
Glen memacu mobilnya dengan sangat kencang. Akhirnya mereka tiba di club sesuai GPS yang ditunjukkan ponsel Alva..SeteLAH Glen menghentikan mobil.di depan Club Regan dan Arga cepat keluar dari mobil sementara Glen langsung mencari tempat untuk memarkirkan mobilnya lebih dulu.
"Ketemu?" tanya Glen yang berlari mendekati keduanya setelah memarkirkan asal mobilnya.
Keduanya serentak menggeleng sambil mengulurkan benda di tangan masing masing.
Tangan Regan memegang ponsel yang diyakini milik Alva yang sudah dalam.keadaan off, dan tangan Arga memegang jaket Alva yang sudah penuh dengan robekan dan noda darah.
Matanya menangkap sisa sisa perkelahian. Ada ceceran noda darah. Mungkin milik Alva dan juga musuh musuhnya.
"Dimana Alva? Kenapa dia ngga ada," lirih Glen mulai berpraduga buruk dengan badan menggigil. Ngga berani membayangkan apa yang dialami sahabatnya.
Berita pembunuhhan dengan mutilasi dan pembakaran mayat sedang viral viralnya..
"Ngga mungkin," desis Arga sambil mengepalkan tangannya. Pikirannya sama buruknya dengan Glen.
Biar seberengsek apa pun Alva, dia ngga terima sahabatnya diperlakukan seperti itu.
"Kita harus cari dia sampai ketenu," kata Arga dengan tubuh bergetar.
"Kita periksa CCTV," putus Regan.
"Di sini ngga ada CCTV," geram Glen. Dia dan Alva sudah beberaoa kali ke club ini.
"CCTV di pintu masuk," lanjut Regan sambil berjalan ke dalam club.
Alva bukan anak sembarangan. Apalagi dia anak tunggal pengusaha kaya raya. Kalo sampai pikiran buruk mereka menjadi kenyataan, papinya pasti akan membakar club ini.
"Ya," jawab Glen dan langsung mengikuti langkah Regan. Begitu juga Arga.
Mereka akan gunakan segala cara untuk memperoleh rekaman CCTV terakhir yang memperlihatkan keberadaan Alva.
Tanpa kesulitan, mereka berhasil meyakinkan pihak sekuriti untuk memberikan rekaman itu. Apalagi Glen dan Alva teemasuk pengunjung yang royal di club.
Mereka pun berhasik melihat Alva dan orang yang dibuntutinya.
"Seperti pengawal seseorang," duga Regan.
Arga dan Geln mengangguk
"Kenapa Alva membuntutinya?" heran Arga. Di luar kebiasaannya yang ngga pernah mau peduli urusan orang lain.
Glen dan Regan sama menggelengkan kepala, bingung dengan kelakuan aneh Alva.
"Mereka keluar bareng," tambah Glen. Terlihat Alva membuntuti sanpai mereka berbelok ke samping Club, dan rekaman CCTV berakhir.
"Mundurkan beberapa menit," perintah Regan yang dilangsung dilakukan sekuriti club.
"Putar rekaman yang lain," tambah Glen ngga sabar karena belum menangkap keberadaan teman teman pemgawal yang mengeroyok Alva.
Alhirnya setelah melihat rekaman kamera CCTV yang berada di banyak sudut club, mereka sudah menemukan teman teman pengeroyok Alva. Ngga tanggung tangung, ada lima orang yang mengenakan jas yang sama. Bahkan saat memajukan rekaman yang pertama mereka melihat para pengawal itu tergesa gesa keluar dan menuju ke samping club.
Arga pun mengirimkan foto foto pengawal itu dan mengirimkannya pada Om Bari, ketua pengawalnya agar segera menyelidiki siapa para pengawal itu. Hal yang sama pun dilakukan Glen.
Bahkan mereka.melihat para pengawal yang berjalan ke parkiran tanpa membawa Alva melalui rekaman CCTV yang berada di halaman parkir.
__ADS_1
"Itu Tamara, kan?" kaget Glen yang melihat Tamara bertabrakan dengan salah satu pengawal Itu.
"Iya," sahut Arga agak curiga karena melihat Tamara yang ngga mengikuti teman temannya memasuki Club.
"Nomer.mobilnya udah dicatat. Kta tinggal.lapor ke polisi," kata Regan yang langsung berjalan menjauh dan menelpon omnya.yang berdinas di kantor polisi.
"Apa mungkin, Tamara yang sudah menyelamatkan Alva?" tanya Glen sangsi. Mengingat sikap bar bar gadis itu dan juga rasa ngga sukanya pada mereka membuatnya ngga yakin Tamara melakukan hal mulia itu.
"Kita tanya ke hotel sebelah," putus Regan sambil berdiri.
"Terima kasih," ucao Glen sambil.memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah.
"Terima kasih, tuan," sahut sekuriti itu sangat kesenangan mendapat rejeki besar di malam hari.
"Sama sama," balas Glen sambil berlalu pergi.
Mereka menuju ke hotel sebelah dengan cepat tanpa bicara.
"Maaf mengganggu," sapa Regan begitunsampai di depan sekuriti hotel.
"Ada apa tuan?"
"Apakah ada seseorang yang membawa orang yang terluka beberap jam yang lalu ke hotel ini?" tanya Regan sopan.
Sekuriti iti menatap ketiganya sejenak. Tentu saja dia maskh ingat.
"Ini foto orangnya," kata Glen ngga sabar sambil menunjukkan foto Alva.
"Dia sahabat kami. Kami sedang mencarinya," sambung Arga.
"Mungkin Tamara yang menolongnya," tebak Glen langsung.
"Bisa bawakan kami ke kamar itu. Yang perempuan juga teman kami. Kami takut dia kesulitajn menolong sahabat kami," ucap Regan sambil.menatap sekuriti itu sanagt meyakinkan.
"Baiklah. Memang nona tadi kelihatan kesulitan. Dia bahkan meminta kotak obat dan membelikannya pakaian," tambah sekuriti itu kemudian melangkah masuk ke dalam hotel.
"Terima kasih," sahut Regan sambil menjejeri langkah sang sekuriti. Glen dan Arga juga berjalan mengikuti.
Begitu sampai di depan kamar yang dituju, Regan pun langsung mengetuk pintu kamar hotel yang dimaksud. Sang sekuriti juga mengikuti mereka sampaii di depan pintu kamar nona yang tadi dibantunya.
TOK TOK TOK
*
*
*
"Tamara," panggil Alva penuh gairah. Dia sudah ngga bisa mengontrol dirinya sendiri.
Tamara berdiri dengan waspada.
"Kamu mau apa?" tanyanya konyol. Melihat Alva seperti itu membuatnya bingung harus ngapain.
"Lo keluar dari sini. CEPAT!" bentak Alva di tengah kesadarannya yang mulai menips.
__ADS_1
Tamara masih diam ngga bergerak.
"Aku akan cari wanita bayaran," ucapnya gugup.
"Ter-lam-bat," desis Alva kemudian berjalan ke arahhnya.
"Kamu ma apa?" tanya Tamara langsung siaga.
Tapi sepertinya Alva hanya menakutinya, pikir polos Tamara. Apalagi melihat bibir laki laki songong itu tersenyum miring padanya.
Dia pikir aku takut, geram Tamara kesal.
Sayangnya Tanara kurang berpengalaman dengan laki laki yang dimabuk oleh obat perangsanh.
Semenatra Alva terus berjalan semakin mendekati Tamara.
"Aku akan menghajarmu kalo kamu berani sampai macam macam," ancam Tamara yang sudah bersiap.
Alva berusaha keras menekan gairahnya yang semakin menjadi melihat posisi dada Tamara yang membusung ke arahnya.
"Kamu jangan menggodaku," kata Alva dan tak terduga meraih pinggang Tamara dengan sangat cepat, dan melum*at bibirnya penuh na*fsu membuat Tanara gelagapan ngga bisa nafas dan terguncang.
Dengan penuh hasrat Alva semakin mengeratkan pelukannya sementara Tamara terus meronta dan berusaha menendang milik Alva denga lututnya. Tangannya yang bebas pun memukul mukul punggung Alva.
Obat itu membuat tenaga Alva jadi berlipat lipat. Kekuatan perempuan Tamara ngga ada artinya buat Alva.
Bahkan kini tangannya mulai mere*mas tubuh Tamara membuat adrenalin Tamara menjadi naik.
Dia ngga pernah diperlakukan begini oleh laki laki manapun.
Ini pelecehan, jeritnya dalam hati antara perasaan marah dan sensasi aneh yang dia rasakan di sekujur tubuhnya.
Akhirnya setelah hampir kehilangan nafas dan akal sehatnya, Tamara berhasil juga menendang milik Alva hingga membuat laki laki itu terhuyung ke belakang sambil merutuk karena merasa sangat ngilu. Reflek Alva pun meemgang miliknya dengan kedua tangannya sambil.terbungkuk bungkuk.
Ngga membuang kesempatan, Tamara menghajar Alva dengan tendangan supernya dan mengenai telak ke tengkuk Alva membuat laki laki itu kembali melenguh dan jatuh ngga sadar kan diri ke lantai.
"Hah hah hah."
Nafas Tanara mulai tersengal.
Dia pun menendang lagi tubuh Alva sampai bergeser ke arah kamar mandi dengan marah.
"Dasar laki laki sialan kurang ajar," marahnya ngga berhenti henti.
Dia pun masuk ke dalam kamar mandi dan mengisi bath up. Kemudian dengan susah payah menarik tubuh Alva yang pingsan dan mengangkatnya ke dalam bath up yang sudah berisi aiir.
"Hah hah hah hah."
Nafas Tamara masih tersengal antara marah, capek dan kesal.
Ciuman pertamanya berhasil.dimiliki laki laki brengsek ini. Bahkan tubuhnya berhasil dipegang pegang.
Dalam hatinya Tamara ngga berhenti mengutuki nasib apesnya malam ini. Andai saja dia ngga menuruti keinginan teman temannya ke club dan segera ke hotel, pasti kejadian naas ini ngga akan menimpanya.
Tamara pun keluar dari kamar mandi dan bersandar di sampingnya sambil terus memegang knop pintu itu agar ngga bisa dibuka oleh Alva jika dia tersadar.
__ADS_1