Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Keputusan Meti


__ADS_3

Meti sempat gugling tentang apa rasanya jika terjadi belah duren.


Meti ngga mengira kecerobohannya mengakibatkan dampak.yang sangat besar.


Salah besar mengajak kak Glen untuk menemaninya minum dan curhat. Kak Glen malah ikutan minum dan mabok berat.


Dia pun ngga ingat apa yang sidah mereka lakukan sampai harus terbangun tanpa busana.


Ingin menangis, tapi bingung. Meti memutuskan pulang dengan taksi online setelah memesannya di sebuah mini market.


"Rasanya sakit pada organ vital dan mengeluarkan darah?"


Kening Meti berkerut saat membacanya.


Dia mengingat cukup lama, ngga ada rasa sakit di sana. Apalagi darah. Kedua pahanya bersih.


Batin Meti lega, sepertinya dia masih selamat dan masih virgin.


Hanya pusing di kepalanya saja membuatnya harus tiduran begitu sampai di rumahnya.


Pasti gara gara alkohol, batinnya kesal.


Untung mami dan papinya sudah berangkat kerja dan mengira dia masih tidur.


Mereka ngga mau mengusiknya dan membiarkannya sendiri dulu. Mereka memberikannya waktu untuk sendiri.


Patah hati ini sangat berat.


Meti menghembuskan nafasnya berkali kali.


Kak Alva dan istri nyebelinnya sudah terbang ke Dubai. Harusnya dia yang berbulan madu ke sana.


It's my dream. Not her dream!.


Meti jadi membandingkan nasib Kinan yang juga ngga bisa ke tempat impiannya bersama suami tercintanya yang sudah selingkuh.


Tapi Kak Alva ngga selingkuh. Dia itu setia. Pasti perempuan itu yang menggoda Kak Alvanya habis habisan. Wajah Meti nampak manyun karena kesal dengan pikirannya sendiri.


"Meti yakiin kita ngga ngapa ngapain, kak Glen," kata Meti setelah terdiam cukup lama.


"Tapi kenapa kita ngga pake apa pun?" selak Glen ngga percaya. Dia menggusar rambutnya kasar.


Frustasi sekali karena ngga bisa mengingat apa yang terjadi pada malam itu.


"Itu Meti ngga tau. Hanya saja, Meti yakin Meti... emmm.... masih virgin," kata Meti ragu campur malu.


Glen menatap Meti lama. Dia rasa pun begitu. Juniornya ngga bekerja keras malam itu. Keadaan fisiknya juga masih bersih nersih saja tanpa lengket lengket.


Hanya yang jadi pikiran, kenapa mereka berdua dalam keadaan tanpa sehelai busana pun.


Dia takut sudah berlaku kurang ajar pada Meti.


"Kak Glen tenang aja, Meti ngga apa apa. Lupakan aja, kak," tambah Meti ringan. Bibirnya pun tersenyum manis.


Glen balas tersenyum.


"Kalo Meti butuh apa apa, masih ada Kak Glen," ucap.Glen sungguh sungguh.


Rasa bersalahnya sangat besar. Meti terlalu polos. Alva yang brengsek itu saja ngga pernah mau menyentuh sampai merusak Meti.


Jika Alva tau apa yang sudah terjadi padanya dan Meti, pasti dirimya akan mendapat bogem mentah setelah kepulangannya dari bulan madu.

__ADS_1


Meti menganggukkan kepalanya.


"Ya, kak." Bibirnya pun menyunggingkan senyum manis.


*


*


*


Reno makin susah untuk berkonsentrasi. Udah beberapa malam ini dia ngga bisa menemui Rain di kafe.


Gara gara vitamin sialan itu, pikirannya jadi ruwet.


Apa Vira berbohong?


Reno selalu ingat kalo sepupunya sangat senang mengerjainya.


Pasti dia bohong, kan?


Tapi mukanya serius


Batinnya terus menyangkal tapi juga ragu.


Berkas berkas di depannya sudah sangat ngga menarik hatinya lagi.


CEKLEK


Reno mengangkat wajahnya kesal karena seseorang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.


Abangnya ternyata muncul dengan wajahnya yang cengengesan.


"Ayo, ikut meeting" ucapnya yang hanya berdiri dengan pintu yang sudah dibuka cukup lebar.


Kepalanya lagi pusing malah diajak meeting.


"Ayo cepat. Ditunggu papi lo," perintah Alvian tanpa mau dibantah.


"Iya, iya," sahut Reno kesal karena nama papinya dibawa bawa.


Walaupun pembangkang dan suka buat onar, Reno sangat segan dengan papinya.


Dengan malas dia mengambil map biru yang berisi berkas yang belum dibukanya sekali.


"Gitu, dong," puji Alvian-abangnya, sambil merangkul bahu adik manjanya.


Reno hanya melengos tapi membiarkan saja tangan abamgnya berada di bahunya.


Pintu ruang meeting pun dibuka sekertaris papinya. Senyum papi memyambut kedatangan kedua putranya.


Alvian pun membawa Reno duduk di sebelah kiri papinya, sedang kan dia di sebelah kanan.


"Oke, kita bisa mulai," ucap Om Regi.


Reno hanya diam sambil membuka buka berkasnya. Kali ini dia benar benar ngga ada niat untuk mengikuti meeting ini. Sampai liang telinganya seolah olah mendengar suara yang sangat dikenalnya mulai berbicara. Lilo.


Reno pun mengangkat wajahnya dan tatapannya bertemu dengan perempuan yang menghilang beberapa hari ini. Berada di samping Lilo.


Rain.


Rain memalingkan wajahnya dan fokus pada Lilo yang sedamg memaparkan proyek yang akan dikerjakan perusahaannya dan papanya.

__ADS_1


Ternyata perusahaan Reno juga dilibatkan bersama dua perusahaan rekanan lainnya.


Rain sungguh ngga menyangka akan bertemu dan nantinya akan bekerja sama dengan perusahaan Reno, setelah sengaja menghindarinya.


Netra Reno terus menyorot tajam pada Rain yang kini menyibukkan dirinya dengan kertas kertas di tangannya.


Bahkan sampai paparan program kerja dari Lilo selesai, Reno ngga mengalihkan tatapannya.


Dia mengamati Rain dengan seksama. Gadis itu terlihat baik baik saja. Ngga terlihat seperti sedang hamil.


Haaah!


Reno tanpa sadar membuang nafasnya dengan kasar. Kenapa pikiranya jadi ke arah hamil melulu. Pasti karena ulah sepupuya. Kini dia kembali mengomeli sepupunya dalam hati.


Lengan papi menyengggol lengannya membuat dia tersadar sedang berada di ruangan meeting.


Reno kini menatap lagi berkasnya.


PT Konstruksi Gemilang, ejanya dalam hati.


Itu rupanya nama perusahaan papa Rain. Pak Ruslan Dintara.


Entah apa keputusan yang sudah diambil, Reno benar benar ngga mendengar. Inginnya agar meeting cepat selesai, dan dia ingin memastikan sesuatu yang penting dengan Rain.


Begitu meeting selesai, mereka pun saling berjabat tangan sebagai tanda persetujuan yang sudah deal.


Reno menyadari ada keengganan dalam diri Rain untuk menjabat tangannya. Tapi Reno malah mengeratkannya saat Rain akan cepat cepat melepaskannya.


"Oh, ini putri Pak Ruslam," ucap Papi Reno membuat Reno akhirnya melepaskan tangan Rain


"Iya, Om," sahut Lilo yang merespon, kemudian tertawa kecil.


Rain menganggukkan kepalanya sambil menerima uluran tangan Papi Reno.


"Kalian saling kenal?" tanya papi Reno dengan senyum ramahnya.


"Dikenalin Kiano, Om. Reno juga kenal," jelas Lilo cepat.


"Ohya?" sahut Papi sambil melihat Reno yang tampak cuek. Sangat curiga.


Saat ini klien meeting mereka yang lainnya sudah berjalan meninggalkan ruang meeting.


"Kok, kamu ngga bilang kalo kenal dengan putri Pak Ruslan Dintara, Reno?" tanya papi sambil menatapnyanya penuh makna.


Beliau tau, dari tadi tatapan putranya terus menyoroti Rain sampai beliau menyenggolnya.


"Baru juga tau kalo.dia putri Pak Ruslan Dintara," jawab Reno sambil menatap tajam Rain. Tanpa peduli tatapan papi, abangnya dan Lilo padanya.


"Oooh," sahut papinya sambil melirik Alvian yang juga meliriknya.


"Kami pamit, ya, Om, Bang, Reno," ucap Lilo memutuskan tatapan Reno.


"Gue lebih tua dari lo," sarkas Reno membuat Lilo tergelak. Papi dan Alvian pun melebarkan senyum mereka.


"Oke," sahut papi Reno.


Lilo dan Rain pun beranjak pergi.


"Papi, Bang, aku ada urusan bentar," pamit Reno sambil berlalu tanpa menunggu jawaban keduanya.


"Ada yang aneh sama Reno," ucap Alvian kemudian menatap papinya.

__ADS_1


"Ya."


Papi Reno sangat hapal dengan kelakuan Reno.


__ADS_2