
Akhirnya Aruna sampai juga di depan kamar Kiano. Dia menghembuskan nafas panjang. Aruna membalikkan tubuh dan menyandar di dinding. Ada keengganan dalam dirinya untuk masuk. Entah perempuan mana lagi yang ada di dalam sana.
Aruna memejamkan mata. Kepalanya terasa berat jika harus memikirkan menikah dengan dengan Kiano. Aruna takut hatinya jauh lebih terluka melihat Kiano yang bermesraan dengan para gadis.
"Aruna, kita harus bicara."
Tanpa melihat pun Aruna tau siapa yang bicara. Salah satu pemuja calon suaminya.
"Ikut aku," ucap Monika sambil berjalan duluan.
Tapi Aruna hanya mengikutinya beberapa langkah saja, kemudian dia berhenti.
"Kenapa berhenti?" tanya Monika heran.
Aruna menatap Monika penih selidik. Tentu dia ngga mau terjebak lagi. Gadis di depannya sangat beringas kalo menyangkut Kiano. Aruna takut kedua temannya sedang menunggu di suatu tempat untuk membantu Monika mencincangnya.
"Di sini aja kalo mau bicara," ucap Aruna datar.
"Kamu takut aku menjebakmu?" kekeh Monika sinis.
"Terserah apa pikiranmu."
"Baiklah. Untuk kamu ketahui, Citra dan Mega ngga ada. Aku hanya ingin kita ngobrol berdua saja."
"Katakan saja apa yang mau kamu obrolkan," tukas Aruna masih datar. Tetap ngga bisa mempercayai apa pun sangkalan Monika.
"Baiklah." Monika menatap Aruna dari atas ke bawah seakan hendak memberikan penilaian.
"Kamu calon istri Kiano?" tanya Monika sinis.
"Ya."
"Alangkah lucunya," kekeh Monika mengejek.
Aruna hanya diam saja mengamati Monika.
"Apa yang kamu lakukan sampai kamu bisa jadi calon istri Kiano?"
"Ngga ada. Orang tua kami yang memutuskan."
"Tante Bella? Ngga mungkin," sanggah Monika ngga percaya.
"Tanyakan saja pada beliau."
Monika menatap Aruna yang begitu percaya diri melontarkan kata katanya.
"Kamu ngga pake pelet, kan?"
Aruna tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya. Aneh sekali untuk perempuan seperti Monika berpikiran pendek seperti itu.
"Aku ngga percaya yang begituan."
"Kamu sudah ditiduri Kiano, dalam keadaan mabok mungkin?" tuduh Monika kepo walau tetap ngga yakin.
Meskipun Aruna berubah cantik sekarang, tapi dia masih yang tercantik. Betapa banyak brand terkenal yang mempercayainya. Bahkan karirnya sudah terkenal sampai Asia.
"Kamu gila ya, nanya gitu," sentak Aruna tersinggung. Jelas sekali Monika merendahkannya. Dikiranya Aruna ngga ada yang mau sampai mengira Kiano yang lagi mabok untuk menyentuhnya. Ciiih!
__ADS_1
Monika memejamkan matanya dengan rasa frustasi yang amat sangat di dada.
"Sebenarnya apa yang kamu lakukan sampai orang tua Kiano memilih kamu?" tanya Monika kesal.
"Mungkin karena aku merawat kakeknya Kiano. Tapi aku ngga pasti. Kamu bisa tanya langsung aja dengan tante Bella ," dengus Aruna juga kesal.
Monika menghembuskan nafas kasar. Tanpa berkata apa pun lagi, Monika melangkah pergi meninggalkan Aruna.
Aruna menghembuskan nafas panjang. Kemudian dia berbalik dan kembali ke tempatnya semula. Setelah menarik nafas panjang, Aruna memasuki kamar perawatan Kiano.
"Ternyata ada tante Bella, adik Kiano dan jangan lupakan gadis centil yang menyukai Kiano.
"Halo, sayang," sambut tante Bella sambil menghampirinya dengan bibir mengembangkan senyum hangatnya.
Aruna memaksakan senyum manisnya. Biar bagaimana pun, tante Bella sudah sangat baik padamya. Ngga pantas dia berlaku ngga sopan hanya karena kesal dengan anaknya yang selalu terlihat tampan.
Aruna, sadar. Jangan biarkan hatimu dilukai lagi, batinnya dengan keras memberi peringatan agar dia segera tersadar. Pesona Kiano begitu kuat mengobrak abrik pertahanannya.
"Kamu bawa apa?" tanya tante Bella-mama Kiano sambil melirik paper bag di tangan Aruna.
"Cake Marble, tante. Semoga tante suka," ucap Aruna sambil.menyerahkannya pada mama Kiano yang dengan senang hati menyambutnya.
"Pasti enak," puji tante Bella sambil menatanya di atas meja.
Tanpa sadar Aruna melirik Nabila yang mencibir sinis menatapnya.
"Palingan juga beli, tante," cela Nabila judes.
"Ya ngga pa pa. Yang penting Aruna selalu perhatian pada anak tante. Tante sudah senang, Nabila sayang," bela mama Kiano sambil tersenyum lembut pada Nabila. Putri sahabatnya sekaligus teman dekat Nita, anaknya.
Aruna hanya tersenyum mendengar pembelaan mama Kiano, sementara Nabila memasang wajah cemberut.
"Kapan Kak Kiano nikah dengan tante dokter jutek ini?" tanya Nabila ngga sopan.
"Secepatnya," jawab Kiano dengan terus menatap Aruna tajam. Sedari tadi Kiano memperhatikan Aruna, walaupun gadis itu seperti mengacuhkannya.
Rasanya sebel mendengar anak kecil ini memanggilnya tante, tapi Aruna berusaha menahan diri dan tetap mempertahankan senyum lembutnya.
Nabila kembali mencibir mendengar jawaban Kiano. Dia kembali memperhatikan Aruna yang dipanggilnya tante jutek. Memang cantik, tapi Nabila yakin, dia masih lebih cantik..
Eh, tunggu, kenapa tante ini mendekati Kak Kianonya, batin Nabila gusar. Dan Nabila semakin merasa kesal melihat tatapan Kiano terarah lurus pada pada sosok si tante jutek. Tatapan itu begitu tajam dan dalam. Seingatnya ngga pernah kak Kiano menatapnya seperti itu. Rasa panas semakin membakar hatinya.
"Kamu jangan melotot gitu, Bil," lirih Nita mengingatkan.
"Aku kesel, aku marah, Nita," omel Nabilla kesal dengan suara sama lirihnya.
"Kan dari dulu kak Kiano ngga suka sama kamu," bisik Nita cuek. Sesuai kenyataan. Berkali kali sahabatnya ditolak kakak gantengnya sampai Nita ngga tega padanya.
"Nita!" sentak Nabila tanpa bisa mengontrol suaranya membuat mereka semua menoleh.
"Ada apa Bil? Nita?" tanya mama sambil menatap keduanya heran.
"Ngga apa apa, ma. Ma, Nita sama Bila pamit dulu ya," ucap Nita sambil menggeret tangan sahabatnya yang menatapnya penuh protes.
"Oke, mama juga mau pulang. Runa, temani anak tante ya. Mama Bella pun mengedipkan sebelah matanya menggoda pada Aruna yang hanya bisa mengangguk.
Sementara Nabila makin menatap horor pada Nita.
__ADS_1
"Nita, kenapa kita harus pergi," tahannya penuh tekanan.
"Sudah ayo kita keluar. Biarkan mereka tambah mesra. Lusa mereka akan menikah," potong mama Bella sambil ikut menggeret Bila yang masih mencoba bertahan.
JEDDERRR
Wajah Aruna langsung pucat. Begitu juga Nabila yang semakin shock. Sedangkan Kiano tersenyum kecil. Lega karena keluarga mereka memuluskan langkahnya untuk memiliki Aruna.
"Ap Apa ngga terlalu cepat tante?" gagap Aruna dengan suara bergetar.
"Ngga sayang. Setelah kalian nikah, tante akan ke Jerman, bawa kakek kamu yang rewel itu berobat," jelas tante Bella dengan senyum manisnya.
Lagi lagi Aruna hanya bisa menganggukkan kepalanya. Ngga ada lagi kalimat protes yang bisa dia layangkan. Bayangan ancaman mamanya menari nari di kepalanya.
"Ayo Nabila. Nanti tante kenalkan sama ponakan tante. Ngga kalah ganteng, kok, sama Kiano," bujuk mama Kiano kemudian bersama Nita mengeksekusi Nabila tanpa bisa protes lagi.
Akhirnya mereka tinggal berdua. Aruna tau saat ini Kiano sedang menatapnya tajam. Perasaannya semakin takut, gelisah, ngga tenang.
"Kita harus bicara," ucap keduanya kompak.
Kiano tersenyum membuat Aruna mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Bisa bisanya, rutuk Aruna dalam hati, antara kesal dan malu.
"Kamu duluan aja."
Lagi lagi mereka kompakan ngomongnya. Aruna semakin salah tingkah membuat Kiano jadi tertawa.
Aruna memutuskan akan diam saja. Apalagi laki laki di depannya masih saja tertawa. Jantung Aruna berdebar keras, menyadari Kiano semakin tampan. Oh, God.
"Aku duluan ya, bicaranya," tawar Kiano setelah lama menunggu Aruna ngga juga memulai pembicaraan. Aruna hanya mengangguk meng iyakan.
"Ambilin sepotong cake itu," perintahnya membuat Aruna kesal. Sedari tadi menunggu ternyata hanya untuk mendengar perintah seorang tirani.
Dengan dongkol Aruna mengambil sepotong cake dan memberikannya pada Kiano.
"Apa?" tanya Aruna judes ketika melihat Kiano menatapnya dengan mata memicing.
"Suapin," perintahnya lagi sambil melirikkan matanya ke sebelah tangannya yang masih di infus.
Dengan cemberut Aruna menotong bagian cake itu agak geda dan langsung memberikannya pada Kiano.
Kiano menatapnya lucu sambil membuka mulutnya lebar lebar demi menerima suapan cake itu.
Karena cake itu lembut, ngga masalah buat Kiano mengunyah dan menelannya. Mulutnya pun terbuka lagi untuk menerima suapan Aruna. Sampai cake di tangan Aruna habis.
"Minum," perintah Kiano lagi.
Walaupun mangkel, Aruna tetap menurut. Siapa tau ada cctv yang mengawasi mereka. Dan bisa digunakan untuk melapor pada mamanya.
Setelah Aruna meletakkan piring kecil kue dan gelas, dia terpekik kaget karena dengan mudahnya Kiano mengangkatnya dan menjatuhkannya di dada bidang laki laki itu.
"Apakah tadi dokter sialan itu memelukmu lagi?" bisik Kiano dingin di telinga Aruna membuatnya merinding. Pelukan satu tangan Kiano sangat erat.
Aruna mendes*ah ketika Kiano menjilat kupingnya. Jantung mereka saling memukul keras.
"Aku rindu," bisik Kiano lagi kemudian mengecup bibir Aruna dengan sangat lembut.
__ADS_1