Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Rencana Jahat


__ADS_3

Alva yang celingak celinguk begitu sampai di depan rumah sakit akhirnya memutuskan untuk masuk dan melamgkah ke bagian informasi dan bertanya di mana beradanya ruang kerjanya Aruna.


Perawat perawat dan pengunjung wanita memperhatikannya sambil senyum senyum dan berbisik bisik saat dia melewati mereka.


Alva yang sudah terbiasa mendapatkan pandangan kagum akan ketampanannya yang di atas rata rata bersikap cuek. Dia terus melangkah santai mendekati bagian infotmasi runah sakit.


"Ruang dokter Aruna di mana ya?" tanyanya pada salah satu perawat yang bengong menatapnya.


"Heh," bisik temannya sambil menepuk pundaknya, menyadarkannya. Beberapa perawat yang lain pun mendekati perawat yang beruntung itu karena sapaan Alva.


"Ngga jauh dari sini, kok, mas. Mas lurus aja, mentok, terus ke arah kiri," katanya lancar setelah kekagetannya hilang.


Alva mengangguk angguk mengerti


"Oke. Terima kasih, ya," balas Alva dengan senyum tipisnya yang membuat para perawat itu terpana melihatnya.


Tanpa menunggu jawaban, Alva pun melangkah mengikuti instruksi perawat tadi dengan langkah lebar.


Hampir saja dia bersikap iseng dengan menanyakan nama nama perawat tadi jika ngga ingat tugasnya untuk memastikan keadaan Aruna.


"Tampannya," puji perawat perawat itu yang terus melihat ke arah punggung Alva yang mulai menjauh.


"Kenapa ya, dokter Aruna selalu dicari laki laki tampan dan kaya. Jadi iri, deh," komen salah satu perawat.


"Iya. Suaminya juga tampan dan kaya banget. Teman suaminya yang bikin Janu cemburu sama Uci juga ngga kalah tampan dan kayanya," tambah yang lainnya.


"Iya ya. Tampan tampan semua."


"Juga kaya kaya."


"Ingat Uci pernah pamer naek mobil mewah temannya suami dokter Aruna."


"Iya, bikin ngiri aja. Mobilnya mewah banget."


"Sayang, Uci lebih milih sama Janu."


"Heh, Janu juga tampam loh."

__ADS_1


"Kalian ini ngapa, sih. Kita sedang bahas dokter Aruna. Kenapa Uci dan Janu yang dibawa bawa."


"Eh, iya."


Mereka pun terkekeh setelah tadi saling bersahut sahutan mengomentari dokter Aruna.


"Dokter Aruna beruntung dikelilingi banyak laki laki tampan," komentar mereka lagi setelah puas tertawa.


"Bahkan dokter Farel pun sanpai patah hati."


"Iya."


Mengingat dokter Farel, mereka seketika sedih, karena dokter tampan yang ramah itu sudah ngga berdinas bersama mereka lagi.


"Sudah-sudah, kita ngobrol terus. Kerja lagi," kata salah satu suster memberikan komandonya dan membubarkan kerumunan.


*


*


*


"Maaf.kan aku. Aku terpaksa," ucap Claudya kemudian menjentikkan tangannya oada salah satu pengawal wanita kepercayaannya yang berada ngga jauh dari situ. Dialah yang memberikan obat tidur pada minuman yang dipesan Sasya.


Berkatnya lah Claudya bisa menghindari orang orang yang mengikutinya.


Tanpa setau Sasya, Claudya mengganti mobil yang sama dengannya untuk mengelabui para penguntitnya.


"Tolong antarkan dia ke bandara. Jaga sampai dia terbangun," pesan Claudya sambil bangkit berdiri.


"Siap nona."


Setelah melihat Sasya sekali lagi, Claudya membalikkan tubuhnya bermaksud pergj


"Nona sungguh sungguh mau melakukan itu?" tanya pengawal wanita itu membuat langkahnya tertahan.


"Iya," jawabnya kemudian melangkah cepat keluar dari kafe. Beberapa pengawalnya sudah menunggunya.

__ADS_1


"Sudah ada yang tiba di rumah sakit?" tanya Claudya sambil menerima paper bag dari salah satu pengawalnya.


"Sudah, nona."


Claudya pun masuk ke dalam mobil, mengambil isi di dalam paper bag. Sebuah wig pendek dan kaca mata bening. Dia pun memakainya.


"Tidak buruk," desisnya sambil melihat dirinya di kaca spion dalam mobil.


Rencananya sudah matang..Dia akan memberikan dokter miskin itu pelajaran karena sudah menghancurkan hati dan karir modelnya.


Sasya bisa berlapang dada, tapi dia engga. Dia terlalu sakit hati. Bukan setahun dua tahun dia membangun karirnya. Apalgi di luar negeri. Tapi dengan mudahnya, dalam waktu teramat singkat hancur begitu saja.


Claudya yakin, jantung maminya akan kuat, karena masih memiliki dady dan kakaknya Melvin jika mendengar kelakuan burrujnya kali ini.


*


*


*


Meeting kali ini terasa sangat lama bagi Kiano. Konsentrasinya terpecah karena memikirkan keselamatan Aruna.


Glen yang menyadarinya langsung berinisiatif. Bahkan Reno yang ngga pernah serius pun banyak mengambil.alih tugas Kiano. Sedangkan Regan dan Arga sedang berada di kota lain untuk meninjau proyek mereka.


"Pak Kiano, anda terlihat kurang sehat. Mungkin lebih baik anda beristirahat," kata Glen memecah keseriusan peserta meeting.


"Saya ngga apa apa," tolak Kiano profesional.


"Saya rasa, meeting tinggal melanjutkan saja apa yang sudah dipresentasikan. Jadi Pak Kiamo bisa istirahat," sambung Glen kalem.


"Iya, ngga apa. Glen sama Reno tinggal jelasin saja," kata Difta memaklumi.


"Stamina lo abis gara gara jadi penganten baru," kekeh Afi diikuti yang lain.


Sial, umpat Kiano kesal. Meeting kali ini memang berisi orang orang muda sebaya dengan mereka.


"Oke, gue pamit. Makasih ya," ucap Kiano sambil melirik pada Glen dan Reno yang mengacungkan jempol mereka.

__ADS_1


"Siap," balas Glen dna Reno tanpa suara.


Kiano pun berjalan cepat ke parkiran. Sudah sejam Alva pergi tanpa kabar. Dia pun memacu motornya dengan kencang ke rumah sakit tempat Arunanya bekerja.


__ADS_2