
Aruna menatap susternya yang sedari pagi hanya diam saja. Bahkan beberapa kali susternya salah menyebutkan nama pasien.
"Ada apa?" tanya Aruna ketika sudah berada di samping susternya yang kelihatan kaget dengan sapaannya.
Tuh kan melamun lagi.
"Eh, dokter, kaget saya," cetusnya hampir saja jatuh dari duduknya.
Aruna terkikik kecil. Untung pasien mereka sudah ngga ada lagi. Sejam lagi istirahat makan siang.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Aruna kemudian duduk di samping suster Uci.
"Ngga apa apa , dokter, saya hanya lagi gabut aja," sangkal suster Uci. Dia malu mau cerita. Kemarun kemarin udah yakin seratus persen kalo sang perawat tampan sudah menjadi miliknya. Hanya kesalahan kemarin, Januar merajuk. Semua pesannya ngga dibaca. Telponnya pun ngga dianggkat.
Suster Uci ngaku kalo dia salah. Andai saja dia ngga norak. Apalagi fotonya bersama mas Reno cukup mesra. Januar pasti langsung merasa kejungkallah kalo disandingkan dengan mas Reno nya yang lebih segala galanya.
"Cerita dong. Kamu ngga biasanya kayak gini?" tanya Aruna kepo.
"Ngga apa apa, kok, dokter," tepis suster Uci terus menyangkal.
"Kamu mau ijin cuti? Saya yang ngomong ke Bu Risty. Mau berapa hari?.Dua hari aja ya. Saya bisa kelimpungan kalo kamu kelamaan cutinya," tawar Aruna agak ragu. Cukuo sulit mencari pengganti suster yang fast respon seperti susternya ini.
Suster Uci tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Ngga perlu, kok, dokter. Minggu kemaren, kan, udah. Nanti saya di omelin bu Risty," tolaknya.
"Ngga apa. Nanti saya yang ngomong," ngeyel Aruna ngga nyerah, masih berusaha dengan niat tulus menolong.
"Ngga usah, dokter. Beneran. Saya belum butuh. Saya cuma lagi gabut," tolak suster Uci lagi.
"Atau kamu mau pinjam uang? Berapa? Kalo sejuta saya ada," tawar Aruna lagi setelah berpikir sejenak.
"Nanti aja ya dokter. Tanggal dua puluhan aja. Sekarang saya masih punya," tolak suster Uci ngga seratus persen menolak. Bibirnya menampilkan cengiran khasnya, sedikit membuat Aruna lega. Memang tiap tanggal.dua puluhan dia selalu meminjam uang sama.dokter Aruna. Bahkan sering diikhlaskan sama sang dokter. Alias ngga usah dikembalikan.
"Kamu butuh tunpangan pulang sore ini? Saya antar. Kebetulan saya ngga lagi kemana mana," tawar Aruna tetap ngga nyerah.
"Dokter baik banget," puji suster Uci terharu.
"Saya nanti, kan, pulangnya sama gebetan saya, dokter," dusta suster Uci pura pura senang.
__ADS_1
Aruna tersenyum lebar.
"Oiya ya, gimana kabar gebetan kamu. Yang mana, sih, orangnya. Saya jadi penasaran," tanya Aruna penuh semangat.
Waduuh, sekarang udah ngga mungkin lagi.
"Nanti dokter, saya kenalkan," dusta suster Uci sambil berharap kalo dokter Aruna membatalkan niatnya.
"Sekarang aja. Mumpung kita lagi ngga ada pasiem," ajak Aruna agak mendesak.
"Se sekarng ngga bisa dokter. Lagi nemeni dokter Ilham operasi," jelasnya membuat Aruna hanya bisa ber oo dengan perasaan kecewa.
Untung saja suster Ria tadi sudah memberitahukannya. Dia salut sama temannya, walaupun sama sama bersaing untuk memdapatkan Januar, tapi tetap mau memberikan informasi keberadaan Januar.
Saat Aruna mau bicara lagi, hpnya bergetar. Tante Bella.
"Halo tante," sapa Aruna ranah walau hatinya ngga tenang. Pasti diminta nemuin Kiano, tebaknya ngga semangat.
"Aruna sayang, tolong mampir ke resort Kiano ya. Tadi kata Glen, Kiano pusing gitu kepalanya. Padahal udah tante larang jangan kerja dulu. Anak itu ngga mau nurut.Tante share lokasi yaaa," omel tante Bella panjang lebar. Nadanya terdengar khawatir.
"Iya tante," sahut Aruba patuh
Betulkan, batin Aruna ngga gitu welcome
Ngga lama kemudian lokasi dimana Kiano berada muncul di hpnya.
Ciukup jauh juga. Apa dulu dia tiap ke sini setelah dari resortnya? batin Aruna merasa bersalah. Padahal tiap datang selalu dicuekin Aruna. Aruna jadi merasa berdosa.
"Suster Uci, nanti jam satu ada pasien lagi?" Aruna sangat berharap kalo ada pasien lagi, kalo perlu lebih dari dua orang.
Suater Uci pun memeriksa tabletnya.
"Ngga ada dokter. Dokter bisa santai. Atau dokter mau nemuin pacar dokter yang super tampan itu?"
Aruna tersenyum lega. Kecerewetan susternya sudah kembali. Tapi dia harus buru buru berangkat menemui Kiano.
"Saya pergo dulu ya, suster," jawab Aruna sambil membawa tas kecilnya. Ngga semangat. Beberapa hari lagi mereka akn menikah. Lagian kenapa dia kerja, sih. Kan belum sehat, omel Aruna kesal dalam hati.
"Dokter mau nemuin pacar dokter ya?" ucap suster Uci riang.
__ADS_1
"Iya. Kamu hati hati pulangnya ya," ucap Aruna sambil menepuk bahu susternya sebelum pergi.
"Dokter juga hati hati," kata suster Uci sambil melambaikan tangannya dengan perasaan senang. Sedikit lupa dia dengan kegundahan hatinya. Aruna pun balas melambaikan tangan sebelum melangkah pergi.
*
*
*
Begitu tiba di resort, Aruna jadi binhung. Setelah parkir di depan sebuah hotel mewah milik Kiano dan teman temannya, Aruna masih berdiam di dalam mobil.
Baru dia sadar sekarang, betapa jahatnya dia terhadap Kiano. Perjalanan memakan waktu hampir sejam. Mungkin Kiano bisa saja lebih cepat dari ini. Laki laki itu suka ngebut waktu SMA. Pasti sangat beresiko di jalan yang ramai dan minim rambu lalu lintas.
Aruna menghela mafas panjang. Andai saja tante Bella tau perlakuannya pada Kiano, pasti beliau akan ilfeel dengannya. Aruna pun akan membenci dengan calon mantunya jika memperlakukan anaknya semena mena.
Aruna berjanji dalam hati akan memaafkan Kiano. Dia pun memantapkan langkahnya memasuki hotel mewah desain Kiano. Dari dulu laki laki itu pandai menggambar. Aruna memuji kemandirian Kiano dan teman temannya untuk lepas dari nama besar keluarga.
"Nona .mau booking?" tanya seorang laki laki muda yang merupakan pegawai hotel, dilihat dari seragamnya.
"Em... saya diminta tante Bella menemui putranya Kiano," jawab Aruna agak ragu.
Pegawai hotel itu tersenyum ramah.
"Oh, nona dokter yang dihubungi nyonya ya. Nona bisa langsung naik lift ke lantai sepuluh Tuan Kiano dan nona Sasya ada di sana."
DEG
Aruna menyadari kalo dia masih mengenakan jas dokternya saking terburu burunya dia karena telpon tante Bella. Tapi nama Sasya yang disebut, membuat perasaannya yang sudah mencair, mulai membeku lagi.
Apa maksudnya? Siapa lagi Sasya, batinnya mendumel.
Dengan langkah gontai Aruna ditemani staf pegawai hotel itu menuju lift.
Setelah mengantar Aruna ke lift dan memberitahukan dimana kamar tuan Kiano, staf pegawai hotel itu pamit pergi.
D dalam lift Aruna hanya bisa termangu. Perasaan cempur aduk. Membayangkan Kiano bersama perempuan yang bernama Sasya membuat perasaan benci mulai menghangati jiwanya.
Dia pun menciba mengerti dan akan memarahi anak laki lakinya besok jika selalu mempermainkan perempuan yang selalu mencintainya. Mata Aruna terasa panas. Dia ingin menangis . Padahal pernikahan mereka tinggal memghitung hari lagi, tapi Kiano sudah berbuat ulah. Bagaimana bisa da menjalani hari harinya setelah ijab kabul jika Kiano selalu saja membawa pacar pacarnya. Kepala Aruna dipenuhi hal hal buruk tentang Kiano.
__ADS_1