Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Saling Curhat


__ADS_3

"Aruna, tadi temanku Wahyu bilang nau jadiin aku istrinya," curhat Tamara sambil berbaring di tempat tidurnya. Tangannya mendekatkan ponsel di telinganya.


"Kenapa baru sekarang dia ngomongnya," balas Aruna kesal.


"Iyah, kenapa ngga dari dulu dulu. Padahal selama tiga tahun ini kita dekat. Kenapa ngga pernah ngirim sinyal," keluh Tamara juga kesal.


"Apa kamu ngga peka waktu si Wahyu itu ngasih perhatian ke kamu?" tuduh Aruna yakin. Karena style sahabatnya itu sangat cuek.


"Mungkin juga. Bodoh banget, ya," keluh Tanara lagi penuh sesal.


HENING


SUNYI


LIMA BELAS DETIK


"Memangnya kamu bakal terima kalo si Wahyu itu ngomongnya lebih dulu?"


Tamara terdiam. Bingung juga. Wahyu memang baik, juga tampan. Sebagai teman juga asyik.


Tapi kalo nikah?


Tamara menelan susah payah salivanya.


Dia belum kepikir nikah sampai datang lamaran konyol Alva.


"Tamara?" panggil Aruna karena belun mendapat jawaban dari sahabatnya.


"Runa, perasaanmu terhadap dokter Farel dulu gimana?" tanya Tamara mengalihkan topik pembicaraan. Lagi pula dia juga ingin tau apa yang dirasakan Aruna terhadap dokter Farel.


"Kok, nanya soal dokter Farel?" tanya Aruna ngga ngerti.


"Pengen tau aja."


DUA DETIK


Tamara belum mendengar jawaban Aruna.


LIMA DETIK


"Cuma teman. Dia baik dan ngga sombong. Padahal anak pemilik rumah sakit. Aku kagum aja," jawab Aruna akhirnya.


"Mungkin perasaanku terhadap Wahyu juga begitu. Dia baik, ngga sombong, padahal sering juara di luar negeri," balas Tamara.


"Jadi maksud kamu, kalo sama Alva kamu mau diajak nikah," terdengar tawa renyah Aruna seakan meledeknya.


Tamara pun ikut tertawa. Ngga tau apa arti tawanya.

__ADS_1


"Kalo sama Alva sebenarnya aku sebel banget. Pengen perang aja bawaannya," tawanya lagi.


"Kalo kamu udah nikah, beneran perang sama Alva tiap malam. Perang bantal," canda Aruna tambah berderai derai tawanya.


"Widiiih..... yang udah pengalaman," gelak Tamara membalas perkataan Aruna.


Aruna ngga berkata kata lagi. Keduanya mengakhiri sambungan telpon dengan suara tawa yang ngga berkesudahan.


*


*


*


Alva ingin rasanya membanting helmnya ketika dia sudah sampai di garasi rumahnya. Rasa pamas di hatinya sudah ngga tertahankan.


Begitu Tamara sampai di rumahnya, Alva pun dengan cepat mengambil helm yang disodorkan Tamara. Tanpa sepatah kata laki laki itu memacu dengan kencang motor balapnya meninggalkan rumah Tamara.


Dalam hati dia penasaran sekaligus kesal dengan laki laki yang bisa mendapatkan tatapan ramah dari Tamara. Sedangkan dengannya netra Tamara selalu menyorotkan kekesalan.


Dia pun mengambil ponselnya dan menelpon Kiano. Saat ini dia lebih mempercayai Kiano dari pada Regan.


Kedekatan Regan dengan Tamara membuatnya sedikit ilfeel. Apalagi dia pernah menjodohkan keduanya. Sekarang sekarang ini ada rasa ngga rela di hatinya.


Tapi Alva belum bisa yakin dengan perasaannya. Dia ngga pernah bertahan lama dengan satu perempuan.


"Ada apa? Sebentar gue minggir di minimarket dulu. Kalo kejepret, bisa kena banyak gue," ucap Kiano sambil meminggirkan mobilnya ke parkiran minimarket.


"Sorry, lo lagi nyetir ya,"kekeh Alva. Sudah dua kali dia mendapat surat tilang elektronik karena sering mengangkat ponsel saat nyetir.


"Itu lo tau."


Alva masih melanjutkan kekehannya


"Tadi kata Glen, lo antar Tamara pulang. Udah naek progres lo ya," kekeh Kiano ganti mengetawakannya.


Dasar ember, maki Alva kesal dalam hati. dia pasti sudah bisa bisa menebak, kabar dia mengantar pulang Tamara akan sampai juga di telinga Kiano. Jika ngga Glen pasti Reno yang sangat suka membuka aib. Kalo Arga dan Regan bisa dipastikan akan tutup mulut. Mereka ngga begitu kepo.


"Lo benar, gue harus selidiki apa Tamara punya hubungan dekat atau ngga dengan teman laki lakinya," ucap Alva tiba tiba setelah tawa mereka usai.


Terdengar tawa Kiano kembali membuat Alva kesal.


"Jangan bilang lo cemburu?"


"Enggaklah. Mana mungkin."


Tawa Kiano terdengar lagi, lebih keras hingga Alva menjauhkan ponselnya.

__ADS_1


"Berisik tau!" sentak Alva gusar.


"Ya ya ya," tukas Kiano sambil memelankan suara tawanya.


"Lo dulu bisa yakin banget dengan Aruna, ada alasannya?" tanya Alva setelah tawa Kiano benar benar berhenti terdengar.


"Ngga ada. Yakin aja," jawab Kiano lugas.


"Kenapa bisa begitu? Dan lo juga aneh. Masa dalam waktu lama ngga pernah ketemu, lo bisa tetap cinta sama Aruna?" tanya Alva beruntun, benar benar ngga sabar dan sangat penasaran.


Gue ngawasin dia, lo aja yang ngga tau, batin Kiano mencela.


"Hey, jawab, dong," desak Alva karena ngga ada jawaban Kiano.


"Namanya juga takdir. Gue cuma ikutin aja jalannya," jawab Kiano penuh arti.


Kiano ngga mungkin berterus terang kalo sudah bucin akut dengan Aruna sejak dulu. Bisa bisa Alva akan membocorkannya dan mengetawakannya bersama yang lainnya.


"Gitu ya."


Alva mulai mencoba memahami kata kata Kiano.


"Apa lo ngga merasa bosan dengan Aruna saja?"


"Sampai sekarang belum Lagian apa lagi yang gue cari. Sekarang gue sama Aruna sama sama lagi nunggu buah hati kita lahir.," jelas Kiano.


"Maksud lo, lo udah ngga pengen unboxing perempuan lain?"


"Enggaklah. Cukup dulu gue jadi brengsek. Sekarang gue mau jadi suami dan papi yang baik."


"Sombong lo," kecam Alva membuat Kiano terkekeh. Tapi Alva coba memaknai lebih dalam kata kata Kiano.


Mereka sama sama brengsek. Cuma kadar kebrengsekan Kiano, Regan dan Arga lebih sedikit dibandingkan dia, Glen dan Reno.


"Eh, maksud ucapan lo pertama tadi kalo Tamara punya pacar di kantor?" tanya Kiano mendadak ingat kalimat awal Alva.


"Mungkin nggak?" Alva balik bertanya.


"Kata Aruna, Tamara itu jomblo," tegas Kiano.


Tapi laki laki tadi siapa? batin Alva tetap curiga.


"Oh."


"Kalo lo udah cemburu, bearti lo udah ada rasa," ledek Kiano.


"Gue cuma nanya," ketus Alva sebal, apalagi kini yang dia dengar suara tawa Kiano yang mengejeknya.

__ADS_1


Dengaj kesal Alva pun menutup sambungan telponnya.


__ADS_2