Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Reno yang Cemburu?


__ADS_3

"Reno, pulang, yuk. Aku ada meeting produk baru sama desainer," kata Nadia setelah beberapa lamanya.


"Oke," sahut Glen sambil meraih kunci mobilnya yang ada di atas meja. Dia juga lagi banyak kerjaan di kantor papinya dan harus segera kembali setelah jam istirahat makan siang.


"Gue juga mau pulang," timbrung Glen.


"Kamu mau diantar ke kampus atau ke rumah?" tawar Regan. Pengawal suruhan papinya yang menguntit Dinda sudah tau di mana runah Dinda. Bahkan sudah menginformasikan padanya.


Walau heran dengan alternatif pertanyaan Regan, tapi Dinda ngga mau bertanya. Dia hanya menggeleng.


"Belum mau pulang?" tanya Regan sambil melirik jam tangannya. Dia ngga bisa menemani Dinda karena ada janji dengan klien papanya sebentar lagi.


"Mau nemanin Rain?" tebak Glen.


Reno yang baru bangkit dari duduknya pun terdiam. Ingin ikut mendengar jawaban Dinda.


"Aku mau ngerjain tugas bareng Rain dan Vani. Bentar lagi Vani juga ke sini," jawab Dinda dengan bibir tersenyum penuh makna.


Glen dan Reno spontan melebarkan cengiran mereka. Paham dengan sindiran halus Dinda.


"Beneran tugas, kan?" Regan bertanya untuk meyakinkan dirinya.


Gadis ini beda, kan?


"Iya, kita udah daftar jadwal seminar," jelas Dinda lagi.


Oooh... batin Regan lega karena tadi dia sudah berprasangka buruk.


"Setelah ini skripsi ya?" tanya Nadia dengan senyum di bibirnya.


"Iya, kak."


"Semoga lancar, ya," do'a Nadia tulus.


"Terima kasih."


"Ya udah, tinggal dulu, ya. Sukses, Din," kata Glen sambil melangkah pergi diikuti Nadia dan Reno.


"Iya, kak."


"Ngga apa apa ditinggal?" tanya Regan sambilnmelihat sekitar. Pengunjung kafe mulai berkurang karena jam kantor akan berakhir.


"Ngga apa, kak."


Regan tersenyum lagi.


"Sukses ya," ucap Regan sebelum membalikkan tubuhnya.


"Kak....," panggil Dinda ragu. Ada yang mengganjal dalan dirinya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Regan sambil mengerutkan alisnya. Bingung.


"Kak Regan tau rumah Dinda?"


Regan tersenyum lagi.


"Mau diapelin malam minggu besok?" goda Regan dengan senyum miringnya.


Dikiranya Dinda akan bertanya soal apa.


Wajah Dinda merona. Padahal dia hanya butuh jawaban ya atau engga, malah dijawab lain.


"Oke, aku datang malam minggu besok," putus Regan sambil pergi. Senyumnya terukir begitu saja melihat wajah panik Dinda yang ngga bisa mencegah niatnya untuk datang ke rumahnya.


Palingan ngga serius, batin Dinda setelah melihat punggung Regan yang menjauh.


Sementara itu di dalam mobil, Nadia menatap Reno yang sudah menjalankannya ke luar dari parkiran.


"Kamu kenal baik dengan pacar pacar teman kamu," ujar Nadia agak sedikit ditekan.


"Hemm..."


Nadia jadi kesal dengan respon Reno yang kembali acuh ngga acuh dan dingin.


"Kenapa kamu ngga bisa ramah kayak tadi?" keluh Nadia kesal.


Reno ngga menyahut, hanya terus fokus menjalankan mobil. Tapi separuh pikirannya memikirkan Rain.


Wajahnya agak pucat?


Dia masih side job lagi selain ini ngga ya?


Benak Reno dipenuhi banyak tanya.


"Reno," panggil Nadia kesal karena di diamkan.


"Reno!" serunya lagi agak keras membuat Reno kaget dan hampir menyenggol mobil di sebelahnya.


Langsung saja bunyi klakson bertubi tubi terdengar membuat Reno menatap Nadia marah.


"Maaf," ucap Nadia menyesal. Hampir saja mereka menyerempet mobil orang lain.


Reno kembali memfokuskan matanya tanpa membalas kemarahan mobil yang hampir disenggolnya.


Whatever. Dia juga salah karena tadi melamun memikirkan Rain.


Kenapa dia ngga bisa melupakan gadis itu?


Kenapa pula gadis itu ngga mencarinya?

__ADS_1


Dia butuh banyak uang, kan?


Kenapa cek darinya malah di robek?


Nadia yang awalnya merasa bersalah kini mendengus kesal, melihat Reno yang kembali ngga mempedulikannya.


Apa dia bisa bertahan dengan laki laki seperti ini?


*


*


*


Sudah satu jam lebih Reno menunggu di dalam mobil. Sekarang sudah pukul sepuluh malam. Kafe baru saja di tutup.


Kenapa dia belum keluar juga, kesal Reno sambil terus bolak balik melihat jam di tangannya.


Matanya menyipit saat melihat Rain baru keluar bersama dengan beberapa pegawai yang lain. Dia kelihatannya sedang mengobrol dengan salah satu laki laki yang merupakan pegawai di situ.


Dada Reno tiba tiba saja memanas melihat laki laki itu mengeluarkan motor maticnya dan mendekatkannya pada Rain.


Ngga lama kemudian Rain pun menaiki jok di belakangnya dan motor matic itu pun melaju meninggalkan parkiran.


"Dia ambil side job lagi?" gumam Reno dalam marahnya. Dalam geram Reno pun menukul stirya dengan keras sebelum memacu mobilnya dengan kencang. Bahkan sengaja hampir menyenggol motor yang membawa Rain.


"Gila, tuh orang! Mabok apa, ya?!" kaget Adi gusar karena hampir saja menyerempet motor matiknya dengan tiba tiba. Padahal jalan di sebelahnya masih cukup luas untuk dilewati mobil itu.


Jantung Rain pun tadi hampir copot karena kejadian itu begitu tiba tiba.


Mobil itu pun sudah ngebut meninggalkan mereka


"Orang itu kenapa, sih," sungut Rain. Hampir saja dia mati muda.


"Apa semua orang kaya harus sembarangan menyetir?" sambungnya lagi mengomel. Jantungnya pun masih berdegup kencang.


"Ngga semua," balas Adi masih belum tenang karena kekagetannya tadi. Memamg yang hampir menyerempet mereka mobil mewah keluaran terbaru. Adi cukup paham karena baru melihat beberapa saja yang sejenis parkir di kafe mereka baru baru ini.


"Rata rata. Cara nyetirnya membahayakan orang lain," gerutu Rain masih dongkol.


"Iya, bahaya banget. Kamu ngga apa apa, kan?" tanya Adi agak khawatir.


"Ngga apa apa, kak."


"Syukurlah. Kita jadi ke rumah sakit, kan?"


"Eh, iya, kak."


"Kalo tadi ditabrak, kita pun tetap juga ke rumah sakit. Cuma ngga naek motor ini, tapi naek ambulan," canda Adi kemudian tergelak.

__ADS_1


Rain pun tertawa ber derai derai mendengarnya.


Iya ya.


__ADS_2