Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Salah Pilih Lawan


__ADS_3

"Tamara, ada yang mau ketenu kamu," ucap Ratih sambil menghampiri Tamara yang sedang berkumpul bersama teman temaan di divisinya.


"Kok, ngga nyampe di meja kita nih, coklat," seru Ratih sambil mencomot coklat di tangan Ambar yang langaung menatapnya horor.


"Ambil sendiri, dong," kesal Ambar karena coklat yang baru saja diambilnya kini sudah berada di tangan Ratih


"Siapa yang nyari?" tanya Tamara heran.


Sekarang, kan, masih jam kantor. Karena divisi mereka lagi santai sambil menyusun daftar atlet yang akan bertanding, makanya bisa ngumpul sambil nyemil coklat. Ngumpul sambil kerja.


"Ngga tau... Cewe, sih, dia lagi nunggu di parkiran."


Aruna? batin Tamara senang.


"Nih, buat kamu sama teman teman di dalam," kata Tamara sambil menyodorkan sekotak coklat sebelum pergi menemui Aruna.


"Mantap. Makasih yaaa.....," sambut Ratih tertawa senang.


"Sama sama," jawab Tamara sambil melangkah pergi. Ratih pun melangkah ke divisinya sambil menenteng kotak coklatmya.


"Tanara mau nemuin siapa ya? Kayaknya senang banget?" tanya Ambar kepo.


"Temannya lah. Kalo musuh pasti langsung angker wajahnya," jawab Mita dengan senyum lebarnya.


Mereka pun tertawa kecil.


"Ngintip yuk," ajak Yuyun memprovokasi. Penasaran juga siapa yang ditemui Tamara. Teman atau musuh.


"Ngga ada yang boleh pergi dari sini. Udah dikasih banyak coklat, masih juga mau kepoin orangnya," cegah Dita sambil berkacak pinggang. Matanya memancarkan peringatan.


"Ayo, cepat selesaiin nih," sambung Mita sambil menatap Ambar dan Yuyun ngga kalah galak.


Makan coklat aja cepat banget, timbang ngerjain ginian lemot, ngga selesai selesai dari tadi, umpatnya dalam hati.


"Ya, ya," kata kedua sambil nyengir.


Tamara agak melambatkan langkahnya yang sejak awal sangat lebar. Karena ngga sabar ketemu Aruna.


Sosok yang berdiri memunggunginya terlihat asing. Tamara yakin bukan Aruma. Dia juga ngga merasa memiliki teman dengan gaya glamor gini.


Tamara sengaja berhenti dua langkah di belakangnya.


Gadis itu menyadari keberadaannya dan membalikkan punggungnya.


Dua pasang mata mereka saling bersitatap.

__ADS_1


Tamara masih ingat dengan perempuan ini. Walau hanya sekali itu bertemu. Perenpuan yang berlagak mesra dengan Alva saat di Dubai. Tapi kemudian diabaikan Alva.


Sedangkan perempuan itu menatapnya dengan tatapan meremehkan, memperhatikan dari atas hingga bawah. Sangat ngga menyenangkan.


Baru bertemu saja sudah menebarkan bau bau permusuhan, batin Tamara sewot.


"Lo masih ingat gue?" tanyanya sombong. Shina ngga abis pikir. Selera Alva sudah sangat turun drastis sekali.


Alva menyukai pegawai kantoran? decihnya mencemooh.


Bahkan dijadikannya istri!


Shina pun kaget ketika mendapatkan info di mana istri Alva bekerja. Shina mengira sebagai direktur di perusahaan terkemuka atau model. Ternyata hanya pegawai kantoran biasa.


"Ya," jawab Tamara ngga acuh


"Gue tau lo ngga bisa ijin lama lama. Gue cuma mau bilang, sebelum Alva tdur dengan lo, Alva sudah lebih dulu tidur dengan gue," katanya tajam.


DEG


Ada sakit yang dirasakan Tamara di dadanya. Dia sudah sangat tau seberapa berengsekmya si Alva, suaminya jaman dulu. Tapi mendengar langsung dari korbannya membuat perasaan Tamara ngga enak jadinya dan marah.


Jadi ini maksud dari ucapan Alva tadi di telpon, batinnya mengerti.


Ada sedikit rasa senang di hati Shina melihat perubahan di wajah Tamara.


Walaupun sempat emosi mendengar ucapan korban Alva di depannya, kini Tamara sudah menunjukkan ketenangannya kembali.


Tamara menatap Shina dengan tajam. Dia masih sabar untuk menahan tangan dan kakinya agar ngga mampir di tubuh perempuan ini.


"Gue punya foto foto waktu kita intim dulu," ujarnya seraya menyerahkan amplop coklat yang sedari tadi dipegangya


Tamara ngga sudi menerimanya. Dia membiarkan saja tangan yang terulur itu tergantung.


Shina tertawa sinis. Kemudian dia mengambil dua buah foto yang berukuran sepuluh R itu dan memperlihatkannya pada Tamara.


"Ini saat kami selesai menghabiskan malam yang very hot. Lihat wajah Alva. Dia terlihat sangat nyanan karena sudah dipuaskan," kata Shina dengan senyum liciknya sambil memamerkan foto itu.


DEG


Lagi lagi Tanara merasakan perasaan yang ngga enak melihat pose Alva yang tampak tertidur pulas dengan perempuan itu berada sangat dekat di sampingnya.


Memang dia sangar brengsek, maki Tamara dalam hati.


Kenapa dia harus berurusan dengan perempuan perempuan Alva

__ADS_1


Tamara merasa nasibnya sungguh apes sejak bertemu Alva dan sekarang jadi istrinya.


"Foto foto ini akan aku publish. Mungkin ngga akan tayang lama karena Alva bisa meretas dan menghapusnya. Tapi aku masih punya banyak lho," ancam Shina berdusta. Karena dia hanya sempat mengeprint lima lembar saja.


Puluhan foto mesra mereka yang dimaksud Shina yang sejatinya akan membuat geger medsos sudah hilang begitu saja.


"Terserah kamulah. Aku mau kerja lagi," kata Tamara sambil membalikkan tubuhnya bermaksud pergi.


Sudah resikonya punya suami yang memiliki masa lalu kelam.


Bodoh amatlah kalo sampai viral.


"Hei hei.... Tunggu, aku belum selesai," kesal Shina memanggil karena melihat ketakpedulian Tamara atas ancamannya.


"Apa?!" ketus Tamara. Udah muak juga dia rasanya untuk terus bersabar.


"Kamu ngga takut aku akan expose foto foto ini?" sentak Shina jengkel.


"Expose aja. Yang malu, kan, kamu sendiri. Terlihat j*a*lang," ejek.Tamara pedas.


"Kamu!" gertaknya marah kemudian menggerakkan kakinya untuk menendang Tamara.


Tamara hanya berdecih sambil memiringkqn tubuhnya sedikit, kemudian mendorongnya dengan tenaganya yang perlahan saja sudah membuat Shina hampir jatuh terjungkal. Untung ada badan mobilnya yang menahan tubuhnya. Sambil berpegangan pada kaca spion Shina menahan tubuhnya dari jatuh melosoh ke bawah.


"Jangan macam macam sama gue!" ketus Tamara sambil berbalik pergi meninggalkan Shina yang masih tersengal nafasnya dan pucat wajahnya.


"Awas aja! Gue akan balas lo," serunya mengancam setelah nafasnya sudah mulai teratur lagi.


Tamara hanya menepiskan tangannya ke belakabg tanpa menoleh. Seakan sedang mengusir lalat.


Baginya perempuan tadi sangat amat menjijikkan melebihi lalat.


Mau maunya perempuan itu menampakkan aibnya sendiri, hanya untuk menunjukkan aib Alva-suami brengseknya.


Dasar suami bodoh! Pintar dikit ngapa nyari pacar, umpatnya dalam hati


Sementara itu Shina masih menatap penuh amarah pada punggung Tamara yang menjauh. Menyesal dia ngga membawa para pengawalnya. Kalo saja dia menuruti kata kata intelnya, dia pasti ngga akan dipermalukan begini. Untung saja keadaan parkiran cukup sepi. Jadi dia mgga terlalu malu.


Nona, istri tuan muda Alva itu atlet karate.


Tapi Shina ngga memperdulikannya. Dia mana mau percaya. Memangnya Alva butuh istrinya buat jadi bodyguard? Dia punya banyak pengawal.


Tapi sekarang Shina sudah percaya kalo Tamara memamg atlet karate. Dengan mudahnya Tamara tadi membuatnya hampir jatuh. Kalo Tamara mau, pasti dia sudah babak belur sekarang dalam waktu yang sangat singkat.


Shina sampai melupakan niatnya agar perempuan itu membiarkan Alva menikah lagi dengannya.

__ADS_1


Ini belum selesai, batin Shina dendam.


Dia pun memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan kantor Tamara dengan hati masih diliputi amarah.


__ADS_2