
Begitu Qonita turun, Arga pun ikut turun.
Dia melepas helm, membuka ikatan jasnya dan memberikan tas kecil Qonita yang tadi berada di lehernya.
Jas gue, batin Arga lemes. Ada bekas yamg sangat jelas di lengan jas itu, karena tadi dia mengikatnya cukup kuat.
Akhirnya di selempangkan saja dengan asal jas itu di pundaknya.
Padahal pagi ini dia harus ikut meeting penting.
Qonita menatap ngga enak hati pada jas Arga.
"Ukuran jas lo berapa? Nanti gue pesankan," ucap Qonita sambil pura pura membetulkan lipatan roknya.
"Jas gue limitted edition, ngga ada yang jual," kilah Arga sombong membuat perasaan ngga enak Qonita langsung hilang berganti dengan decakan kesalnya.
Diperhatiin jawabnya malah ngeselin, batin Qonita sewot.
"Ayo, gue antar ke kelas lo," kata Arga sambil merengkuhkan tangannya ke bahu Qonita.
"Apaan, sih," tolak Qonita berkelit dan berhasil bebas.
"Gue ke kelasnya sendiri aja. Lo pulang sana," tolak Qonita judes.
Arga tersenyum miring.
"Makasih atas perhatian lo. Tapi gue mau lihat kelas lo," kata Arga kembali merengkuh paksa bahu Qonita.
"Iya, tapi ngga usah rangkul rangkul, 'kali. Gue dosen, yang lihat nanti gimana," kata Qonita beralasan sambil masih mencoba melepaskan tangan Arga.
"Ada pacar lo ya?" tuduh Arga tetap menahan lengannya hingga Qonita merasa pundaknya ketekan cukup kuat.
"Nggak ada."
"Ya udah. Gue, kan, calon suami lo. Nurut ngapa," ucap Arga seolah memberikan perintah.
__ADS_1
Qonita mengalah, karena tekanan Arga tadi membuat kakinya yang berbalut heels terasa sakit.
"Kaki lo sakit?" tanya Arga ketkka melihat ringisan di wajah Qonita.
"Gara gara lo tadi nekan pundak gue," cicit Qonita cemberut.
"Sorry," ucap Arga sungguh sungguh membuat Qonita terpaku.
Ngga percaya laki laki kurang ajar ini meminta maaf.
Dia pun berjongkok dan melihat keadaan kaki Qonita.
"Coba di lepas aja dulu sepatunya," ucap Arga sambil medongakkan kepalanya ke arah Qonita.
"Ngga usahlah. Masa gue nyeker," tolak Qonita lagi.
"Buka sebentar aja. Nanti pake lagi," kata Arga sambil.melepaskan tali tali heelsmya.
Qonita pun menurut dan melepas heelsnya. Terasa cukup mendingan.
"Istirahat bentar," kata Arga dengan senyum tipisnya.
DEG DEG DEG
Jarak mereka terlalu dekat membuat jantung Qonita berdebar ngga menentu. Harum parfumnya yang manly pun tercium kuat.
Untuk menghilangkan rasa groginya, Qonita menggoyang goyangkan kakinya sampai dia kaget lagi karena merasa dingin di telapak kakinya.
Qonita menutup mulutnya melihat Arga sedang mengusap telapak kakiya dengan tisu basah bergantian sambil berjongkok.
"Enakan sekarang?" tanya Arga tanpa rasa bersalah telah membuat calon istrinya jadi ngga menentu perasaannya
"Eh, i... iya," gugup Qonita menjawab. Dia terpana melihat sorot lembut yang terpancar di sepasang netranya. Bukan sorot usil.
Kembali Arga mengusap kedua telapak kaki itu bergantian. Mengompres sekaligus membersihkannya dari debu yang menempel. Matanya pun sudah beralih ke arah kedua kakinya.
__ADS_1
Qonita merasa Arga berbeda dari sebelumnya. Biasanya usil dan mesum, tapi sekarang berubah lembut, sopan dan penuh perhatian.
Qonita bingung, yang mana kepribadian Arga yang sebenarnya.
"Udah bisa pake sepatunya?" tanya Arga beberapa menit kemudian.
Qonita hanya bisa menganggukkan kepalanya dan membiarkan Arga memasang heelsnya.
Setelah heelsnya terpasang erat, tanpa aba aba, Arga kembali mengangkat tubuh Qonita membuat gadis itu menahan nafasnya.
"Kita jalan pelan pelan aja ke kelas lo," kata Arga sambil menggandeng tangan Qonita. Kali ini Qonita membiarkannya.
Langkahnya terasa ringan, hatinya penuh dengan bunga. Qonita melirik laki laki yang berjalan di sampingnya yang matanya hanya memandang ke depan.
Dia memang sangat tampan, puji Qonita dalam hati. Kemeja dan celana masih rapi. Bahkan jas yang tersampir asal di pundaknya pun membuat penampilannya terlihat sangat macho.
Andai saja dia selalu bersikap kayak gini, batin Qonita dengan hati mulai bimbang.
Mereka pun berjalan dalam diam. Qonita yang sejak tadi cerewet sibuk berdebat dengan pikiran pikirannya. Begitu juga Arga yang hanya menatap ke depan tanpa memperhatikan sekelilingnya.
Sepanjang jalan, banyak pasang mata menatap ke arah mereka. Baik laki laki maupun perempuan. Mulai menebak nebak, siapa laki laki yang dibolehkan dosen seksi yang cukup galak itu menggandeng tangannya.
"Ini kelasku," kata Qonita setelah mereka tiba di depan kelas yang di dalamnya sudah berkumpul mahasiswa dan mahasiswinya.
"Ooh," sahut Arga kemudian melepaskan genggamannya.
"Kalo gitu gue ngantor dulu," sambungnya lagi.
"Ya."
Namun ketika Qonita akan memasuki kelasnya, bisikan Arga membuatnya jadi kesal campur malu.
"Kamu kurus tapi berat."
Ketika Qonita akan menyemprotnya dengan kata kata makian, laki laki itu sudah melangkah pergi dengan langkah panjangnya sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh.
__ADS_1
Dasar lemah, gerutu Qonita sewot ngga terima dikatakan Arga kalo tubuhnya berat.