
"Kakak minta, kamu hentikan rencana gila kamu," marah Melvin.
Setelah pertemuan makan siang itu bubar, Melvin menahan dirinya untuk langsung menghampiri adiknya. Agar ngga semakin menimbulkan kecurigaan dari Kiano dan papinya.
Tapi malamnya, setelah pulang dari perusahaannya, dia langsung menemui adiknya di kamarnya.
Claudya terdiam, kaget mendengar ucapan marah kakak laki lakinya.
Claudya yang hari ini sudah merasa ngga tenang, melewati sepanjang hari dengan perasaan gelisah. Berbagai kemungkinan buruk memenuhi otaknya.
"Kakak ngomong apa," sahutnya tercekat. Berusaha berkelit.
Melvin menghembuskan nafas kasar. Sifat adiknya sebelas dua belas dengan dadynya sudah sangat dipahaminya.
"Kamu, kan, dalang yang menyuruh pengawalmu menabrakkan ambulance ke istri Kiano?" tebak Melvin langsung.
"Kakak nuduh aku?" seru Claudya marah.
Melvin menggusap rambut adiknya lembut.
"Kamu jangan jadi seperti dady," katanya kemudian langsung bangkit dari duduknya. Meninggalkan adiknya yang masih menatapnya marah dengan tubuh bergetar.
Setelah menutup pintu kamar adiknya, Melvin bersandar dengan tubuh lemas. Setelah menghembuskan nafas berkali kali, Melvin melangkah menuju ruang kerja dadynya.
Tanpa mengetuk pintu, Melvin memasuki ruangan itu dan mendapati dadynya dengan tenang menyesap minuman jahe hangatnya.
"Ada apa?" tatapan Herman Permana terlihat tajam menyoroti anak sulungnya.
Setelah jamuan siang tadi, beliau sudah geram, tapi mencoba menahan diri agar ngga menampar Melvin.
"Aku minta dady berhenti mendukung kejahatan Claudya," tegas Melvin.
"Orang sebrengsek kamu menasehati dady?" sinis Herman Permana.
"Aku memang brengsek dad, tapi aku ngga pernah mau bunuh orang," kecam Melvin dingin.
"Kamu benar bemar kelewatan. Kamu nuduh Claudya dan dady?" Nggak kalah dingin Herman Permana menjawab.
"Hanya tinggal menunggu waktu dad, kejahatan kalian akan terbongkar."
"Keluarlah. Otakmu sudah sangat tumpul," hina Herman Permana.
Melvin mendengus kesal. Dia pun berbalik keluar dari ruangan dadynya dan membanting pintu dengan sangat keras.
Kedua tangannya menutup wajahnya dengan penuh tekanan. Dia terlambat mengetahui kejahatan adiknya.
*
*
*
Claudia yang kesal dengan sikap kakaknya yang ngga mendukungnya, hampir saja memecahkan cermin hiasnya. Tapi suara getaran telpon menghentikan tangannya yang bersiap melemparkan botol parfum yang terbuat dari kaca.
"Ada kabar bagus apa?" kesalnya pada pengawalnya.
"Kami sudah mengirim foto Anda dan tuan muda Kiano ke beberapa sosial media. Kami sudah mengeditnya," lapor pengawalnya di antara bunyi dentuman musik yang keras.
Wajah Claudya langsung cerah. Apa lagi pengawal terpecayanya mengirimkan sebuah foto saat dia akan menyuapi Kiano. *Ang*le yang diambil begitu bagus hingga terlihat keduanya cukup mesra. Tentu saja menghilangkan objek lainnya. Hanya dirinya dan Kiano saja. Mereka seperti melakukan makan siang yang romantis berdua.
"Bagus."
"Umur istri tuan muda Kiano ngga akan lama lagi, nona. Nona ngga usah cemas."
"Aku tunggu realisasi secepatnya."
"Siap nona."
Sang pengawal pun menutup telpon. Tapi begiru dia berpaling,satu bogem mentah telak menghajar wajahnya.
BUGGHH
"Sialan," maki oengawal itu saat jatuh tersungkur beberapa meter jauhnya.
__ADS_1
*
*
*
Alva menatap jengkel pada kedua orang tuanya yang berhasil memakasanya duduk bersama Meti dan keluarganya.
Meti menatapnya dengan senyum manjanya sedamgkan kedua orang tua mereka tanmpak ngga peduli dengan reaksi kekesalan Alva.
"Kalian akan bertunangan secepatnya," kata papinya sambil mengulum senyum. Putra tunggalnya yang selalu manja dan berbuat apa saja kini duduk anteng ngga berkutik.
Kemewahan jadi kunci bagi mereka memaksa Alva untuk menurutii ikatan ini. Beliau tau mana mungkin Alva sanggup hidup miskin tanpa kartu kredit dan kunci mobil yang berganti ganti setiap hari.
"Papi, aku maunya langsung nikah aja dengan Kak Alva," sahut Meti manja dan membuat Alva tersedak, dia pun terbatuk batuk tanpa bisa dia hentikan
"Uhuk uhuk uhuk......"
Alva merasa dadanya sangat sakit dengan batuk sialannya ini.
"Minum, kak. Kakak sabar ngapa, sih, kita pasti nikah," ucap Meti manja dengan tangan mengulurkan segelas air.
Dengan terpaksa Alva menerimanya diiringi senyun simpul kedua orang tua mereka. Apalagi mendengar ucapan manja Meti.
PUK PUK PUK
Mami menepuk lembut bahu putra semata wayangnya.
"Kamu beneran udah ngga sabar," goda mami dengan senyum lebarnya.
Alva hanya bisa merengut.
"Ya sudah, kalo begitu kita langsung tentukan tanggal pernikahan saja," lanjut papi Meti dengan senyun lebarnya.
"Aku juga setuju," sahut mami Meti antusias.
"Asyiiik. Kak, kita segera jadi suani istri," seru Meti senang dengan mata penuh binar.
"Kapan baiknya ya?" Dua minggu lagi aja?" usul Papi Alva cepat.
"Siap, mbak. Nanti kita langsung check makannannya," sambut Mami Meti ngga kalah senangnya.
Walaupun Alva terkenal nakal di luaran, tapi pemuda itu menyayangi Meti. Mungkin Alva belum sadar akan perasaannya, pikir Mami Meti.
Meti adalah putri tunggalnya, selama ini aman aman aja bersama Alva. Alva pun sudah dianggap sebagai kakak Meti. Tapi Meti akhir akhir ini berkeras ingin menikah dengan Alva.
Untungnya saat menyampaikan keinginan Meti, keluarga Alva sangat welcome karena Meti juga sudah sangat dekat dan dianggap putri kecilnya mami Alva.
Bagi kedua orang tua mereka yang sudah mengenal sejak jaman kuliah, sama sama berbisnis dan menjadi tetangga bertahun tahun hingga kini, tentu akan lebih menyenangkan jika anak anak mereka bersatu dalam pernikahan.
Mereka ngga perlu lagi canggung sebagai besan, dan mereka pun sangat menyayangi anak anak mereka.
Walaupun Alva terlihat keberatan, tapi kedua orang tua Meti ngga mempermasalahkan nya. Alva aslinya sangat baik dan penurut. Mereka juga sudah telanjur sangat menyayangi Alva.
"Mami, aku nanti gaunnya seperti putri putri kartun disney, ya" pinta Meti kegirangan. Membayangkan dirinya dalam balutan gaun mewah cinderella atau putri salju. Dan Kak Alva yang sangat tampan dengan tuksedonya.
"Tentu sayang, kamu bisa milih apa pun yang kamu mau," jawab mami sangat lembut.
"Aww.... senangnya," seru Meti sangat riang.
DENG
Kepala Alva seperti di lempar kaleng rombeng. Pusing dan berputar putar. Apalagi mendengar maminya setuju.
Tanpa bisa menahannya lagi Alva langsung berdiri dari duduknya membuat suasana penuh tawa jadii terdiam dan kini beberapa pasang mata menyorot bingung padanya.
"Kamu mau ke toilet?" tanya papi Alva dengan suara tenangnya.
Alva ngga menjawab. Dia mengeluarkan kunci mobilnya, kemudian membuka dompetnya, mengeluarkan semua kartu atm dan kartu kreditnya. Hanya menyisakan satu kartu atm yang benar benar miliknya. Kemudian beberapa buah kartu apartemennya. Semuanya diletakkannya di atas meja.
"Kamu?" kaget maminya ngga percaya.
"Kak Alva, maksudnya, ini untuk Meti?" tanya Meti salah paham.
__ADS_1
Papi Meti menatap Alva tenang. Sedangkan mami Meti menatap bingung pada putri polosnya.
"Mami, papi," katanya setelah menghembuskan nafas panjang. Dia menatap pada kedua orang tuanya dan kedua orang tua Meti. Sama seperti Meti, Alva pun memanggil orang tua Meti juga papi dan mami.
"Alva ngga bisa. Lebih baik Alva hidup miskin dari pada nantinya akan menyakiti Meti," katanya tegas.
"Kak Alva?" seru Meri ngga percaya.
Kak Alva yang sangat menyayanginya, menolaknya?
Mimpi, kan, ini?" batinnya ngga mau percaya.
"Papi percaya, kamu bisa menjadi suami yang baik buat Meti," sahut papi Meti berusaha mencegah niat Alva.
Beliau tau kelakuan putra sahabatnya di luaran. Tapi terhadap Meti, Alva ngga pernah macam macam. Alva malahan sangat melindungi putrinya. Mungkin karena Meti sudah dianggap adiknya.
Hati papi Meti seakan dicubit.
Mungkin hanya dianggap.adik? Ngga bisa lebih?
"Papi, Alva ngga mungkin bisa nantinya menjalankan kewajihan Alva sebagai suami," ucapnya memohon.
Kata kata Alva membuat kedua orang tuanya saling pandang.
"Pasti bisalah, kak. Kita sudah melakukannya, kan, selama ini," sambar Meti cepat dengan wajah manyun.
"ALVA!" kaget para orang tua itu ngga terkira mendengar ucapan Meti.
Alva menggaruk kepalanya yang ngga gatal tapi bertambah tambah pusingnya. Apalagi melihat kilat marah dan shock kedua orang tua di depannya.
"Mami sama papi salah paham. Nyium Meti aja Alva ngga pernah. Apalagi melakukan seperti yang biasa Alva lakukan sama pacar pacar Alva," bantahnya tegas.
Kedua orang tua Alva tercengang sejenak mendengar penjelasannya.
"Meti, Alva udah pernah nyium kamu?" todong mami Alva langsung setelah beberapa menit terdiam.
"Mami, kok, ngomong gitu, sih. Meti, kan, malu," sergah Meti tersipu membuat Alva makin geregetan. Apalagi tatapan horor papinya seakan mau menelannya saat ini juga.
"Ayo, Meti cerita. Selama ini Kak Alva udah ngapain Meti apa aja," bujuk mami Meti resah.
Anaknya udah ngga polos lagi?
Alva tambah gemas. Dituduh melakukan yang engga pernah diperbuatnya, sungguh sangat menyakitkan.
Meti tersenyum malu malu.
"Nemenin Meti ke mall, nungguin Meti ke salon. Trus antar Meti kalo janjian sama teman teman, Mi. Teman teman pada iri waktu Meti bilang kak Alva pacarnya Meti," cerita Meti penuh semnagat
Nampak kedua orang tua itu menghela nafas lega.
"Kalo cium gimana?" tanya mami Alva penasaran membuat Alva mendelikkan matanya pada maminya.
Heran, ngga percaya amat sama anak, gerutunya dalam hati.
"Meti pernah minta, tapi kata Kak Alva kalo udah nikah baru boleh," cicitnya dengan wajah cemberut.
Kali ini benar benar hembusan nafas lega dari kedua orang tua itu yang terlihat. Mereka mulai tertawa karena pikiran mereka yang sudah berkembang terlalu jauh.
"Meti, meti, kamu buat mami hampir kena serangan jantung," kekeh Mami Meti sambil mengelus rambut ikal putrinya penuh sayang.
Meti ngga menjawab, hanya menatap bingung pada para orang tua yang tertawa tergelak gelak.
Beberapa menit kemudian.
"Alva, kamu masih ingat, kan, apa yang pernah papi dan mami katakan kalo kamu menolak," kata Papi Alva sambil melirik barang barang putranya yang bergeletakan di atas meja. Kini rautnya berubah sangat serius.
"Masih," tegas Alva lega karena sudah bebas dari tuduhan berat.
"Oke, gimana, Ki. Putraku sudah memutuskannya," ucap papi sambil menatap sahabat sekaligus tetangganya.
Papi Meti berusaha legowo.
"Oke, tapi kalo kamu berubah pikiran, papi dan mami akan sangat senang," katanya berusaha bijak.
__ADS_1
Beliau tau selama ini Alva memang sangat menyayangi Meti. Bahkan seperti yang putri manjanya katakan, laki laki seperti Alva mau menemani kegiatan putrinya saja sudah membuat dia sangat kagum.
Sayangnya Alva hanya menganggap Meti sebagai adiknya saja. Padahal Alva adalah mantu idaman baginya karena bisa melindungi Meti.