Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Istri Kiano Artha Mahendra.


__ADS_3

"Iya, aku percaya sayang," bujuk Kiano ketika Aruna mendiamkannya begitu mereka sampai di parkiran hotel.


Aruna walaupun kesal menatap Kiano heran.


Mengapa bukan di parkiran resort tempat yang mereka tinggali sekarang?


"Aku masih ada kerjaan..Kamu juga belum pernah ke ruangan kerja aku, kan," kata Kiano seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Aruna.


Iya, sih. Dia belum pernah ke ruangan kerja Kiano. Beda dengan Kiano yang sudah bolak balik ke ruamgannya, sarkasnya dalam hati.


CUP


Aruna berdebar saat bibir Kiano mengecup lembut pipinya sambil tangan suaminya itu membuka seat belt nya


"Jangan marah lagi," bisik Kiano di dekat telinganya membuat Aruna meremang. Tubuhnya menjadi kaku. Aruna benci dengan hatinya yang mudah luluh oleh perlakuan Kiano akhir akhir ini.


Kiano pun keluar dari mobilnya dan berjalan santai memutari mobilnya


"Ayo, princess," ucap.Kiano sambil mengukurkan tangannya setelah membuka pintu mobil untuk Aruna.


Aruna tersadar dari lamunannya. Dengan wajah memerah dia menerima uluran tangan Kiano.


Kiano pun merangkul bahu Aruna sambil berjalan memasuki hotel. Puluhan pasang mata memperhatikan penuh takjub.


Kiano Artha Mahendra yang terkenal dingin, kaku dan gila kerja merangkul wanitanya sangat posesif dan romantis.


"Siapa gadis itu?"


"Dia cantik.sekali."


"Pantas tuan muda Kiano tertarik padanya."


"Gadis itu cantik sekali."


"Dia seperti model."


Aruna menundukkan wajah saat mendengar bisik bisik baik dari para.pegawai hotel dan tamu hotel. Tapi Kiano tetap tenang melangkah dengan Aruna dalam dekapannya.


Kiamo pun masuk ke dalam lift khusus untuknya dan setelah pintu lift tertutup Aruna menghembuskan nafas lega.


"Santai saja," bisik Kiano lembut.


Aruna hanya menganggguk. Ngga disangkanya akan seheboh ini menjadi istri dari Kiano.


Aruna teringat akan sikapnya yang dulu menolak Kiano..Seandainya mereka tau, pasti dirinya akan di bully.


"Kalo kamu masih banyak kerjaan, kamu ngga perlu jemput aku," ucap Aruna pelan merasa ngga enak.


"Aku ngga apa apa."


"Aku jadi merepotkan."


"Kamu ngga pernah merepotkan."


Aruna menatap sepasang mata lembut yang juga menatapnya. Jantungnya berdebar. Setiap bersama Kiano, ketenangannya selalu lenyap. Dia selalu merasa grogi dan salah tingkah.


TING

__ADS_1


Pintu lift pun terbuka memutus tatapan mereka.


Pegawai pegawai Kiano termasuk sekretarisnya Nova menatap ngga berkedip pada gadis cantik.yang dirangkul Kiano.


"Ehem."


Secara serentak mereka pun menundukkan pandangannya.


"Lihat baik baik, ini istriku, Aruna. Dokter Aruna," katanya membuat para pegawainya kaget dan kembali memandangnya Kiano dan Aruna bergantian.


Aruna menjadi tambah kikuk mendapat tatapan penuh hormat untuknya.


Tanpa mempedulikan reaksi para pegawainya, Kiano membawa Aruna masuk.ke.dalam ruangan kerjanya.


Aruna menatap kagun pada ruangan yang sangat luas dengan interior mewah yang memanjakan mata.


"Kamu suka ruanganku?" tanya Kiano yang dapat menangkap binar kagum Aruna.


"Ya," jawab Aruna jujur..Dia kini baru sadar siapa Kiano sebenarnya. Aruna tau Kiano sangat kaya raya dengan sering bergonta ganti mobil mewah. Tapi baru kali ini Aruna tau keberadaan ruangan kerja Kiano. Padahal ini hanya ruangannya yang sementara. Aruna ngga bisa membayangkan betapa lebih mewahnya ruangan kerja Kiano di Jakarta, begitu juga keadaan rumah orang tuanya.


Tapi memgapa Kiano mengejar ngejar dirinya. Dia pantas mendapatkan perempuan kaya raya lainnya yang akan memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Bukan seperti dirinya yang selalu bersikap ketus.


Aruna yakin dirinya akan dibully abis abisan jika mereka tau gimana perlakuannya saat terus menerus menolak Kiano.


Kiano membimbing Aruna untuk duduk di sofa.


"Kamu mau di sini aja atau di dalam kamar?" tanya Kiano begitu mereka sudah duduk di sofa.


"Ka kamar?" pikiran buruk sudah terlintas dalam kepalanya.


"Mungkin kamu mau tidur? Tapi aku ngga bisa nemenin. Kerjaanku lagi banyak," sahut Kiano membuat Aruna menjadi malu karena selalu berprasangka buruk pada Kiano.


"Aku di sini saja," tolaknya akhirnya.


"Oke. Lihatin aku kerja ya, biar aku tambah semangat," kata Kiano sambil menatapnya lekat.


"Ya," jawab Aruna dengan perasaan yang sudah di awang awang.


Kiano dengan cepat mencecap bibir yang setengah terbuka itu membuat sepasng mata indah Aruna terbuka lebar. Kiano menghisapnya sebentar sebelun melepaskannya.


"Vitaminku," kata Kiano dengan senyum simpatik di wajahnya. Tangannya pun mengacak lembut ranbut Aruna sebelun bangkit berdiri.


Aruna masih terpana sampai akhirnya Kiano kembali ke meja kerjanya.


Dia pun melambaikan tangannya membuat Aruna tersadar dengan wajah semakin memerah dan terasa panas. Setelah melihat Aruna menunduk malu, Kiano pun memulai pekerjaannya dengan senyum terkulum di bibirnya.


Kamu gemesin banget Aruna, batinnya sambil berusaha menahan hasrat dalam dadanya.


Fokus, Kiano. Fokus.


Kiano harus cepat menyelesaikan kerjaannya yang sudah menunpuk sejak ditinggal cuti sakit akibat kecelakaan dulu dan menikah.


Aruna menyibukkan diri dengan melihat akun sosmednya atau pun membuka video video untuk memperdalam bidamg ilmunya.


Ngga lama kemudian pintu ruangan Kiano dibuka dengan kasar membuat Kiano dan Aruna terkejut.


"Maaf, pak. Nona Sasya memaksa untuk bertemu bapak," seru Nova yang ikut di belakang Sasya.

__ADS_1


Kiano mengangguk dan memberikan isyarat agar Nova keluar dari ruangannya.


Dimana dia? batin Sasya heran karena ngga melihat istri bosnya. Tapi ketika dia akan menutup pintu, matanya jatuh ke sofa dan menatap istri Kiano yang sedang menatap lekat ke arah bosnya.


Akan jadi perang? Perlu panggil satpam ngga ya, batin Nova cemas setelah menutup pintu ruangan bosnya.


Nova sangat tau watak nona Sasya yang selalu merasa dominan atas kepemilikannya. Kiano yang diakuinya sebagai calon suaminya.


Baru calon nona. Yang udah ngga calon udah ada di dekat nona, batin Nova mengejek.


Sementara itu di dalam, Sasya yang seolah mendapat angin langsung menghampiri Kiano dan langsung mengalungkan kedua tangannya ke leher Kiano dengan manja.


"Aku tau kamu ngga bisa melupakan aku," bisiknya mesra di teleinga Kiano.


Perlahan Kiano menyingkirkan kedua tangan Sasya di lehernya membuat kening Sasya mengernyit.


"Ada istriku. Aku harap kamu bisa lebih sopan," dingin suara Kiano mengalir, membekukan aliran darah Sasya.


Sasya melihat ke depan, ke arah yang ditunjukkan Kiano. Sementara Kiano yang sudah terbebas dari jeratan Sasya, melangkah cepat mendekati Aruna yang hanya menatapnya dengan ekspresi menuntut.


"Kiano, aku masih lebih cantik dari dia. Aku lebih bisa membahagiakan kamu," seru Sasya terluka. Dia sakit hati melihat Kiano mengistimewakan perempuan di depan matanya. Salahnya sendiri yang ngga menperhatikan situasi di dalam.ruamgan Kiano.


Sudah jelas dia tau Kiano lebih memilih Aruna dari pada dengannya.


Kiano ngga menjawab, dia duduk di sebelah Aruna dan meraih tangan Aruna yang terasa dingin.


Dengan lembut Kiano mengusapnya, memberikannya kehangatan dan ketenangan.


"Kedekatan kita murni karena aku menghormati kedua orang tua kita. Ngga lebih. Kalo cinta, hanya dia yang aku mau," kata Kiamo membuat perut Aruna mulas dan kupu kupu beterbangan dari dalam perutnya.


Aruna merasa bahagia sekaligus resah.


Berbeda dengan Sasya yang memejamkan mata. Rasanya sakit saat mendengar laki laki yang dicintai mengatakan cintanya untuk perempuan lain.


"Aku bisa jadi yang kedua. Aku ngga apa apa jika kamu bersamanya," tegas Sasya membuat Aruna terkejut.


Apa di dunia ini ngga ada laki laki yang lain?


Perlahan Sasya melangkah mendekati Kiano dan Aruna. Dia bersinpuh di depan Kiano yang belum memberikannya jawaban apa apa.


"Kiano, aku ngga apa apa jadi yang kedua. Aku mohon," pintanya dengan suara tersendat.


Ngga apa mempermalukan diri sekarang. Setelah menjadi yabg kedua, dia akan sekuatnya nanti merebut posisi puncaknya.


Kiano merasakan genggaman tangan Aruna tambah erat. Kiano menyapukan sebelah tangannya lagi di atas genggaman mereka.


"Aku nggq bisa. Kami sudah saling mencintai sejak SMA. Aku mohon kamu mengerti, Sasya."


Mata Sasya membulat saat mendengarnya.


"Sejak SMA?"


"Ya, terus kami berpisah karena tempat kuliah yang berbeda."


Kiano sedikit mengarang agar Sasya percaya .


Aruna merasa dejavu. Dia berkata seperti itu juga kepada suster Uci. Walau berbeda, tapi bermakna sama.

__ADS_1


__ADS_2