Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Pilihan Jodoh


__ADS_3

Reno masih di sini. Masih menatap kafe tempat Rain bekerja dengan bodoh. Tanpa bermaksud menemuinya ke dalam kafe. Dia masih bertahan di dalam mobilnya. Yang tentunya sudah dia ganti mobilnya, agar ngga ketahuan karena kemarin sudah hampir menabrak Rain dan laki laki sampah itu.


Inginnya Reno masuk ke dalam kafe, menyeret gadis itu segera keluar dari sana, karena sudah hampir jam sebelas malam.


Jam kerja sampai berapa lama, sih? geram Reno dalan hati.


Sudah hampir dua jam dia menunggu di sini, dan tamu tamu masih saja penuh. Parkiran mobil mewah pun merajai lahan parkir


Reno yakin saat ini kafe pasti sedang dibooking. Karena dia pun biasa melakukannya.


Reno menghela nafas panjang. Dia melirik cincin rose gold polos yang berada di jari manisnya.


Ukurannya ternyata pas. Papinya menggunakan jari siapa sebagai contoh, Reno pun ngga tau. Papi dan kedua kakak laki lakinya beserta istri istri mereka yang mengaturnya. Begitu juga sepupunya. Semua direpotkan papi.


Saat memasang cincin itu ke jari Nadia, Reno merasa enggan. Malah gilanya yang terbayang adalah Rain di kepalanya.


Reno memyadari keegoisan dirinya. Dia laki laki bejad, tapi ngga ingin punya istri yang sama bejad dengannya.


Biasanya dia menganggap perempuan seperti Rain hanya untuk keisengan. Untuk membuang kepenatan akibat lelah bekerja.


Nadia sepertinya memang sosok yang lebih tepat menjadi istrinya. Perempuan baik baik, berkelas dan paling utama ngga mengekang kebebasannya.


Reno membuang nafasnya lagi.


Dia memilih pulang jam sembilan malam, di saat acara ramah tamah keluarga belum berakhir. Dia merasa sesak berlama lama di sana. Akhirnya Reno terdampar di parkiran kafe ini. Tempat yang ada Rain.


Kini dengan datar Reno memperhatikan Rain yang lagi lagi diantar pegawai laki laki yang sama.


Apa mereka punya hubungan? batin Reno geregetan.


Tapi kali ini dia membiarkan Rain pergi. Dia menahan marahnya. Dia ngga mau seceroboh kemarin. Setelah Rain sudah ngga terlihat, barulah Reno pergi melajukan mobilnya dengan sangat kencang.


*


*


*


"Terimakasih ya, Adi," ucap Aruna yang berdiri bersama Kiano di sampingnya ketika melihat gadis itu sampai di parkiran bersama Adi.


Adi salah satu pegawai kafe yang diminta tolong Aruna untuk mengantarnya pulang dari kafe ke rumah sakit.


"Sama sama mba," sahut Adi sambil menganggukkan kepalanya pada Kiano.


"Nanti aku suruh Genta kasih kamu bonus dua kali lipat," kekeh Kiano.


Adi tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Makasih, mas."


"Aku pulang dulu ya mba Aruna, mas Kiano, Rain," pamitnya.


"Oke, hati hati," balas ketiganya bersautan.


Setelah melepas Adi pergi, Aruna menyodorkan sebuah paper bag.


"Teman kita ada yang nikah minggu besok. Ikut, ya," ajak Aruna kemudian tersenyum pada Kiano.


"Tapi... aku, kan, ngga kenal, kak," ucap Rain agak ngga enak hati saat menyambut uluran tangan Aruna akan paper bag itu.


"Ngga pa pa. Nambah kenalan baru. Lilo akan jemput kamu," tambah Aruna lagi.


"Kak Lilo?" tanya Rain mengingat, laki laki muda ponakan suami dokter Aruna yang sedang menjalankan perusahaan papanya.


"Iya. Mungkin setelah ini, kamu harus belajar ngurus perusahaan sama Lilo," ucap Aruna lagi.


Kiano hanya diam saja, tapi tangannya tetap merengkuh bahu Aruna.


"Oh, iya, mba.," ucapnya kemudian tersenyum.


"Makasih ya mba, mas. Udah nolong keluarga aku sampai seperti ini," ucap Rain dengan mata memanas.


"Sama sama. Kita langsung pulang, ya," pamitnya karena ngga tega melihat mata yang akan mengeluarkan luapan air mata.


"Hati hati ya, mba Aruna, mas Kiano."


"Semoga Lilo bisa mengajari Rain dengan benar, ya," kekeh Aruna setelah mereka mulai menjauh dari Rain yang masih bergeming.


"Kalo dia nakal, bakal aku jewer," balas Kiano juga terkekeh.


"Mungkin ngga Liko suka dengan Rain?"


"Jangan mulai lagi menjodohkan, Runa. Kamu ngga cocok jadi mak comblang," sahit Kiano dengan tawa mengejeknya.


Aruna tersenyum lebar. Dia tau maksud ucapan Kiano. Dia gagal menjodohkan Tamara sahabat terbaiknya dengan Regan.


Malah lusa Tamara akan menikah dengan Alva, sahabat Kiano yang kadar brengseknya ngga kira kira.


"Apa Tamara akan bahagia bersama Alva?" tanya Aruna sambil memejamkan matanya.


"Pastilah. Aku yakin."


"Tapi Alva..."


"Dia ngga seburuk yang kamu pikirkan," potong Kiano yang tetap keukeh membela Alva.

__ADS_1


Aruna tersenyum mengerti.


"Kalo Lilo gimana? Dia seperti Regan atau Alva?" tanya Aruna ingin tau.


"Dia seperti Alva, Glen dan Reno," kekeh Kiano membuat senyum Aruna tambah melebar tapi hati menciut.


Sepupu Kiano yang usianya lebih muda dua tahun darinya, Lilo, yang akan membantu Rain dalam menghandle perusahaannya. Selagi papa Rain belum sembuh. Sekarang papa Rain dalam tahap pemulihan.


Walaupun Rain perempuan dan belum lulus kuliah, tapi dia harus bisa menangani perusahaan keluarganya dari sekarang. Apalagi dia putri satu satunya.


Kiano dan papinya hanya meminta Lilo membantu sebentar saja, ngga selamanya. Karena Lilo udah mulai mendapat banyak protes dari kakek mereka. Kakek Soeryo.


"Tapi insting bisnis Lilo bagus," puji Kiano lagi.


"Oh."


"Dia memang agak santai, tapi kalo bekerja sangat serius," tambah Kiano lagi memuji sepupunya.


"Kakek pun cukup percaya padanya. Kamu tau, kan, Kakek Soeryo serewel apa. Tapi beliau memberi kepercayaan pada Lilo," pujinya lagi di sela gelak tawanya.


Aruna pun tergelak. Mengingat pertemuan pertemuannya bersama kakek Kiano yang selalu membuat kepalanya pusing tujuh keliling.


Jika mengingatnya sekarang, Aruna bisa mentertawakan kelakuan kakek Kiano yang dulu dulu.


"Kamu ngga letih bekerja seharian?" tanya Kiano sambil membukaka pintu mobil untuk Aruna.


"Nggak."


Kiano menghela nafas panjang membuat keduanya bertahan sambil memegang pintu mobil.


"Aku inginnya kamu nemeni aku di kantor," keluhnya sambil menowel pipi Aruna yang semakin tembam.


Aruna hanya tertawa kemudian masuk ke dalam mobil.


Kiano menutup pintunya dengan lembut.


Kemudaian dia secepatnya berjalan ke arah pintu mobilnya.


"Kita jarang menghabiskan waktu berdua," keluh Kiano lagi kemudian menghidupkan mesin mobilnya.


Dengan manja Aruna membaringkan kepalamya di bahu Kiano.


"Kenapa dulu kamu ngga manja gini," kekeh Kiano.


"Mau manja sama siapa? Sama kamu? Dulu, kan, kamu nyebelin banget," kekeh Aruna.


Kiano makin terkekeh mendengarnya sambil menyetir mobilnya dengan sebelah tangannya, sementara sebelah tangan Kiano yang lain menggenggam erat tangan Aruna.

__ADS_1


"Berarti sekarang udah ngangenin, dong," canda Kiano dalam gelak tawanya.


Aruna ngga membalas ucapan Kiano, tapi dia ngga bisa menghentikan tawanya.


__ADS_2