Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Menyalahkan


__ADS_3

"Kiano, aku ngga bisa biarkan teman kamu yang kurang ajar itu menikahi Tamara," cicit Aruna saat mereka berdua berdiri di depan kulkas. Dia masih kesal karena orang tua Tamara menerima Alva begitu saja tanpa menyelidiki siapa Alva sebenarnya.


"Alva itu dasarnya baik. Dia hanya usil," bela Kiano ngga terima temannya di jelekin.


Aruna hanya mendengus sebal.


Kiano tersenyum lembut, kemudian memerangkap Aruna setelah pintu kulkas gede mereka tertutup.


"Kiano, kamu ngapain. Ada banyak orang," gugup Aruna resah. kedua tangannya sedang memegang botol air dingin.


Kiano tersenyum smirk. Sedekat ini dia bisa merasakan kegelisahan Aruna.


"Kamu terlalu jauh mikirnya, sayang," bisik Kiano di kuping Aruna hingga gadis itu merasakan tubuhnya bergetar.


"Mungkin awalnya seperti kita, tapi lama kelamaan mereka pasti akan semesra ini," bisik Kiano lagi sambil menempelkan bibirnya di leher Aruna.


CUP


Aruna menggigit bibirnya menahan des*ahan yang akan keluar dari bibirnya. Matanya terpejam menikmati sentuhan lembut Kiano. Kedua tangannya semakin memegang erat botol yang berada di dadanya.


"Su sudah, Kiano," rintihnya sambil memejamkan mata.


Inilah yang Kiano sukai dari Aruna. Istrinya sangat gampang dia taklukan. Tanpa.suara Kiano menjauhkan tubuhnya dan meraih dua botol air dingin dari tangan Aruna.


Tersadar akan botolnya yang berpindah tangan, Aruna membuka matanya perlahan Wajahnya jadi merah menyala kala Kiano menatapnya nakal.


"Mau lanjut di kamar sekarang? Kalo di sini nanti ketahuan," goda Kiano sambil mengedipkan sebelah matanya.


Aruna ngga berkata apa apa selain membalikkan tubuhnya menghadap kulkas. Sungguh, dia malu sekali.


Kiano tertawa kecil. Kemudian membuka tutup botol minuman yang tadi dipegang Aruna.


"Minum dulu. Biar ngga malu malu lagi," goda Kiano kian terkekeh saat Aruna menyambut botol yang dia berikan.


Arunanya yang dulu dingin, cuek, selalu menolaknya, ternyata bisa malu malu gini di depannya. Kiano semakin terkekeh.


"Percaya sama aku, Tamara sama Alva akan seperti kita.nantinya," ucapnya santai setelah meneguk minumannya.


Aruna ngga menjawab. Setelah membasahi kerongkongannya, Aruna masih diam. Tapi kata kata ringan Kiano menyusup jauh ke dalam hatinya.


Teringat dulunya dirinya juga membenci Kiano. Tapi Tamara beda. Dari dulu sampai sekarang Aruna menyukai Kiano. Tapi Tamara sama sekali ngga ada rasa suka. Yang ada rasa sebal saja dan ingin menghajar Alva yang selalu bertingkah menjengkelkan.


Gimana nanti Tamara melewati hari hari daam pernikahannya.


"Aku lebih suka.kalo Tamara dengan Regan atau Arga," kata Aruna lirih. Track record keduanya masih cukup baik. Keduanya juga selalu bersikap sopan.


"Ohya?"


"Ya."

__ADS_1


"Arga itu belum bisa melupakan pacarnya yang waktu kuliah meninggal dunia karena kanker. Kalo Regan.....," ucap Kiano terhenti.


Dia merasa cukup menyesal telah membuka aib sahabatnya.


"Regan kenapa?" tanya Aruna pernasaran sambil membalikkan tubuhnya menghadap Kiano.


Kiano yang kedua tangannya sudah bebas, kini meraih Aruna dalam pelukannya.


"Aku ngga bisa cerita. Soal Arga juga tolong dirahasiakan, ya," ucap Kiano lembut membuat Aruna tanpa sadar mengangguk.


Aruna mengerti, itu privasi. Dia pun ngga suka orang lain mengorek keterangan tentang Tamara sahabatnya. Apalagi menyangkut hal pribadi Tamara.


*


*


*


Herman menatap putrinya tajam. Dari raut wajah hingga sikap, Claudya sangat mendominasi dirinya.


Ingin dirinya selalu mendukung apa pun yang putrinya lakukan. Tapi saat ini kondisi mereka sedang terjepit. Melvin bahkan sudah berangkat untuk mengurus perusahaan induk yang sedang goyah. Istrinya pun belum stabil karena memikirkan keadaan putrinya di sel penjara.


Dirinya telah melakukan kesalahan besar tanpa memperhitungkan skema kekuatan lawan.


"Claudya, kita sudah kalah. Pergilah ke luar negeri bersama Sasya. Biar masalah di sini dady dan Melvin yang menyelesaikannya," ucapnya tegas.


"Tapi dady," bantah Claudya tertahan melihat sorot tajam dadynya yang ngga mau dibantah.


Claudya terdiam. Kakaknya juga bilang begitu. Dia juga ngga mau kehilangan maminya.


Tapi ini masalah harga diri, ngeyel Tamara membatin.


"Untuk Kiano, kamu bersabar dulu. Belum tentu dia setia sampai akhir dengan istrinya," tandas Herman Permana memberi celah


Claudya menatap dadynya sebentar sebelum membuang nafas kesal.


"Baiklah, dady."


Ya, laki laki mana ada yang setia seratus persen. Pasti suatu saat Kiano akan tergelincir. Dan itu pasti olehnya, tekad Claudya membatin.


*


*


*


Alva melirik Tamara yang hanya duduk diam tanpa mau memandangnya. Saat ini mereka diberikan waktu berdua oleh keluarga mereka yang sedang semangat semangatnya membahas rencana pernikahan putra putri mereka.


"Ehem," batuk Alva memecah kesunyian. Tapi dia jadi kesal karena sama sekali ngga mempengaruhi sikap Tamara.

__ADS_1


Sialan, gue dikacangin.


Setelah menghela nafas panjang, Alva membetulkan posisi berdirinya menghadap Tamara yang sedang duduk tanpa mempedulikan apa pun yang dilakukannya.


"Lo udah siap nikah sama gue?"


Shitth


Alva memgumpat kesal karena ngga mendapat respon.


"Dengar ya. Gue ini bukan seperti Kiano. Gue ngga bisa setia. Gue masih suka dengan cewe cewe cantik seksi yang juga menyukai gue. Sebelum terlambat, sebaiknya lo batalin pernikahan ini," kata Alva memberikan wejangan.


"Kenapa bukan lo aja," sahut Tamara membuat Alva melengak.


Akhirnya dia direspon juga, batin Alva senang.


"Gue ngga bisa. Soalnya, gue duluan yang bilang mau tanggung jawab ke lo.Gimana coba gue tarik lagi kata kata gue," balas Alva cepat.


Mata Tamara menyorotnya dingin membuat Alva bergidik, seakan sedang ditatap mahluk halus perempuam berambut panjang.


"Bisa ngga, sih, lo mikir dulu sebelum ngomong! Ini semua gara gara mulut dan otak bodoh lo!" marah Tamara dengan sinar membara terpancar di kedua matanya.


Alva terhenyak.


Kuramg ajar..Seenaknya saja mengatai nya bodoh, harga diri Alva terusik.


"Gue terpaksa. Kirain lo pintar nangkap situasi. Ternyata lo ngga lebih bodoh dari gue," balas Alva tajam.


Tamara mengepalkan kedua tangannya erat erat..Andai saja mereka jauh dari para keluarga yang berisik, dia akan memukul Alva habis habisan. Apalagi mami Alva sudah memberikannya ijin. Tapi Tamara mencoba menahan kemarahannya.


"Kenapa? Lo mau mukul gue?" ejek Alva sinis.


"Gue selama ini ngalah karena lo cewe. Jangan lo pikir gue kalah kalo memang gue niat adu jotos sama lo," sambung Alva meremehkan.


Huh!


Tamara pun bangkit dari duduknya membuat Alva tanpa sadar mundur selangkah, ngga nyangka akan reaksi spontan Tamara.


"Lo mau apa? Mau ngajak berantem? Ayo, jangan salahkan gue kalo terpaksa nanti gue ngga segan segan nge hajar lo," ancam Alva galak. Tapi dalam hatinya dia ngga serius. Ngga mungkin dia mempermalukan dirinya, berkelahi dengan perempuan. Calon istri lagi.


Hah!


Alva membenci pikiran absurdnya.


Tamara hanya menatap sinis.


Cemen, batinnya mengejek laki laki di depannya.


Kemudian dia pun melangkah tanpa kata meninggalkan Alva, tapi dengan sengaja menabrakkan bahunya pada bahu laki laki yang disesalinya karena sudah berbuat baik.

__ADS_1


Alva jadi bergeser selangkah karena dorongan bahu Tamara.


Gila ni cewe. Makan apa dia sehari hari, umpat Alva kesal sambil melihat punggung Tamara yang bergerak cepat meninggalkannya sendirian.


__ADS_2