Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Menyelidiki Aruna


__ADS_3

"Pulanglah, Sya. Aku tidak bisa menduakan istriku," kata Arjuna tegas.


Sasya bangkit dari duduknya. Air matanya mengalir dengan deras.


Aruna menatap Kiano. Dia merasa jadi gadis yang paling jahat karena sudah menyakiti gadis lain demi mendapatkan Kiano.


"Baiklah. Tapi aku ngga akan berhenti agar kamu mau menjadikanku yang kedua," katanya sambil memghapus air matanya. Dengan nekat dia mengecup cepat bibir Kiano membuat Aruna mematung.


Di depan matanya gadis ini berani mencium suaminya. Apa itu artinya dia menarik gendera perang?


"Bibirmu akan selalu merindukan bibirku, honey," kata Sasya angkuh kemudian berbalik pergi tanpa melirik Aruna.


Kiano menggelengkan kepalanya kesal. Diapun mengusap bibirnya dengan punggung tangannya dengan kasar seakan sedang menghapus jejak bibir Sasya.


"Kamu marah?" tanya Kiano sambil menatap dalam netra Aruna. Jantungnya ketar ketir juga karena tadi Aruna melihat kenekatan Sasya.


Aruna ngga menjawab, dia hanya mengambil sehelai tisu basah dari tasnya dan mengusapkannya lembut pada bibir Kiano. Kemudian dia pun mengusap punggung tangan Kiano.


"Apa sekarang aku boleh menciummu?" tanya Kiamo yang sudah ngga bisa lagi menahan hasratnyasejak Aruna mulai menyentuh bibirnya.


Aruna ngga menjawab. Tubuhnya pun sudah gemetar sejak dia memberanikan dirinya mengusap bibir Kiano.


Dengan lembut Kiano mengecup dan menghisap bibir tipis Aruna sambil kedua tangannya memeluk erat pinggang istrinya.


Hampir setengah jam mereka bertukar saliva, kemudian Kiano mengangkat tubuh Aruna yang sudah pasrah ke kamar privatnya.


Satu jam kemudian, Kiano menyelimuti Aruna yang tertidur karena kelelahan akibat ulahnya.


"Istirahatlah sayang. Nanti malam kita ulang lagi, ya," bisik Kiano dengan senyum lebar.


Dia menatap lembut wajah cantik istrinya.


"Kamu cantik banget," bisiknya lirih. Dia pun mengusap bibir istrinya yang terbuka sedikit.


Setelah mengecup dengan sangat lembut, Kiano beranjak keluar dari kamar privatnya meneruskan pekerjaannya yang tertunda.


*


*


*


Secara ngga sengaja Herman Permana bertemu dengan Dika Artha Mahendra di salah satu perusahaan rekanan mereka.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Herman Permana membuat Dika Artha Mahendra tersenyum ramah. Beliau tau putranya menjalin kerja sama dengan perusahaan yang dipimpin Herman Permana.


"Bisa. Di mana?"


"Di kafe depan ini saja."


"Baiklah."


Akhirnya keduanya duduk di sebuah kafe ngga jauh dari tempat mereka bertemu.


"Kudengar putraku menjalin kerja sama dengan perusahaanmu," kata Dika Artha Mahendra memulai percakapan.

__ADS_1


"Begitulah. Aku tertarik pada perusahaan yang berisi para pemuda pintar yang punya insting bagus di bidang bisnis."


Keduanya kemudian menyesap kopi yang dihidangkan pelayan.


"Ya, anakku dan teman temannya. Kamu kenal juga, kok, orang tua mereka. Termasuk rekanan bisnis kita juga," jelas Dika panjang lebar.


"Oh, begitu. Sejak kapan mereka berteman? Terlihat sangat akrab."


"Rata rata sejak mereka kelas satu SMA. Mereka dulu selalu menginap di rumah mertuaku. Kita sebagai orang tuanya terlalu sibuk dengan bisnis. Untunglah mertuaku sangat mengayomi mereka," kata Dika dengan raut wajah bersyukur.


Beliau sangat berterimakasih pada mertuanya yang mau direpotin kelakuan para remaja tanggung itu. Kiano dan teman temannya pun tidak terkena jerat narkoba dan belum pernah berurusan dengan polisi. Mereka tumbuh menjadi remaja yang bertanggungjawab walaupun tetap saja melakukan kenakalan kenakalan tapi masih bisa ditolerir.


"Pantasan mereka sangat akrab, ya," kekeh Herman. Beliau menyadari ikatan batin pemuda itu ketika berkunjung ke kantor mereka.


"Tapi memang sangat mengagum, ya. Mereka mandiri dan ngga seenaknya menggunakan fasilitas yang diberikan orang tua," kagum Herman lagi.


Di saat banyaknya berita remaja yang terjerumus narkoba karena kurangnya perhatian orang tua, Kiano dan teman temannya malah menunjukkan kiprahnya dalam dunia bisnis. Mengingat akan masa mudanya dahulu.


"Betul. Papi mertuaku sangat pintar membimbing mereka."


"Iya, salut sama Om Suryo."


Kemudian mereka menyesapkan lagi kopi mereka.


"Aku kepikiran untuk menjodohkan anak anak kita," pancing Herman Permana setelah cangkir yang berisi kopi diletakkan di tatakannya.


Dika tertawa.


"Dengan putriku?" todongnya langsung. Karena ngga mungkin Kiano, dia baru saja menikah.


"Putramu."


Dika terdiam. Dia menatap rekan bisnisnya sebentar sebelum menarik nafas panjang.


"Putraku sudah menikah," kata Dika agak menyesal karena ngga bisa mengabulkan keinginan rekan bisnisnya.


Herman pura pura terkejut.


"Dengan siapa? Tega sekali aku ngga dikirimkan undangan," katanya pura pura merajuk.


Dika tersenyum lebar.


"Maaf, ya. Kami hanya membuat resepsi kecil kecilan," kata Dika merendah.


"Kenapa begitu?" kaget Herman mulai tertarik.


"Ceritanya panjang. Papi mertuaku yang mengatur.semuanya. Beliau juga baru sembuh dari sakitnya."


"Papiistrimu? Om Suryo?"


"Ya, betul sekali."


"Papi mertuaku sudah mengenal pacar Kiano, dokter yang merawatnya di rumah sakit. Jadi memutuskan mereka untuk segera menikah," tawa Dika perlahan. Dia ngga mengira akan bisa merangkai cerita sebagus ini walau ngga sepenuhnya bohong.


Herman memaksakan tawanya.

__ADS_1


"Oh, dokter. Bukan pebisnis seperti Kiano?" pancing Herman lebih dalam. Beliau harus bisa menggali informasi yabg lebih banyak lagi tentang istri Kiano, agar putrinya ngga salah memilih lawan.


"Bukan.Istri Kiano Dokter spesialis penyakit dalam."


Herman manggut manggut.


"Sangat ngga terduga Kiano memiliki pacar. Apalgi seorang dokter. Di luaran dia terkenal dingin dan pekerja keras. Gosipnya dengan perempuan pun ngga ada yang terendus media," kekehnya dalam pujiannya.


Dika pun ikut tertawa mendengar kata kata pujian rekannya.


"Aku dan istriku juga ngga menduganya."


"Oooh," sahut Herman manggut manggut.


"Pembawaan putramu membuatku yakin meminta putriku bertunangan dengannya. Sayang, aku terlambat," kekehnya agak pahit.


Dika mengerti akan kekecewaan rekannya. Beliau jadi berpikir, proyek kerja sama mereka mungkin ada maksud untuk menjodohkan putra dan putri mereka.


"Aku pernah melihat putrimu, dia samgat cantik," puji Dika tulus.


"Ya, terimakasih.".


"Semoga dia bisa mendapatkan jodoh yang lebih dari segala galanya dari pada putraku," kata Dika mendo'akan.


"Amin. Tapi entahlah, apakah masih ada lagi stok seperti putramu," kekehnya disambut kekehan juga dari Dika.


"Kau terlalu memuji. Pasti masih banyaklah yang lebih dari putraku," balas Dika dalam kekehannya.


"Tidak, aku jujur," sergah Herman masih dengan derai tawanya.


"Putraku yang tertua baru pulang dari Qatar," kata Herman mencoba memancing yang lain.


"Kabarnya dia sukses besar di sana ya," sambut Dika antusias.


"Begitulah," jawab Herman dengan nada merendah.


"Mungkin bisa berkenalan dengan putrimu," kekeh Herman lagi.


Dika Artha Mahendra hanya tertawa memanggapinya.


*


*


*


Ingin rasanya Claudia membanting ponselnya saat melihat rekaman video kemesraan Kiano dan istrinya.


"Dokter Aruna?" gumamnya pelan. Dia pun langsung memghubungi kedua pengawalnya untuk memeriksa identitas dokter Aruna di rumah sakit tempat dia bekerja.


Ngga nyampe satu jam, dia sudah mendapatkan beberapa informasi yang deil dan akurat.


Dia hanya anak pegawai biasa?


Satu seringai licik muncul di bibirnya. Lebih mudah mrenghancurkannya.

__ADS_1


__ADS_2