, itu pun hanya surat pendek dan Al Fatihah.
"Ummmph.... Ummmph....."
Kembali suara itu terdengar. Keduanya kembali saling pandang.
Reno mencoba berpikir logis kalo hantu ngga bakal muncul di siang bolong. Dengan memberani kan diri, dia pun melangkah ke arah suara. Glen mengikutinya sambil memegang lengannya erat.
Sangat wajar mereka takut, karena ada beberapa mayat yang terbaring di brankar dan ditutupi kain putih panjang.
Dan di pojok ruangan yang sempit, akhirnya mereka menemukan sumber suara yang mereka kira dari mahluk gaib.
"Apa yang terjadi?" tanya Glen sambil melepaskan lakban yang menutupi mulut dua orang laki laki dan dua orang perempuan yang sebaya dengan mereka. Reno pun ikut membantu. Perasaan takut mereka hilang sudah.
"Tolong, tante kami di sandera," ucap salah satu laki laki itu penuh permohonan.
*
*
*
Polisi yang dipimpin Om Idham pun mengamankan anak buah Claudya. Om Bari juga ada di sana. Bahkan Aries ikut membantu dengan mengumpulkan senjata senjata api milik para pengawal yang setia itu.
Banyak yang terluka. Mereka menyerah melihat bantuan dan polisi yang datang dengan berlipat lipat jumlahnya sudah mengepung.
__ADS_1
"Athar, lo ngga kena tembak, kan?" tanya Arik begitu sampai di depan Athar yang berdiri sambil memegang tongkat bisballnya yang retak(?) di bagian tengah.
"Nih, tongkat keberuntungan gue," kata Athar bangga sambil menunjukkan tongkat bisballnya.
Saat hujanan peluru datang, Athar melakukan kibasan dengan tongkat softballnya untuk menghalau peluru hingga tongkat itu mengalami keretakan.
Arik hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat kenekatan sahabatnya.
"Yang penting lo baik baik aja. Ngeri gue dimarahi istri lo kalo ngelihat lo terluka," ucap Arik lega membuat Athar terkekeh.
Kemudian dia menatap sekeliling, melihat para polisi dan pengawalnya yang ikut membantu mengamankan para pengawal Claudya.
"Mereka nekad juga membuat kerusuhan di tengah kota dan di tengah hari begini," komen Arik sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Athar menangkap keberadaan Melvin yang sedang bersama adiknya. Kelihatannya keduanya terluka. Dia pun melangkah menghampiri.
"Lo mau kemana? Maen tinggal tinggal aja," seru Arik ketika tanpa kata Athar berjalan menjauhinya. Dia pun mengikuti Athar yang ngga menanggapinya sambil ngomel ngomel.
"Melvin," panggil Athar membuat kedua bersaudara itu menoleh.
Arik mulai mengerti kenapa tadi Athar meninggalkannya.
Melvin terluka di bahunya, sedangkan Cludya di lengannya dan di celana panjangnya bagian paha sebelah kanan terlihat rembesan darah.
"Lo ngga apa apa?" tanya Melvin lega karena Athar terlihat baik baik saja walau terlihat memar memar di wajahnya.
"Apa yang akan lo lakukan sama adik lo. Dia sudah membuang kesempatan baik yang kita berikan untuk meloloskan diri," tukas Atjar terus terang dengan tajam.
Melvin menarik nafas panjang.
"Gue akan serahkan dia ke polisi," katanya tegas membuat Claudya yang meringis menatapnya melotot marah.
"APA?"
"Tadi kakak bilang akan menolongku," protesnya marah.
"Kakak pasti akan menolongmu. Cuma kamu akan merasakan kehidupan di sel yang lebih lama," ucap Melvin lembut. Terbayang wajah kecewa maminya karena dirinya gagal menghentikan Claudya lebih cepat seperti janjinya.
"Tidak!" raung Claudya ngga terima. Dia ngga mau masuk penjara lagi.
PLAK PLAK
Pipi Claudya sampai terpuntir ke kiri dan kanan akibat tamparan Tamara yang sangat keras.
"Tamara!" serru Regan, Alva dan Arga bersamaan. Keduanya terpaksa menyusul Tamara yang tiba tiba berbalik arah dan menampar Claudya.
"KAU!" tuding Claudya marah besar karena selain pipinya, bibirnya juga terasa perih karena terluka akibat tamparan Tamara
"Bebaskan sandera keluarga pasien itu," bentak Tamara sambil menunjuk pasien yang terpaksa menjebak mereka yang kini sedang ditangani perawat.
__ADS_1
"Kamu menyandera keluarga pasien?" Melvin menatapnya kecewa. Kejahatan adiknya sudah melampaui batas toleransinya.
"Iya!" jawabnya ringan sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Wajah cantiknya terlihat mengerikan karena aura kekejaman yang terpancar di sana.
Andai Glen lihat, batin Regan. Gadis ini ngga pantas disukai sahabatnya, walaupun sahabatnya juga orang brengsek.
"Katakan dimana?" sergah Melvin tajam. Matanya yang selalu bersinar lembut kini berubah sangat dingin.
Claudya sedikit merinding karenanya.
"Aku ngga akan bilang sebagai ganti aku dibebaskan," tantangnya berani.
"Dasar ngga punya hati," decih Tamara menahan emosi. Ingin rasanya dia menjambak wig itu dan menarik putus rambut asli perempuan kejam di depannya.
"Perawat ini bisa kita tanyai," kata Kiano yang tiba tiba muncul sambil membawa perawat gadungan yang dicekal Aries
Sebelum pergi bersama Aruna, Keduanya melihat perawat itu sedang diamankan Aries dan beberapa orang polisi.
"Sani, katakan di mana keluarga pasien yang disandera," bentak Melvin pada salah satu pengawal kepercayaan adiknya.
"Jangan katakan. Kita bisa bebas kalo terus merahasiakannya," sergah Claudya membuat mulut Sani tertahan untuk mengatakannya.
"Claudya, kamu hanya memperlama hidupmu di sel," marah Melvin frustasi melihat kekeras kepalaan adiknya.
Claudya hanya tertawa, kemudian menatap benci pada Aruna yang masih terlihat baik baik saja.
"Aku benci dia!" teriak Claudya sambil menuding Aruna.
Aruna yang ngga nyangka mendapat semprotan kemarahan itu menatap Claudya ngga abis mengerti.
Bukankah harusnya dia yang membenci gadis gila ini?
"Sekarang aku ngga bisa jadi model lagi. Tangan dan kakimu sudah cacat," raungnya marah.
Kiano mendekap Aruna sambil menatap dingin pada Claudya yang sudah seperti orang gila.
"Bebaskan aku dan Sani. Biarkan kami pergi. Dan kau dokter miskin, bersiap siaplah untuk mati nanti," umpatnya mengancam, kemudian terkekeh.
Kiano menatapnya geram, begitu juga Athar, Regan, Alva, Aries dan Arik.
Kesimpulan mereka sama, gadis ini nekat dan berbahaya.
Melvin memejamkan matanya dengan beban di dada terasa berat. Adiknya terlihat seperti psycho.
"Dalam mimpimu!" kata Glen lantang membelah suara tawa Claudya.
Glen muncul bersama Reno. Keduanya yang tadinya buru buru sampai salah masuk ke kamar jenazah, akhirnya bernafas lega bisa menemukan keberadaan Kiano dan yang lainnya. Tapi kesialan itu berubah menjadi keberutungan karena menemukan empat orang yang benar benar hidup dan sedang diikat di pojok ruangan dengan mulut dilakban.
Berdasarkan keterangan mereka, Glen dan Reno jadi tau kalo mereka adalah korban penyanderaan salah satu kubu. Pasti Claudya yang memerintahkannya. Glen dan Reno yakin sekali dengan isi pikiran mereka.
__ADS_1