
"Nadia."
"Alva."
Keduanya berjabat tangan sebentar setelah Glen memperkenalkan keduanya.
"Kalo ini Dinda. Mahasiswinya Qonita," tambah Reno lagj.
Melihat gadis berhijab itu hanya menganggukkan kepalanya membuat Alva tau diri untuk ngga mengulurkan tangannya.
"Ini yang waktu itu...?" tanya Alva menggantung dengan sedikit smirk di bibirnya.
Sugar baby yang mereka cari, kan, batinnya menambahkan.
Dinda agak kurang nyaman dengan senyum Alva yang terkesan menganggapnya perempuan berhijab yang nakal. Walau di akui, ada beberapa oknum yang mempermainkan hijab. Tapi dia ngga begitu. Dia hanya kebetulan berada di tempat yang salah.
Seketika Dinda disadarkan dengan salah satu hadis nabi, jika dia bergaul dengan penjual parfum, maka dia akan wangi. Tapi jika dia bergaul dengan pandai besi, maka tubuhnya akan berlepotan arang dan kotor.
Gila lo Regan. Perempuan alim begini lo unboxing, tuduhnya dalan hati sambil melirik nackal pada Regan.
Regan menggelengkan kepalanya, membantah isi pikiran Alva.
Alva menatapnya dengan mengerutkan keningnya. Bingung.
Regan menyadari wajah ngga nyaman Dinda.
"Maaf," bisiknya.
Dinda hanya tersenyum kaku.
"Maksud ucapannya apa, ya?" sambar Nadia penasaran.
"Ngapa sih, mau tau aja," sebel Reno. Setidaknya ucapan Alva tadi juga menyindirnya.
"Kamu kenapa, sih, marah marah melulu," balas Nadia ngga kalah kesal.
Sikap Reno lebih manis saat bersama Dinda dari pada dengannya.
Padahal mereka sudah sering ketemu karena perjodohan ini.
Nadia ngga menolak karena Reno sangat tampan. Walaupun dingin, kaku dan terkesan kasar, Nadia tetap suka. Karena dia yakin orang tuanya memilihnya pasti sudah mempertimbangkan yang terbaik untuknya. Dia hanya perlu sabar memghadapi Reno.
"Sudah sudah," lerai Glen menengahi.
Kenapa perjodohan mereka ngga berjalan mulus seperti Alva dan Arga? batin Glen heran.
Biarpun duo A itu terlihat enggan, tapi Glen dapat merasakan ketertarikan mereka dengan calon masing masing.
__ADS_1
Sedangkan Reno dan Nadia terkesan seperti dua kutub magnet yang saling tolak menolak.
Tapi sepertinya bukan begitu, bantah Glen mengoreksi dalam hati. Tapi sepertinya hanya Nadia yang tertarik Reno, sedangkan Reno sangat jelas dari bahasa tubuhnya ngga menyukai Nadia. Padahal Nadia cantik, anggun dan seksi. Benar benar tipe impian Reno . Malah Glen punya firasat buruk, sepertinya Reno tertarik dengan Rain. Tapi anehnya Rain seperti menghindar
Ada apa dengan mereka?
Semakin Glen mencoba berpikir, semakin dia ngga menemukan jawabannya.
Rasanya dia sudah mengasah otaknya akhir akhir ini. Tapi kenapa masih tumpul juga?
"Tamara mana?" tanya Regan agar Alva ngga semakin memikirkan hal yang aneh aneh tentang Dinda.
"Ngga tau," ketusnya sambil memesan kopi pada pegawai kafe yang lewat. Sebenarnya dia butuh sedikit alkohol untuk menghilangkan kemarahannya.
Padahal dia tadi sudah mulai lupa. Tapi kini dadanya menjadi panas lagi mengingat kebersamaan Tamara dengan laki laki itu saat ini.
Alva yang selalu cuek dan ngga pernah peduli akan orang lain tiba tiba menjadi kepo. Dia mensearching akun laki laki itu Untung ngga di privat Jadi dengan mudah dia mengubek ngubeknya setelah tentu saja membuka akun sosmed Tamara.
Yang bikin Alva tambah panas, dia merasa semakin cemburu dengan kedekatan keduanya
Tamara dan laki laki yang ngga mau Alva sebutkan namanya itu udah sering bersama rupanya sejak jenjang SMA karena mengikuti turnamen karate.
Andai saja Alva sudah bertemu dengannya sejak dulu, pasti sudah dihajarnya sampai bonyok bersama Reno dan Glen yang pasti akan membantunya.
Reno, Regan dan Glen megangkat sedikit sudut bibir mereka.
"Lo bentar lagi mau nikah, masih saja kekanakan," komentar Reno meledek.
Nadia kembal terpesona melihat ketiga pria tampan dan berkharisma itu tersenyum lebar. Bahkan netranya kini terfokus pada Reno.
Dia dan teman temannya sangat tampan? Apakah yang namanya Alva akan menika? Dengan siapa?
"Kalian sangat menyebalkan," ketusnya jengkel.
Ketiganya malah makin melebarkan senyum melihat wajah Alva yang semakin keruh.
Dinda agak rikuh berada dalam circle yang sangat berbeda. Dia pun menatap Rain yang terlihat sibuk kembali dengan mesin kasirnya.
Aku ingin pulang, batinnya ngga betah.
"Tamara itu baik, dia bahkan bisa melindungi lo. Gue jadi tenang melepas lo bersama Tamara," pancing Glen membuat Alva menajamkan sorot matanya pada sahabat koplaknya itu.
"Lo pikir gue lemah?" bentak Alva emosi. Kekuatannya dipertanyakan
"Lo ceroboh. Buktinya dulu lo hampir mati. Untung Tamara cepat datang," kata Regan mengingatkan peristiwa yang lalu dan sangat memalukan bagi Alva.
"Gue dikeroyok," bantah Alva ngga terima.
__ADS_1
'Ya ya ya, tapi lo kurang lama bertahan," tambah Reno yang kali ini membuat ketiganya tergelak
Dinda mengangkat wajahnya menatap wajah yang sangat tampan di sampingnya. Nafasnya berbau mint, menyegarkan. Wajah itu terlihat lepas tanpa beban seperti yang pernah dia lihat waktu di butik mamanya.
Mata Regan tiba tiba teralih padanya tiba tiba membuat Dinda kelabakan. Wajahnya memerah. Dinda merasa lebih merah dari pada udang atau kepiting yang direbus. Dan Regan ngga menyia nyiakannya. Dia pun mengedipkan sebelah matanya dengan nackal, semakin membuat Dinda merona dan salah tingkah.
Alva mendengus kesal.
Mata Reno, Glen dan Regan kini bertaut setelah melihat ke arah pintu masuk.
Tamara!
Setelah celingak celinguk Tamara pun menemukan keberadaam calon suami manjanya dan teman teman brengseknya. Dia pun berjalan mendekat.
"Kata Arga lo cemburu dengan teman laki laki Tamara," cetus Glen saat melihat Tamara semakin mendekat.
Tamara mengerutkan keningnya karena mendengar ucapan Glen dengan sangat jelas.
"Gue ngga pernah bilang. Ngarang Arga," sangkalnya kemudian meneguk kopi panasnya perlahan.
"Arga ngga mungkin bohong. Mungkin Tamara lebih baik dengan laki laki itu. Kelihatan laki laki baik, kan," tambah Reno mengompori dengan memberikan bensin.
Regan melirik Dinda, ucapan Reno sedikit mementung hatinya.
"Mungkin juga, sih. Gue sama seperti kalian yang terlihat brengsek," kata Alva setelah cukup lama terdiam. Ucapan Reno benar benar mengena di hatinya.
Tamara yang berdiri di belakangnya jadi speechless mendengarnya. Dia jadi merasa bersalag. Rupanya ini yang bikin Alva marah.
"Tapi gue harus menghajarnya lebih dulu. Kalian harus ikut bersama dengan gue. Kita hajar dia sampai koma di rumah sakit," geram Alva setelah cukup lama terdiam.
Ngga terima dia harus kalah bersaing dengan laki laki yang sering mendapatkan tropi kejuaraan itu.
Regan mengusap wajahnya dengan sebelah tangannya. Padahal tadi Reno sudah berhasil memancing sisi kebaikan tersembunyi dari Alva. Tapi dirinya malah mengacaukannya sendiri.
Glen pun terkekeh saat melihat Wajah Tamara yang jadi kesal karena ucapan Alva barusan.
Nadia dan Dinda yang duduknya membelakanginya, ngga menyadari kehadiran Tamara. Tapi juga menggeleng gelengkan kepalanya mendengar ucapan terakhir laki laki itu. Terkesan sangat preman.
"Hai Tamara," sapa Reno kencang membuat Alva tersedak kopi panasnya.
Rasanya sangat menyakitkan di bibir dan tenggorokannya.
Uhuk uhuk uhuk uhuk.....
Gila, dia dikerjain? Alva menyumpah dalam hati. Dalam.batuknya dia berbalik, dan ternyata benar adanya Tamara yang sedang berdiri sambil menatap marah padanya.
Nadia dan Dinda pun ikutan berbalik dan mendapati wajah seorang gadis cantik dengan seragam kantoran menatap Alva dengan marah.
__ADS_1
Dia Tamara? batin Nadia menebak. Dan lagi lagi Nadia melihat wajah hangat Reno saat memandang gadis yang baru datang ini.
Dia siapa? tanya Dinda dalan hati, bingung karena melihat pancaran kemarahan di mata gadis itu pada laki laki yang masih terbatuk batuk di depannya.