
TOK TOK TOK
Tamara bingung, siapa yang mengetuk pintu. Setelah merapikan dandanannya yang sempat berantakan karena Alva, Tamara pun membuka pintu kamarnya.
"TAMARA!" seru Regan, Glen dan Arga bersamaan. Mereka ngga nyangka sekaligus lega karena Alva beneran bersama Tamara. Jauh dari pikiran buruk mereka.
Tamara ngga menyahut, dia hanya membuka pintu kamarnya lebih lebar. Dia masih merasa kesal. Walau dalam hati bersyukur karena sahabat sahabat laki laki kurang ajar ini yang datang.
"Jadi ini teman teman nona, ya, kalo begitu saya permisi," pamit sekuriti yang tadi sudah menolongnya.
"Ya pak," sahut Tamara ramah.
Begitu sekuriti itu berbalik pergi, Glen dan Arga langsung masuk ke dalam kamar mencari keberadaan Alva. Regan menyusul di belakaangnya. Tamara segera menutup pintu.
"Ngga ada?" ucap Glen bingung. Ketiganya pun menatap Tamara yang berjalan ke.arah mereka.
"Kata sekuriti itu, kamu yang nyelamatin Alva ke sini?" tanya Regan hati hati. Ngga mau mambuat sahabat Aruna yang galak ini tersinggung.
"Iya," jawab Tamara ketus.
"Lalu Alva di mana?" tanya Glen ngga sabar. Hampir saja dia akan menyibak sprei springbed untuk mencari keberadaan sahabatnya itu.
"Di kamar mandi," masih ketus Tamara menjawab.
Regan pun membuka pintu kamar mandi dan ketiganya sontak berteriak melihat keadaan Alva yang terendam pingsan di bath up.
"TAMARA!"
Ketiganya langsung masuk ke kamar mandi dan mengangkat tubuh basah Alva yang masih belum sadarkan diri.
"Kamu mau bunuh dia!" tuduh Glen sambil membuka baju sahabatnya yang sudah basah kuyup
Tamara ngga menjawab, hanya berdecih. Kekesalan masih menumpuk di dadanya.
Arga pun mengambil handuk.dan langsung mengelap.tubuh basah sahabatnya.
Gerakan Glen yang akan membuka boxer Alva terhenti oleh tangan.Regan.
"Kenapa? Kita harus mengeringkannya. Wajahnya sudah pucat. Bibirnya sudah matang biru," semprot Glen bagai air terjun.
Mata Arga dan Regan memberi isyarat keberadaan Tamara di depan pintu kamar mandi. Glen pun tersadar.
"Tamara, lo bisa menjauh, kan? Alva mau kita bugilin," katanya menggoda mebuat wajah Tamara langsung panas memerah.
Sambil menghentakkan kakinya, Tamara berbalik dan duduk.di atas tempat tidur dengan perasaan dongkol. Lagi lagi meratapi nasib karena berurusan dengan para laki laki brengsek ini.
__ADS_1
Ketiiganya kembali mengeringkan tubuh Alva yang sudah dingin. Tapi nafasnya masih ada. Hanya aneh, detak jantung Alva terasa lebih cepat.
"Kita bawa dia ke rumah sakit," kata Regan sambil keluar dari kamar mandi lebih dulu dan mendekati Tamara yang dengan santai menonton tivi.
"Aku mau ambil selimut," ucap Regan pelan.
"Nih, tadi aku beli dia dua kaos sama celana," kata Tamara ngga acuh sambil menyodorkan paper bagnya ke arah Regan.
"Oh, eh, terima kasih," sahut Regan ngga nyangka akan kebaikan hati Tamara. Padahal awalnya dia berpikir sama dengan Arga dan Glen, kalo Tamara berniat mencelakakan Alva.
Membiarkan begitu saja tubuh Alva yang pingsan di dalam bath up yang berisi separuh airnya.
Tapi ternyata gadis galak ini sudah nenyediakan pakaian kering buat Alva.
Yang masih mengganggu pikirannya, kenapa Alva dibiarkan saja oleh Tamara kedinginan di dalam bath up.
Setelah mengenakan Alva pakaian, ketiganya juga membalutkan selimut ke tubuh Alva.
"Kamu mau ikut kita ke rumah sakit?" tanya Regan menawarkan. Dia sudah melupakan insiden perjodohannya dengan Tamara.
"Ngga, aku mau di sini aja,"tolak Tamara.
"Lo harus ikut Tamara. Lo jadi saksi pemukulan Alva," seru Glen memaksa.
Bagaimana kalo para pengawal itu sadar dan menemukan Tamara? Tamara bisa dicelakai. Apalagi sekuriti itu tampak polos. Tadi saja dia ngga curiga sama sekali dan langsung mengantarkan mereka ke kamar Tanara
"Aku bisa jaga diri," tolak Tamara ketus.
Apa apaan ini. Dia ngga mau berurusan lagi dengan para laki laki kurang ajar ini, batinnya sewot.
"Kasus Alva beda, Tamara. Orang yang memukulnya bisa saja mencarinya ke hotel ini. Ayo ikutlah dengan kamu," kata Regan memberikan pengertian.
Arga dan Glen terus saja melangkah meninggalkan kamar Tamara, membiarkan Regan membujuk Tamara.
Tamara terdiam.
Mungkin juga, batinnya jadi ngeri mengingat Alva yang diberikan obat perangsang.
"Aku juga ngga enak sama Aruna kalo kamu ada apa apa," bujuk Regan lagi.
"Oke," sahut Tamara setuju. Aruna juga masih dalam.bahaya. Dia ngga mau sahabatnya jadi pusing memikirkan dirinya.
Regan tersenyum senang.
"Oh iya, pakaian Alva mana? Buat bukti. Kasusnya sudah dilaporkan ke kantor polisi," tanya Regan yang barusan teringat pakaian basah Alva yang sama dengan pakaian kering yang diberikan Tamara.
__ADS_1
Tamara pun melangkah ke dekat lemari dan mengambil pakaian Alva yang robek dan penuh noda darah.yang sudah disimpannya ke dalam plastk buat loundry.
Regan dapat mencium.bau amis darah di pllastik itu saat membukanya.
"Ayo," katanya kemudian mempersilakan Tamara berjalan duluan. Setelahnya Regan pun mengikutinya.
Mereka membawa Alva ke rumah sakit terdekat.
Sambil menunggu diagnosa dokter, Regan menelpon orang tua Alva yang tentu saja sangat panik mendengar kabar anak semata wayangnya di.rumah sakit.
"Orang tua Alva sebentar lagi akan datang," ucap Regan membuat keduanya menganggukkan kepalanya.
"Gue tadi telpon Reno. Bentar lagi dia ke sini," ujar Glen.
"Lho, itu, kan, Kiano? Sama Claudia, kan?" seru Arga kaget saat melihat tayangan tivi 40 inch di depannya.
Mereka pun sama menoleh ke arah siaran tersebut. Tivi itu menempel di dinding rumah sakit.
"Ngga mungkin," bantah Glen ngga terima.
"Kurang ajar " desis Tamara kesal.
Baru aja nikah, udah berani macam macam, omelnya dalam.hati.
"Hey, tapi langsung ada klarifikasi," seru Arga lagi membuat mata Glen makin terbuka.
Kembali ditayangkan foto yang hampir sama tapi dengan jumlah orang yang berbeda. Kemudian muncul video yang menjelaskan adegan di foto kedua tadi.
"Ada yang mau membuat hubungan Kiano dan Aruna panas," kata Regan sambil melirik Tamara yang kini mukanya sudah ngga setegang tadi. Tadi terlihat banget sahabat Aruna sangat marah melihat foto yang pertama.
Glen terdiam. Dia ngga bodoh. Tapi dia susah percaya, kalo Claudia yang melakukannya.
Diam diam Regan dan Arga mengamati wajah Glen yang berubah murung.
"Mengapa perempuan itu ngga tau malu memposting foto dirinya bersama Kiamo? Untung Kiano punya file aslinya," omel Tamra membuat ketiga laki laki itu menatapnya.
"Belum tentu juga Claudya. Bisa aja, kan, orang lain yang coba ambil keuntungan," bela Glen agak sengit. Dia selalu saja cepat emosi jika ada yang menuduh Claudia.
Ya, bisa aja, batinnya lagi. Tetap saja berusaha mencari celah pembenaran akan seorang Claudia.
"Huh, yang penting sudah di klarifikasi sama Kiano," ketus Tamara membuat Glen terdiam.
Regan dan Alva saling pandang dan mengangguk setuju dengan kata kata Tamara. Jika isu ini bertahan sehari saja, reputasi Kiano bisa buruk dan rumah tangganya akan gonjang ganjing.
Apalagi Aruna belum sepenuhnya percaya dengan Kiano. Ada gosip dikit aja tentang Kiano, Aruna bisa saja akan langsung minta pisah. Itu yang bisa ditangkap oleh mereka berdua akan hubungan Kiano-Aruna.
__ADS_1
Glen masih terdiam Hati kecilnya tau siapa yang diuntungkan jika gosip ini menyebar. Tapi apa mungkin?
Lagi lagi Glen ngga bisa dan ngga mau percaya kalo Claudia melakukan hal serendah ini