Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Nikah di Rumah Sakit


__ADS_3

"Sah!" seru teman teman Regan spontan dan kompak ketika Pak Penghulu menamyakan ke saksi.


Mereka dalam formasi lengkap memenuhi kamar VIP rumah sakit. Ngga banyak yang hadir. Mama Regan dan papanya, juga dan orang tua Dinda. Kakek dan nenek Regan. Aira bahkan Riko juga ada di sana. Dan sahabat sahabatnya yang di daulat sebagai saksi.


Regan pun masih terbaring di ranjang sakit dengan kemeja batik. Sedangkan Dinda tampil anggun dan manis demgan kebaya brokat dan kerudungnya.


Mereka hanya melakukan pernikahan secara agana dahulu, agar Dinda bisa merawat Regan tanpa takut khilaf. Setelah Regan sembuh, baru mengurus surat surat yang diperlukan agar pernikahan mereka diakui negara dan akan menggelar resepsi secara besar besaran nantinya.


"Alhamdulillah."


Mama Regan saling berpelukan dengan Umi Salamah dan nenek Regan. Papa Regan saling berjabat tangan dengan Papa Dinda. Kakek menghapus air matanya dan berdiri di samping Aira.


Walau awalnya beliau marah melihat keadaan Regan, tapi melihat proses ijab kabul cucunya membuatnya sangat terharu. Riko juga hadir melihat proses itu. Tapi kemudian dia berjalan keluar dari ruangan Regan tanpa mengucapkan selamat pada saudara tirinya yang sedang berbahagia dengan para sahabatnya yang sudah mengerumungi Regan dengan penuh tawa.


Bahkan Alva yang baru nyampe tadi pagi, bersama Tamara langsung menyusul ke rumah sakit untuk melihat kebahagiaan Regan.


Rain pun memeluk Dinda, mengucapkan selamat dan ikut berbahagia.


"Cepat nyusul ya, Rain," do'a Dinda tulus.


"Aku ntarlah. Bu Qonita duluan setelah ini. Ngga nyangka kamu yang duluan. Selamat, ya, Din," ucap Rain dengan senyum manisnya.


"Selamat, ya , Dinda," ucap Qonita dengan senyum bahagia. Ngga di sangka Dinda yang lebih dulu menikah. Pernikahan ini terasa sakral walaupun dilakukan secara sederhana.


"Terima kasih bu," balas Dinda dengan pendar bahagja di matanya.


Tamara dan Aruna juga ikut mengucapkan selamat.


"Kamu kelihatan capek banget?" tanya Aruna kasihan melihat Tamara yang sepertinya kurang tidur dan wajahnya yang pucat seperti abis latihan dengan sangat keras untuk pertandingan.


"Alva udah ehem ehem sama kamu?" bisik Aruna curiga.


"Emm.... udah," bisik Tamara malu malu.Wajahnya merona banget.


"Serius?" bola mata Aruna membesar. Menatap Tamara yang terlihat salah tingkàh dengan sorot terkejut. Di luar perkiraannya ternyata.


Alva berhasil ngalahin lo? batin Aruna ngga percaya. Padahal selama ini Kiano sangat mengkhawatirkan keselamatan Alva saat bersama Tamara. Kiano salah Ternyata Aruna yang harus khawatir.


Tamara menganggukkan kepalanya.


"Sudah, jangan tanya tanya lagi," sambungnya masih berbisik juga. Malu banget rasanya mengingat semua perbuatan Alva padanya.Malu tapi senang. Tuh kan.


Malam itu Alva menggila lagi. Mereka hampir lanjut ke ronde tiga sampai akhirnya telpon dari Reno menghentikannya.


Alva pun langsung memesan tiket pesawat untuk malam itu juga. Dia ngga mau melewatkan momen ijab kabul Regan.


Tamara yang lemas, tertidur pulas di dalam pesawat selama perjalanan. Sedangkan Alva hanya tidur tidur ayam sambil terus menatap wajah lelah Tamara. Sehingga dia merasakan jetflag saat berada di rumah sakit.


Aruna tanpa sadar tersenyum. Mengingat malam pertamanya yang panas dengan Kiano.

__ADS_1


"Berapa kali?" tanya Aruna dengan mimik menggodanya. Tetap berbisik.


"Arunaaa.... jangan tanya tanya lagi," rengek Tamara memohon.


Aruna melebarkan senyumnya.


"Aku bahagia melihat kamu bahagia. Awalnya aku pikir kamu tersiksa menikah dengannya," bisik Atuna jujur.


Tamara ngga menyalahkan pikiran buruk Aruna. Dia juga ngga mengira perkembangan hubungannya sampai seperti ini. Sepertinya dia mulai menyukai laki laki yang dulu selalu dicapnya brengsek.


"Ngga nyangka, lo ngelangkahi gue," gelak Arga. Dia.yang sudah prewed dan tinggal beberapa minggu lagi akan menikah, ngga nyangka di dahului Regan dengan cara yang ngga biasa.


"Lo lelet, Ga," decih Reno mengejek.


"Lo gercep, Reg," tambah Glen terkekeh.


"Lo memang antimainstream," sambung Glen lagi.


Sangat di luar dugaan kalo pilihan Regan jatuh pada Dinda.


Mungkin karena itu jadi harus cepat dinikahi, gelak Glen lagi akan analisa konyolnya.


Sahabatnya cukup beruntung bisa langsung menikah setelah hampir kehilangan nyawa, tambahnya dalam hati.


"Jangan kasar kasar maen lo. Lo aja masih dililit perban," ejek Reno tertawa lepas.


"Di rumah sakit mana enak. Ngga kedap suara," ejek Glen menimpali.


"Kayaknya lo bakalan puasa dulu," cicit Alva ikut menyindir.


"Cih, kayak lo udah unboxing aja," sarkas Glen telak.


Alva walau pusing tetap menampilkan smirk kebanggaannya membuat mereka menatap Alva takjub.


"Lo serius?" Reno menatap ngga percaya.


Lo ngga celaka, kan? Junior lo masih oke? batinnya sedikit khawatir.


"Seriuslah," jawab Alva sombong.


"Weeizzz.... Alva kita memang sang penakluk," puji Glen ikutan bangga. Kembali tawa menguar membahana tercipta.


Kiano ngga berkomentar, hanya tertawa mendengar celotehan mereka. Dia melirik Aruna yang sedang berbicara serius dengan Tamara. Bumilnya sedang menginterogasi Tamara rupanya. Segitunya dia mengkhawatirkan sahabatnya. Kiano tergelak karenanya.


Kemudian dia menatap Regan penuh syukur. Karena luka tusukan itu ngga kena organ dalamnya.yang vital.


Dia.dan teman temannya masih geram mendengar cerita Aira. Bisa bisanya seorang wanita nekat seperti itu. Hanya demi saham yang Regan pun pasti ngga inginkan sama sekali. Regan pasti juga memikirkan Riko karena Kiano sangat tau sahabatnya itu bukan pribadi yang serakah.


*

__ADS_1


*


*


Setelah semua orang pergi, seperti sengaja meninggalkan mereka bedua, Regan menatap Dinda sangat lekat. Jantungnya berdebar. Dia sangat terpesona karena saat ini Dinda sudah melepaskan kerudungnya dan membiarkan rambut hitam bergelombamgnya tergerai indah melewati punggungnya.


"Udah dikunci pintunya?" tanyanya was was.


"Udah, kak," jawab Dinda malu karena kini mereka hanya berdua saja. Tadi Dinda sebetulnya agak ragu melepaskan kerudungnya. Kini dapat dilihatnya tatapan Regan menyorot tajam padanya.


"Kenapa ngga mas lagi manggilnya?" senyum Regan menghipnotisnya.


Regan sudah bertelanjang dada, karena perban ini cukup menyulitkannya. Dia merasa gerah memakai baju karenanya.


Dinda tersenyum malu. Dia ingat awal mula mengenal Regan dulu memanggilnya dengan sebutan mas.


Sebutan itu berganti karena Rain dan Vani yang selalu menyebut mereka kak. Dia hanya menyesuaikan saja. Ngga nyangka Regan masih mengingatnya.


"Sini," panggil Regan yang dalam posisi duduk menyandar.


Dinda menghampiri dengan wajah merona dan jantung berdebar kencang.


"Duduk di sini," tunjuk Regan pada sisi kosong sebelah kanan. Sisi perbannya berada.


Dengan gugup Dinda duduk di sana.


"Kamu cantik banget," ucap Regan sambil membelai rambut hitam Dinda dengan tangan bergetar.


Gila. Kemapa dia jadi grogi, umpatnya dalam hati.


Dia menatap Dinda yang menunduk, ngga berani menatapnya.


Kemudian Regan mengambil seuntai kecil rambut itu dan mendekatkan ke hidungnya. Memciumnya lama.


Harum, batinnya.


Kemudian Regan memegang dagu Dinda dan mengangkatnya hingga wajah itu sejajar dengan wajahnya.


"Kamu tau nggak apa yang selalu ingin aku lakukan selama ini di dekat kamu?" tanya Regan dengan penuh hasrat. Nafas panasnya membakar wajah Dinda.


Gadis itu ngga menjawab, hanya memandangnya resah.


Regan pun menekan lembut tengkuknya dan mendekatkan bibirnya pada bibir Dinda yang selalu didambanya. Mata Dinda terpejam saat bibir mereka bersentuhan.


Regan melakukannya dengan lembut. Mencecap rasa manis itu. Menghisapnya pelan dan mel*umatnya dengan penuh hasrat.


Akhirnya dia berhasil juga merasakannya. Bahkan dia mendengar erang perlahan yang berusaha ditahan Dinda membuat gairahnya semakin terbakar.


Tangan bebasnya pun menyentuh sisi terlarang gadis itu tiada henti. Sementara tangan satunya terus menekan tengkuk Dinda untuk lebih memperdalam ciuman mereka.

__ADS_1


Regan pun tersenyum ketika Dinda membalas ciumannya dengan gairah yang sama tingginya dengannya.


__ADS_2