
Glen memarkirkan mobilnya di sebuah kafe yang menyediakan aneka kopi, teh dan berbagai jenis roti, cake dan pudng.
Dia sudah janjian dengan beberapa sahabat sahabatnya untuk ngopi bareng.
Dia tertegun melihat Rain di sana dengan seragam pegawai kafe berada di belakang meja kasir.
Dengan langkah cepat, dia pun menghampiri gadis itu.
"Hai," sapa Glen ramah.
Beberapa pegawai di dekat Rain yang mayoritas perempuan menatap Glen kagum akan ketampanan laki laki itu.
"Eh, kak Glen," sambut Rain dengan wajah senang. Sejak mengobrol di minimarket dulu, baru kali ini mereka bertemu lagi.
"Kamu kerja di sini?" tanya Glen sambil mengeluarkan dompetnya untuk membayar pesanannya kopi dengan krim dan roti abon sapi.
"Iya, kak," kata Rain dengan tangkas meraih uang yang disodorkan Glen dan menaruhnya di rak kasirnya berdasarkan besaran uangnya.
"Ngga capek? Kamu, kan, kuliah?" tanya Glen perhatian saat melihat wajah Rain yang sedikit pias.
"Nggak," sahut Rain ringan kemudian memberi kode dengan matanya agar Glen bergeser karena di belakangnya ada dua orang perempuan belia yang akan membayar pesanannya.
"Sorry," ucap Glen dengan senyum mautnya membuat dua orang perempuan belia itu tersipu.
"Ngga pa pa," sahut mereka kompak.
Rain menipiskan bibirnya melihat sikap 0dua orang perempuan itu yang sama sekali ngga kesal terhadap Glen.
"Papa kamu udah sembuh?" tanya Glen lagi sambil terus memamerkan senyumnya pada dua belia itu hingga mereka salah tingkah.
"Sudah, kak."
"Syukurlah."
"Kamu kelihatan kurang sehat?" tanya Glen berpaling menelisik wajah Rain yang terlihat agak pucat.
"Kecapean aja, sih, kak," senyum Rain.
Glen ngga menyahut hanya membalas senyum Rain.
"Ikut ngobrol, yuk, di situ. Bentar lagi Reno sama Regan nyusul. Biar aku ngga kelihatan menyedihkan," tawa Glen hangat.
Raut wajah Rain langsung berubah suntuk walaupun ngga mengerti maksud yang tersirat dalam kata kata Glen. Untunglah dua orang perempuan belia tadi sudah beranjak menjauhi mereka.
Dan lagi rasa enggan muncul dalam benaknya mendengar nama Reno. Sejak hari itu Rain ngga pernah bertemu Reno lagi, dan dia amat sangat bersyukur.
"Kok, bisa, kak?" tanyanya kepo.
Kenapa menyedihkan? Bukannya malah menyebalkan, sinis Rain dalam hati.
__ADS_1
"Regan nanti datangnya bareng teman kamu yang berkerudung itu. Siapa ya, namanya?" jelas Glen menjeda, berpikir untuk mengingat.
Glen merasa sangat kesal setelah dia memaksimalkan otaknya pada saat meeting, ada beberapa saraf pengingatnya yang terputus.
"Dinda?" tebak Rain ngga percaya.
Bukannya Vani yang gemcar mengirimkan laki laki yang terlihat kaku itu banyak pesan? batin Rain agak bingung saat menganalisa.
Seingatnya Dinda juga ngga mempedulikan Regan. Kenapa mereka bisa bersama?
"Ya, Dinda. Akhirnya berani juga Regan mengganggu mahluk suci itu," kekeh Glen lagi.
Rain tersenyum mendengarnya. Dia sedikit tersindir mendengarnya. Sebegitunya mereka mengagungkan Dinda.
Tapi wajar, sih, pakaiannya yang selalu menutup aurat, dan pergaulannya seta sikapnya yang terbatas dengan para lelaki, memamg pantas dia memperoleh julukan itu. Mahluk suci.
"Nge date berempat aja, kak?" tebak Rain kembali menerima pembayaran kasir.
Glen menyesap kopinya yang sengaja di taruh di dekat meja Rain.
"Tunangan Reno juga ikut," cetus Glen sambil menaruh cangkir kopinya yang masih panas perlahan.
Dia ngga sempat melihat ekspresi Rain yang terpaku sesaat setelah mendengar kata katanya yang sangat mengejutkan.
Reno sudah bertunangan, batinnya kelu. Dia tiba tiba merasa sedih. Merasa dicampakkan setelah kehormatannya diambil secara paksa.
Tapi Rain udah ngga bisa tersenyum lagi. Bibirnya terasa kaku. Apalagi laki laki yang baru mereka bicarakan muncul di pintu masuk bersama gadis cantik yang sangat anggun.
Tatapan keduanya bertemu. Tapi Rain cepat mengalihkannya ke arah Glen.
"Sudah datang, kak," katanya terpatah. Dia menunduk, dan untung saja ada pembeli yang sedang membayar pesanannya. Jadi Rain bisa menyembunyikan eksoresi terlukanya.
"Siapa?" tanya Glen kemudian berpaling ke arah pintu.
Tangannya melambaikan pada pasangan baru itu dengan senyum lebarnya.
"Ayo ikut," tukas Glen saat berpaling pada Rain.
"Ngga, kak. Aku di sini aja. Kafe lagi rame," tolak Rain dengan menyibukkan diri mengatur lembaran uang yang diterimanya, sesuai tempatnya.
Glen memperhatikan suasana di dekat Rain. Memang ngga ada teman Rain yang nganggur.
"Ya, udah. Terpaksa aku terlihat mengenaskan," canda Glen sambil membawa cangkir kopinya ke arah meja yang sudah dipesan.
Rain tersenyum mendemgar kata kata player yang jadi jomblo saar ini.
Rain ngga mempedulikan lagi tiga orang yang sedang berkumpul itu. Dia pun ngga mau mencuri lirik pada tunangan Reno. Hatinya sudah perih.
Padahal dia sudah bertekat melupakan kejadian menyedihkan itu. Tapi kenapa, saat melihat Reno bersama tuangannya, masih ada sesak dalam dalam dadanya.
__ADS_1
Dia seharusnya melupakan dan membenci laki laki itu. Ya, seharusnya.
Satu tangan tanpa suara mengulurkan beberapa lembaran merah membuat kepalanya yang tadi menunduk terangkat.
Reno.
Keduanya kembali saling bertatapan.
Tapi Rain cepat mengambil uangnya, menaruhnya di rak kasir dengan tangam sedikit bergetar. Kemudian menyerahkan kembaliannya pada Glen.
"Ambil saja."
"Kami tidak menerima tips," tolak Rain datar. Harga dirinya makin tersinggung. Sekarang Reno membayarnya dengan recehan. Tau kah dia, cek lima ratus jutanya saja dirobek oleh dirinya?
"Buang saja," kata Reno dengan netra tajamnya.
Ingin sekali Rain melempar kembalian itu ke muka Reno, tapi dia ngga mau suasana kafe jadi heboh. Dia bukan gadis norak. Yang marah dan cari perhatian dari oramg yang menyakitinya di depan public. Apalagi ada Glen. Pasti laki laki itu akan memberikannya banyak pertanyaan penuh kecurigaan.
"Terima kasih," kata Rain dingin sambil menahan marahnya. Kemudian meletakkan uang itu di dekat rak kasir.
Biarlah untuk teman temannya saja. Dia ngga akan pernah sudi menerimanya.
Reno terdiam dalam sorot tajamnya, kemudian tanpa sepatah kata pun dia membalikkan tubuhnya pergi ke arah mejanya.
Di belakangnya pun.sudah ada beberapa laki laki dan perempuan yang memgantri.
"Kaget, ya, lihat dia," ucap Glen lugas. Dia sempat melihat interaksi mereka sekilas.
"Ya."
"Siapa?" tanya Nadia tertarik. Dia tadi hanya sibuk mengobrol dengan Glen tanpa memperhatikan Reno.
"Kasir itu, dia mahasiswinya Qonita, calon istri Arga," tunjuk Glen memberitau.
Nadia pun melihat ke arah yang ditunjuk Glen. Seorang gadis cantik yang sibuk menerima pembayaran dari pembelinya.
"Dia mahasiswi?" tanya Nadia memastikan.
"Iya."
"Aku salut melihat gadis yang masih muda tapi mau bekerja sambil kuliah. Apalagi hanya kasir," kata Nadia memuji.
"Kenapa kalo kasir?" sentak Reno tiba tiba panas. Kemudian dia merasa menyesal kenapa harus marah saat mendengar kata kata Nadia.
"Omongan ku salahnya dimana?" kesal Nadia ngga terima mendengar nada keras Reno
"Santai bro," ucap Glen setelah hilang keterkejutannya.
"Sorry," jawab Reno datar kemudian memyesap kopinya.
__ADS_1