
Alva membawa motornya meliuk liuk menerobos macet. Dia harus cepat sampai ke tujuan, karena itu Alva lebih suka membawa motor. Andai dia membawa mobil, pasti masih stuck dan belum sampai ke kantor Tamara karena terjebak macet.
Jantung Tamara berdebaran ngga menentu. Cara Alva membawa motor sangat piawai dan bagaikan di sirkuit. Tak jarang Tamara memejamkan mata saat belokan yang tajam atau saat mereka berada di antara dua mobil atau truk.
Tanpa disadarinya, Tamara semakin erat memeluk Alva, bahkan menempelkan wajahnya di punggung laki laki kurang ajar itu. Ada yang hangat mengalir dalam darahnya.
Tapi Tamara tau dia ngga bisa terlalu berharap pada fuckboy seperti Alva. Padahal jauh dalam hatinya ada sedikit pengharapan kalo Alva bisa seperti Kiano, suami sahabatnya Aruna.
Ngga lama motor itu berhenti di rumah makan seafood yang cukup besar. Sudah banyak motor dan mobil terparkir di sana.
"Lo alergi seafood?" tanya Alva sambil menoleh. Mereka masih belum turun dari motor.
Tamara menggelengkan kepalanya ketika tatapan keduanya bertemu. Tapi debaran jantungnya masih berpacu kencang
"Gue terpaksa ngebut. Biar lo ngga telat kembali ke kantor," kata Alva sambil membuka helmnya. Dia mengibas ngibaskan rambut gondrongnya kemudian menyisirnya dengan tangannya.
Tamara terdiam melihatnya. Bahkan dia masih bergeming saat Alva melepaskan helmnya.
"Lo ngga mau turun?"
Eh.
Wajah Tamara memanas saking malunya. Laki laki itu bahkan sudah memegang helmnya dengan senyum miring di wajahnya.
"Jangan bilang lo takut," ledek Alva mengejek.
"Nggaklah!" bantah Tamara menyangkal. Dia ngga terima dengan tatapan meremehkan itu. Dia segera turun dari motor yang rupanya sudah sejak tadi dimiringkan Alva.
Ya Tuhan. Benarkah ini nanti akan menjadi suaminya? batin Tamara putus asa.
DEG
DEG
Dada Tamara berdesir saat tangan Alva tiba tiba sudah berada di kepalanya dan sedang merapikan rambutnya. Bahkan Alva melepaskan kunciran yang sudah ngga rapi tu membuat rambut sedada Tamara tergerai bebas.
"Gini aja lebih cantik," senyum Alva sambil memamerkan ikat rambut Tanara.
"Kenapa dibuang?" seru Tamara kaget ketika melihat Alva melemparkan ikat rambutbya ke tong sampah. Untung Tanra sangat gesit menangkapnya.
__ADS_1
Dengan kesal Tamara memasukkannya ke dalam saku roknya membuat Alva geleng geleng kepala.
"Ikat rambut sudah jelek gitu. Nanti aku beliin yang banyak dan yang lebih bagus," ejek Alva membuat Tamara mendelikkan matanya.
Baginya asal karet ikat rambut dua ribuan itu belum kendor, dia akan terus memakainya.
"Ayo," ajak Alva sambil merengkuh bahunya dan berjalan masuk ke dalam rumah makan itu.
Tamara yang kaget ngga bisa menolak dan akhirnya mengikuti langkah kaki Alva.
Runah makan ini terlihat santai karena pengunjungnya makan lesehan.
Tamara ngga nyangka selera Alva bisa merakyat juga. Padahal setaunya laki laki ini dan teman temannya lebih menyukai restoran yang berkelas tinggi dan mahal.
"Di sini menu seafoodnya enak. Gue sama anak anak kadang ke sini kalo pengen makan seafood segar," jelas Alva seolah tau isi pikiran Tamara.
Memamg lokasinya ngga jauh dari laut. Rumah makan ini juga terbuka dan hembusan angin laut terasa menyegarkan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Alva sambil menunjukkan daftar menu.
"Udang saos padang," ucap Tamara setelah melihat lihat daftar menu
"Nasi sama.es jeruk.tanpa gula."
"Oke."
Alva pun mengalihkan tatapannya pada pelayan yang menunggu pesanan mereka.
"Udang saos padang, udang saos tiram, udang bakar, dan cumi bakar. Nasi dua porsi. Es jeruk tanpa gula dua."
Tamara ngga mempedulikan pesanan yang dobel, tapi pada minuman mereka yang setipe
"Lebih segar tanpa gula, kan?" kerling Alva sambil membawa Tamara duduk lesehan.
Gila, batin Tamara kaget. Alva seperti tau apa yang dia pikirkan tanpa harus mengucapakannya.
Apa dia dukun?
Keduanya duduk dalam diam sampai pesanan mereka datang. Mereka pun masih diam sambil menikmati makanan.
__ADS_1
"Nih," kata Alva sambil memberikan udang yang sudah dikulitinya dengan cepat. Dia melihat Tamara yang terlalu lambat baginya mengupas kulit udang.
"Makasih," ucap Tamara pelan. Dia memang ngga terampil melepaskan kulit dari badan udang. Biasanya papanya yang selalu melakukan untuknya jika mereka makan udang.
Biar sekecil apapun udangnya, pasti tetap akan dibuang dengan susah payah kulitnya oleh Tamara.
Kembali suasana hening meliputi mereka sampai makanan mereka ngga bersisa. Bahkan Tamara seakan lupa kalo dia makan bersama Alva, bukan papanya, karena laki laki ini terus saja memberikan udang yang sudah dibuang kulitnya untuk Tamara.
"Mau nambah lagi udangnya?" tanya Alva ketika melihat udang udangnya sudah haibis. Hanya kulitnya yang menumpuk.
BlLUSH
"Engga," tolak Tamara salah tingkah. Wajahnya merona merah karena malu.
"Lo ternyata suka udang, ya."
"Ya."
Tamara pun meminum es jeruknya. Rasanya sangat segar di kerongkongannya.
"Teman teman lo nanti mau diundang?"
Uhuk uhuk uhuk.
Tamara langsung tersedak mendengarnya membuat Alva tersenyum.
"Kenapa? Mereka tadi seperti kaget saat gue datang," tukas Alva tenang.
Tamara menarik nafas untuk meredakan batuknya.
"Apa mereka belum tau kalo lo akan nikah?" kejar Alva lagi.
Uhuk uhuk uhuk.
Tamara menatap Alva kesal.
Tidak adakah topik yang lain?
Tapi Alva malah tertawa melihat penderitaan Tamara.
__ADS_1