
"Aruna gimana? Lo udah habisin dia?" ledek Glen ngakak. Alva dan Reno juga ikutan ngakak. Sedang Regan dan Arga hanya nyengir saja melihat wajah kusut Kiano.
Kiano ngga menjawab. Dia masih kesal karena Aruna lebih memilih pergi menemani Tamara. Padahal dia masih ingin lanjut lagi.
Pasti sengaja menghindar, kesalnya membatin.
"Baru nikah sehari udah hobi bengong dia," sarkas Glen terus mengompori.
"Udah dipelet habis dia sama Aruna," tawa Alva menjadi jadi. Sampai memegang perutbya yang terasa sakit.
"Sukses lo ya berarti," tambah Reno ngga mau kalah.
Mereka yakin, Kiano dan Aruna berhasil belah duren.dengan sukses. Mungkin ngga cukup satu ronde.
"Lo memang beruntung. Aruna tipe penurut, apa kata lo aja," timpal Glen iri.
Kiano menggusar rambutnya kesal. Menyesal harus berkumpul dan mendengarkan ocehan ngga penting teman teman gilanya.
"Lo suruh Aruna pindah rumah sakit aja kalo lo cemburu sama dokter saingan lo," hasut Alva membuat Kiano menoleh padanya dan menatapnya dengan sorot tajam.
"Gue salah?" tebak Alva meremehkan.
"Lo cemburu, kan?" tantang Alva lagi membuat Regan dan Arga menggelengkan kepala mereka. Alva lebih jago dari iblis soal menghasut ke jalan yang salah.
"Lagian salah lo, juga kan. Udah gue bilang, ngga usah diambil tendernya. Tapi lo tetap ngotot," tuding Reno sedikit kesal. Harusnya mereka sudah bisa kembali, tapi Kiano mengambil banyak tender dan dengan sukses memenangkannya.
Kiano mengeluh dalam hati. Waktu itu dia lagi frustasi karena Aruna berkali kali menolaknya. Dia hanya ingin menyibukkan dirinya dengan pekerjaan agar ngga larut dengan minuman alkohol.
Ngga disangka jalannya untuk mendapatkan Aruna dipermudah kakeknya. Mami dan papinya juga mendukung. Bahkan keluarganya cukup mengenal.keluarga Aruna. Dan dalam waktu singkat Aruna kini sudah resmi jadi istrinya.
Setelah menikah bukannya bisa bersenang senang menikmati bulan madu, tapi malah dikejar segudang pekerjaan yang menumpuk.
"Makanya, bro. Kalo mau ambil keputusan dipikir dulu yang benar," nasihat Regan setengah meledek. Kembali mereka mentertawakan penderitaaan Kiano.
"Tapi kalo lo nyuruh Aruna pindah rumah sakit, lo terlihat sangat egois," kata Arga memberikan pendapatnya.
"Dokter saingan lo tambah besar kepala karena ngerasa lo takut dengan dia," sambung Regan.
"Betul," timpal Reno dan Glen berbarengan.
"Bisa bisa lo dicampakkan Aruna karena ngga tahan dengan sifat posesif lo," cerca Alva tambah membuat hati Kiano kian panas.
"Yang penting, lo kasih kepercayaan dengan Aruna. Aruna itu gadis baik baik. Dia ngga genit. Kalo gue, seribu persen percaya dengan Aruna," kata Regan berusaha mendinginkan hati Kiano.
Kiano tau Regan benar. Dia seharusnya mempercayai Aruna. Tapi hatinya selalu panas melihat dokter sialan itu selalu memanfaatkan profesinya untuk alasan kedekatannya dengan Aruna.
"Oh iya, gimana dengan Tamara, Gan?" tanya Glen ingin tau kelanjutan hubungan Regan dan Tamara.
"Lo dengan Tamara?" Alis Kiano naik sebelah, menatap heran.
Hey, dia ketinggalan hot news?
"Engga, cuma biasalah kakek lo," sanggah Regan merasa ngga nyaman.
__ADS_1
"Lo dijodohin sama Tamara?" kekeh Kiano.
Kakek, kakek. Kenapa bukan Lilo aja.
"Kok, bisa?" hanya itu yang bisa terucap dari mulut Kiano.
"Kakek, kan, ajaib," balas Reno terkekeh.
"Mungkin bagi kakek, lo dianggap anak baik baik dibanding kita kita," gelak Alva berderai derai.
"Betul itu," tanggap Glen ikut tergelak
Di antara mereka berlima, hanya Regan dan Arga yang track recordnya cukup baik dalam hal perempuan.
"Tamara cantik juga waktu pake kebaya," kekeh Alva yang mengingat betapa kikuknya gadis kekar itu berjalan mendampingi Aruna.
"Ya udah, sama lo aja," timpal Arga membela Regan.
"Bisa bonyok gue kalo jadi lakinya," tolak Alva mentah mentah membuat para sahabatnya pun tertawa.
Juara karate gitu harusnya jadi bodyguard, batin Alva meremehkan.
"Gan, lo ngga tertarik sama Tamara?" tanya Kiano pelan yabg hanya bisa di dengar Regan.
"Bukan ngga tertarik. Ngga pernah kepikiran," jawab Regan balas berbisik. Tapi memang seperti itu, Regan ngga pernah mengira kalo kakek Kiano akan menjodohkannya dengan Tamara. Jauh di luar jangkauan pikirannya.
Kiano manggut manggut setuju.
Lagian kenapa kakeknya mesti repot repot mencarikan jodoh Regan
"Beberes atau minta jatah," ledek Glen.
"Sekalian," sahut Kiano cuek dan berbalik pergi. Sahabat sahabatnya tambah tergelak mendengar jawaban jujur Kiano.
"Kiano yang pengalaman takluk dengan Aruna yang polos," kekeh Alva tambah membuat mereka berderai derai.
"Gue yakin, mereka berdua udah sama samabsuka sejak SMA," timpal Glen di sela derai tawanya.
Mungkin, batin Regan menjawab. Setelah ketahuan Aruna soal taruhan itu, Kiano beberapa kali ketangkap olehnya sedang menatap Aruna diam diam.
Bahkan kata Reyhan yang satu kampus dengan Aruna, beberapa kali bertemu Kiano di kampusnya. Mau ngapain lagi kalo ngga memata matai Aruna.
Seringai tipis muncul di wajah Regan.
Syukurlah, akhirnya lo bisa jadiin Aruna istri lo.
*
*
*
Kiano menatap Tamara yang berjalan sendirian dengan heran.
__ADS_1
Mana Aruna?
"Hai, Tamara," sapa Kiano sambil memutarkan bola matanya ke sekeliling halaman samping rumah mewah kakeknya, mencari Aruna.
"Cari Aruna?" tebak Tamara langsung.
"Tadi sama lo, kan?"
"Dia udah balik ke kamar kalian."
Haah, kok, ngga ketemu, batin Kiano heran.
"Ya udah, gue langsung ke kamar," pamit Kiano berbalik pergi.
"Huufftt."
Tamara menghembuskan nafas panjang.
Apa Kiano sudah mulai jadi bucin?
Tamara menatap punggung Kiano yang berlalu dengan cepat. Bahkan laki laki itu setengah berlari membuat bibir Tamara mengulaskan senyum.
Sepertinya kamu akan baik baik saja, Runa, batin Tamara sambil berbelok ke arah kamarnya
BUGH
"Ah," serunya kaget karena menabrak seseorang. Tanpa sadar dia meraih lengan orang yang ditabraknya agar ngga jatuh.
"Eh, maaf," ucap Tamara kemudian tertegun menyadari siapa yang dia tabrak. Sahabat Kiano, Regan.
Sedangkan Regan terlihat salah tingkah begitu menyadari siapa yang menabraknya dan sekarang bergelayut di lengannya.
"I iya," sahutnya gugup, sambil melirik lengannya yang masih dipegang Tamara.
Reflek Tamara pun melepaskannya. Tanara merasa aneh dengan situasi yang dialaminya bersama Regan. Terasa canggung.
"Kamu.... pulangnya naek apa?" tanya Regan berusaha santai.
"Naek kereta."
"Jam berapa?"
"Jam lima sore."
"Oo."
Kembali suasana canggung menyergap mereka.
"Oke, hati hati, ya," kata Regan kemudian tersenyum tipis sebelum melangkah pergi.
Sial, kenapa.gue jadi gugup, rutuk Regan dalam hati. Tapi dia lega sudah bisa menjauh dari Tamara. Rasanya tadi dia sangat mrnbutuhkan tabung oksigen saat berada di dekat Tamara.
Tamara ngga menjawab, hanya memandang punggung Regan yang menjauh.
__ADS_1
Mengapa dia jadi aneh, batin Tamara bingung.
Ngga penting, batinnya lagi sambil berlalu ke kamarnya.