Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Gagal Nikung


__ADS_3

Tamara mengenal Wahyu sudah cukup lama. Tiga tahun. Selama itu Tamara sama sekali ngga merasa kalo teman seprofesinya itu menyukainya. Tanda tandamya aja ngga pernah tampak.


Apa dia selama ini kurang sensitif?


Tamara menatap wajah Wahyu yang tampak tegang menunggu jawabannya. Seandainya saja jika pengungkapan ini sebelum perjodohannya, pasti akan dia pertimbangkan.


Sekarang ini pernikahannya sudah di depan mata. Bahkan kedua orang tua sudah sangat bersemangat mempersiapkannya. Tamara ngga mungkin merusaknya.


Laki laki di depannya juga tampan, dan banyak ditaksir teman teman sekantornya. Bahkan saat mereka dinas di luar kota, pasti ada saja salam yang dititipkan untuknya.


Wahyu cukup alim dan hanya hanya sedikit nakal. Tapi selama mereka berteman, Wahyu selalu memperlakukan Tamara, Mita dan Disa dengan sopan. Bahkan terkesan melindungi.


Rasanya sedih juga harus membuang kesempatan laki laki seperti ini. Tamara memejamkan matanya.


"Tamara?" panggil Wahyu dengan perasaan tegang. Firasatnya gencar mengatakan kalo dia akan ditolak.


"Maaf," ucap Tamara pelan tanpa berani melihat wajah Wahyu. Dia yakin, besok besok pasti akan ada kecanggungan di antara mereka berdua karena hal ini.


Wahyu berusaha tetap tersenyum walau pahit. Hatinya langsung hampa.


"Aku... aku dijodohkan," jelas Tamara getir.

__ADS_1


Matanya pun menangkap bayangan motor Alva memasuki parkiran kantor dan mendekat ke arah mereka.


"Oh," ucap Wahyu terpatah. Berusaha menerima kenyataan pahit dengan lapang dada.


Alva dari jauh menatap tajam di balik kaca helm fullfacenya ke arah keduanya yang tampak sangat dekat


Terasa aneh melihat si kekarnya sedang berduan dengan laki laki.


Temannya? dengusnya kesal dalam hati.


Seperti tadi saat menjemput Tamara makan siang, Alva pun berhenti di depan Tamara. Tanpa turun dari motor, dia menyerahkan helmnya untuk Tamara.


Kekasihnya? decih Alva kesal membatin.


"Ehem," seru Alva agak keras membuat Tamara tersentak.


Tamara pun memalimgkan wajahnya dari Wahyu dan dengan cepat memgenakan helmnya. Kemudian dia pun naek ke motor Alva.


DEG


Jantung Tamara berdetak keras ketika.Alva tiba tiba mengambil kedua tangannya dan meletakkannya di perut sixpack Alva.

__ADS_1


Tanpa berucap sepatah kata pun Alva melajukan motornya meninggalkan kantor Tamara.


Gery dan Ongki berjalan pelan mendekati Wahyu. Begitu juga Disa, Mita, Ambar dan Yuyun


Bahkan Gery dan Ongki berdiri di kiri kanan Wahyu sambil memegang bahu sahabatnya. Seolah sedang berusaha mrenguatkan hati Wahyu yang saat ini pasti sudah patah berkeping keping.


"Apa benar itu pacar Tamara?" cetus Ambar ngga bisa menahan rasa penasarannya.


Disa dan Mita menatap Wahyu yang masih terlihat shock. Begitu juga Yuyun. Mereka yakin pasti Wahyu sudah tau, karena tadi mereka melihat Tamara berbicara dengannya.


"Kepo terus loh," kecam Mita yang ngga tega melihat raut lemas Wahyu.


"Apa salahnya," balas Ambar cuek. Ambar akan lebih intensif mengawasi Tamara. Ambar juga sangat penasaran dengan wajah laki laki yang selalu tertutup helm fullfacenya.


Mita menggeleng gelengkan kepalanya sebal melihat tidak adanya kepekaan Ambar atas yang terjadi pada Wahyu. Dia benar benar pemburu berita gosip murahan.


Mita menghela nafas kemudian menatap lekat Wahyu yang masih bergeming. Dia benar benar ngga nyangka kalo Wahyu punya rasa khusus dengan Tamara. Wahyu yang tampan dan selalu menjadi juara nasional dan internasional menyukai Tamara yang cuek, tomboy dan sederhana.


Tamara, kamu beruntung sekali, batin Mita. Mita juga yakin, laki laki yang baru beberapa kali menjemput Tamara pasti bukan laki laki sembarangan. Apalagi sejak Mita juga tau siapa Tamara sebenarnya.


Mungkin itu anak teman bisnis keluarganya yang dijodohkan dengannya. Bisa saja seperti itu, duga Mita dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2