Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Fitting baju pengantin


__ADS_3

Alva sampai melomgo begitu melihat Tamara selesai di dandani dengan gaun pengantinnya.


Cantik banget, puji Alva kagum. Padahal awalnya Alva sudah kesal menunggu Tamara yang belum selesai juga dengan gaunnya.


Sedangkan dia sudah selesai dari tadi dengan jas mewah dan dengan perasaan kesal menunggu kedatangan calon istrinya.


Hanya sekali Alva pernah terpana melihat penampilan Tamara. Saat itu Tamara mengenakan kebaya brokat di pernikahan Kiano dan Aruna. Alva sempat tersenyum simpul saat melihat gadis kekar itu kesulitan berjalan dengan kain lipitnya yang mengurangi kebebasan geraknya.


Tapi kali ini Tamara benar benar luar biasa. Gaun pengantin mewah ini benar benar memancarkan kecantikan dan keseksian Tamara.


Pantas saja Kiano kerap melirik Aruna saat memakai kebaya waktu akad dan gaun pengantin saat resepsi. Pasti saat itu Kiano sama terpesonannya seperti diri ya saat ini.


Ada debaran aneh dalam dadanya melihat Tamara saat ini. Begitu beda dari biasanya. Wajah ketusnya pun kelihatan malu malu ketika dihadapkan dengannya.


Kedua pasang mata mereka saling bertatapan.


Memang aneh rasanya perasaan yang mengaduk aduk di dalam dadanya. Mimpi pun Alva ngga pernah kalo.nantinya dia akan melihat Tamara sebagai calon istrinya.


Apalagi waktu SMA, melirik pun engga. Hanya sekelumit rasa kagum akan sifat setia kawanya yang kental terhadap Aruna dalam menghadapi Monika dan teman temannya yang selalu membuly Aruna. Sama seperti perasaan setia kawannya dengan Kiano dan yang lainnya.


Mereka baru ketemu saat reuni, kemudian jadi sering ketemu karena hubungan Kiano dan Aruna yang mendadak dekat sampai akhirnya nikah.


Kalo diingat ingat, kejadian di rumah Kakek Kiano setelah Kiano menikah, perasaan Alva yang ada masih jengkel terhadap Tamara yang pernah menendangnya karena mengiranya maling.


Tapi rasa jengkel itu memdadak menguap. Yang kini di depannya bukan hanya Tamara yang kekar, Tamara yang selalu judes, Tamara yang suka KDRT, tapi Tamara yang sedang on the way untuk jadi istrinya.


Tamara pun cukup terkesima melihat penampilan Alva yang lebih elegan dari pada saat menjemputnya tadi.


Laki laki itu terlihat lebih maskulin dan dewasa. Terlihat bertanggungjawab (?). Wajah songongnya sudah lenyap entah kemana.


Tapi wajah Tamara tambah merona saat menyadari tatapan Alva mengarah pada dadanya yang seakan menantang akibat model.gaun yang membuatnya terlihat seperti itu.


Walau tidak terbuka, tapi renda tipis di bagian atas dadanya seakan sedang dilahap isinya oleh Alva.


Dasar hiper, maki Tamara dalam hati dengan kesal.


Seakan tau kalo Tamara sedang mengumpatnya, Alva memgembangkan senyum miringnya.


Wajar sebagai laki laki fokus pandangannya ke sana. Ngga disangka, aset Tamara begitu besar.


Pintar sekali dia menutupinya, batinnya nakal.

__ADS_1


Dua wanita paruh baya yang masih cantik itu saling bertatapan penuh senyum melihat interaksi keduanya yang terlihat malu malu kucing.


"Tamara, kamu cantik sekali sayang," puji mami Alva sumringah.


Beliau tau kalo Alva sudah terpesona oleh kecantikan Tamara saat ini. Anaknya yang manja dan selalu berbuat apa saja semaunya itu, akan dibuatnya bertekuk lutut dengan seorang Tamara.


Akan dibuatnya ngga bisa memalingkan wajahnya dari calon istrinya walau banyak gadis seksi di luar sana yang merayunya.


"Iya, sayang. Kamu cantik banget. Nanti kamu harus lebih sering menggunakan gaun, ya, sayang," ucap mamanya penuh haru.


Hanya satu ini saja putrinya yang ngga suka mengoleksi gaun seperti kakak kakaknya.


"Oh, begitu. Tamara, nanti tante akan temeni kamu belanja di butik langganan tante. Kamu sangat cantik sayang. Teman teman perempuan Alva yang dulu dulu kalah jauh," kata mami Alvi penuh semangat.


Tamara hanya tersenyum tipis, menyembunyikan perasaan malu dan gerahnya akan puja puji kedua wanita paruh baya di depannya. Mamanya sendiri tertawa senang mendengarnya.


Jelas beliau mendukung apa yang akan dilakukan calon besannya pada putri bungsunya.


Alva kembali memamerkan cengirannya mendengar kata kata maminya.


Tapi benar kata maminya. Kalo sudah dipoles pasti Tamara akan semakin menakjubkan.


"Nyonya, sekarang kita akan lanjut mengenakan yang kedua," ujar pemilik butik ikut menimbrung.


Kali ini wajah Alva sumringah. Dia ngga akan merasa kesal lagi. Dia menunggu dengan ngga sabar hidangan yang akan disajikan di depan matanya. Alva yakin kalo maminya akan membuat Tamara jadi secantik bidadari untuknya.


Dan benar saja, Tamara kini mengenakan gaun yang bahan tangannya terbuat dari brokat tipis dengan punggung yang terbuka cukup lebar. Kulit punggung Tamara yang putih seakan memanggil Alva untuk mengecupnya.


Edan, maki Alva dalam hati dengan niat buruk yang ngga disadarinya muncul tiba tiba.di pikirannya.


Wajah Tamara pun seperti dipanggang saking merahnya menahan malu akibat tatapan nakal Alva.


Demikian gaun ke tiga, ke empat, ke lima dan keenam.


Tamara rasanya mau pingsan karena merasa sangat lelah dan malu. Dan jangan tanyakan Alva yang terus saja menatapinya dengan netra elangnya. Seakan siap menyantapnya sampai habis ngga bersisa.


Tamara jadi bergidik. Dalam hati dia kesal akan pilihan kedua wanita cantik di depannya yang seakan akan ingin memamerkan dirinya pada Alva.


Memang gaun itu masih cukup sopan. Tapi ada beberapa yang memperlihatkan kulit putih pundak, bagian atas dada dan punggungnya.


Yang bikin Tamara kesal, Alva terlihat sangat menikmatinya.

__ADS_1


Saat ritual itu selesai, Tamara merasa sangat lega. Masih cukup waktu untuk kembali ke kantor. Tapi dia sudah minta ijin terlambat satu jam ke atasannya.


"Mami, tante, kalo bisa, daerah yang terbuka itu ditutup pake renda atau apalah. Tamara bisa masuk angin," ucap Alva saat dia melihat Tamara akan menghampirinya setelah keluar dari ruang ganti.


Tamara menatapnya sejenak. Hatinya menjadi senang mendengarnya. Walaupun ucapan itu agak meledeknya. Ngga nyangka Alva akan berkata demikian. Padahal tadi dengan nakalnya dia terus menatap dirimya.


"Oke," respon mami yang mengedipkan sebelah matanya pada mama Tamara dan pemilik butik. Mama Tamara dan pemilik butik pun melebarkan senyumnya.


Sebenarnya tidak ada bagian bagian yang terbuka di gaun pernikahan Tamara. Itu hanya akal akalan mami Alva untuk melihat reaksi putranya. Dan rencana beliau pun ternyata berhasil.


Tamara dan Alva pun pamit. Mungkin karena lelah, kaki Tamara tersandung dan hampir saja dia terjatuh.


Tapi Alva dengan sigap menangkap tubuhnya. Keduanya kembali saling berangkulan.


"Lapar?" tanya Alva pelan. Mereka belum makan siang karena langsung ke butik.


"Ya," jawab Tamara sambil menjauhkan drinya dari pelukan Alva. Alva pun melepaskan rangkulannya perlahan.


Alva menggandeng Tamara yang ngga menolaknya menuju ke motornya.


Dia pun memakaikan Tamara helmnya, karena gadis itu hanya diam saja dan tampak menurut.


"Kita makan dulu, ya," ucapnya sambil memakai helmnya sendiri.


Tamara mengangguk.


"Al," panggilnya pelan membuat Alva ngga jadi menaiki motornya.


"Ada apa?" tanya laki laki itu sambil menaikkan kaca helmnya.


Tumben menyebut namanya, batin Alva heran.


"Makasih."


Alva hanya mengangguk sambil menaiki motornya. Dari tadi dia menyadari kalo Tamara sudah risih dengan gaun gaunnya. Cuma Alva membiarkannya, dia hanya ingin menikmati kecantikan Tamara sebentar.


Saat kedua muda mudi itu pergi, mami Alva dan mama Tamara saling pandang dan tertawa kecil.


"Mereka pasti sudah saling tertarik," kata mami Alva sangat yakin.


"Iya," sahut mama Tamara. Beliau merasa lega melepas Tamara dengan laki laki yang akan melindunginya.

__ADS_1


Karena tadi mereka melihat dari balik kaca interaksi intim keduanya.


__ADS_2