Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Move on?


__ADS_3

"Kita pulang duluan, ya. Tante telpon sama kirim pesan terus mau lihat keadaan Zizi secara langsung," pamit istri Arik sambil mengambil Zizi dari pelukan suaminya.


"Ya, ya," kekeh Arik mengerti. Tadi aja di rumah Qonita, Arik sudah kebingungan menghadapi tekanan tekanan tantenya.


"Sayang, nanti kamu cerita baik baik sama Oma ya. Biar kamu bisa maen terus di sekolah," ucap Arik sambil mencium putrinya. Ada selipan kata kata sakti agar si kecil mau menurut.


Athar kembali menggeleng gelengkan kepalanya mendengar kalimat kalimat hasutan Arik. Dan anaknya klop sekali dengan daddynya. Sangat menuruti kata kata daddynya.


"Siap, daddy," sahut Zizi sambil mengangkat tangannya ke pelipis kepalanya seperti tentara saat diberi perintah.


Mereka kembali tertawa dibuatnya.


"Om Arga mau kirim salam buat tante Qonita?" tanyanya bawel.


"Iya, boleh," sahut Arga sambil nyengir.


"Okkeee," balasnya genit sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ampun anak lo, Ze," tawa Athar.


"Didikan siapa.dulu," balas Arik cuek dan bangga.


"Ya daddy lah," sambung Zizi penuh semangat.


"Lo dengar, kan, Thar. Bukan didikan gue," kikik Zesa.


Arga dan Regan jadi melebarkan cengirannya. Apalagi Arga yang tadi dikedipin mesra oleh gadis yang masih teramat sangat kecil.


Ponakannya genit gini, tapi tantenya judes banget, batin Arga geli.


"Dadah daddy, Om," katanya sambil melambaikan tangannya. Keempat laki laki itu pun melambaikan tangan sambil tersenyum lebar.


Supir mama Qonita yang akan mengantar istri dan putri cerewetnya pulang ke rumah Qonita.


Rupanya mama Qonita sengaja menyuruh supirnya datang hingga Zesa-istri Arik terpaksa menyuruh supirnya yang sudah mengantarnya tadi untuk pulang.


*


*

__ADS_1


*


"Maaf, bang, aku sempat salah paham," kata Arga yang langsung menghampiri Arik saat laki laki ini akan masuk ke dalam mobil. Sementara Regan dan Athar sedang berbicara juga berdua di seberangnya.


Tapi sepertinya keduanya hanya pura pura saja, karena sedang memberikan kesempatan Arga dan Arik untuk berbicara berdua.


"Ohya? Kok, bisa?" senyum lebar menghiasi wajah Arik. Dia memang sempat merasa tatapan ngga nyaman Arga padanya di awal awal pertemuan tadi.


"Aku lupa kalo kita pernah ketemu, bang," kekeh Arga menutupi rasa malunya .


Arik mengangguk angguk mengerti.


"Wajar, sih. Kita ketemunya buru buru karena mau nyelamatin istrinya Kiano," sahutnya paham.


"Eng... Aku sempat liat abang pelukan sama Qonita waktu di kafe," ucap Arga malu saat mengaku.


"Oh... Kapan ya?" Arik berusaha mengingat.


"Oh, oya, saat jam makan siang, ya," lanjutnya lagi.


"Ya."


"Istriku dan istri Athar juga begitu. Dulu aku selalu membawanya saat kami berempat weekend," lanjut Arik lagi.


Arga mendengar dengan serius.


"Ya bang."


Arik menepuk pelan pundaknya setelah teringat sesuatu.


"Apa kamu yang mengatakan kalo laki laki boleh punya banyak kekasih?" tebaknya kemudian tergelak.


Arga mengangguk sambil melebarkan senyumnya. Tangannya menggaruk kepalanya yang ngga gatal.


Arik makin tergelak mengingat jawaban yang dia berikan pada adik sepupunya tambah membuat Qonita semakin kesal.


"Aku percayakan Qonita sama kamu. Dia jomblo. Soalnya tiap laki laki yang mendekatinya aku sinisin terus sampai ngga berani mendekati Qonita lagi."


Kemudian dia menatap Arga lekat karena calon suami adik sepupunya malah jadi terdiam.

__ADS_1


"Tenang, kalo sama kamu, aku beri kesempatan jalan tol bebas hambatan. Kamu oke berkelahi, itu yang aku suka. Jadi aku lebih tenang kalo Qonita memilih kamu," kata Arik jujur dan tulus.


Ooo .... gitu, batin Arga lega. Kirain dia akan disinisin juga. Apalagi kalo Qonita melaporkan tindakan menyebalkan yang sudah dia perbuat pada Qonita. Arga jadi meringis sendiri.


"Dulu waktu tk, Qonita hampir diculik. Untung aku dan Athar sempat melihat dan menyelamatkannya. Jadi aku butuh laki laki yang tangkas untuk bersama sepupuku. Kamu tau sendiri, kan, aku sudah punya istri dan anak. Istri Athar juga sedamg hamil. Kita udah susah nge keep dia," sambung Arik lagi.


Pernah diculik? Tapi ngga kelihatan dia trauma. Malah sengaja pengen diculik lagi karena suka mengumbar keseksiannya, omel Arga dalam hati.


"Oh iya, bang."


"Oke, aku pulang dulu. Athar sama Regan udah selesai juga obrolannya," katanya kembali menepuk pelan bahu Arga.


"Iya, bang."


"Mungkin nanti Qonita akan ngajak kamu cari tempat foto prewed," kata Arik sambil menahan pintu mobilnya.


"Mamanya yang menyuruhnya," tawa Arik.


Foto prewed? Apa mereka sebentar lagi akan menikah? batin Arga agak kaget.


Kemudian Arik menutup pintu mobil tanpa menunggu jawaban Arga. Begitu juga Athar setelah melambaikan tangannya.


Mobil mereka pun meluncur meninggalkan Arga dan Regan yang masih berdiri menatapnya.


"Sudah lega?" ledek Regan sambil berjalan menuju mobil mereka.


Arga hanya tertawa kecil.


"Bro, dimana ya, bagusnya buat foto prewed," tanya Arga beberapa detik kemudian.


Regan terdiam seolah berpikir.


"Nanti tanya aja sama Kiano yang sudah merid," jawab Regan sambil membuka pintu mobil, memberikan solusi.


"Ya, oke," balas Arga yang juga kini membuka pintu mobilnya.


Udah saatnya, kah, untuk move on?


Arga menghela nafas panjang.

__ADS_1


Aya, jangan marah, ya, batinnya seakan meminta ijin pada kekasih pertamanya sambil menatap ke arah langit.


__ADS_2