Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Bantuan Yang Berdatangan


__ADS_3

"Gue udah nelpon Om Bari. Katanya Om.Bari akan membawa polisi ke sana," kata Glen setelah melepas Kiano pergi.


"Sebenarnya gue ngga tenang. Apalagi Alva hanya sendirian," tukas Reno sambil memainkan pen tabletnya.


"Tenang saja. Regan dan Arga baru saja mengabari kalo mereka sedamg on the way ke rumah sakit."


"Oh, mereka sudah sampai ya." Secercah senyum tersungging di bibir Reno. Perasaannya mulai tenang.


"Ya,. Sekarang kita lanjutkan rapat, biar cepat selesai."


"Oke," sahut Reno semangat.


Rapat ini harus cepat diakhiri.


Keduanya kembali fokus ke.layar presentasi setelah memberikan jeda waktu untuk peaerta meeting memahami konsep yang mereka buat.


*


*


*


"Mengapa lama sekali," kesal Arik yang baru melihat puluhan anak buahnya sampai di parkiran samping, tepatnya di gedung lama rumah sakit.


"Maaf bos," lapor salah satu anak buahnya dan Athar.


"Bawa pistol saja. Aku yakin, sekarang sudah kacau balau," ujar Arik sambil memeriksa peluru dalam pistolnya.


"Ayo!" komandonya sambil berlarian ke arah tempat kerusuhan.


Dalam hati Arik bertanya tanya juga, kenapa gedung ini sepi. Apa mereka sudah memboikotnya?


"Eh, itu siapa?" seru Arik heran saat melihat tiga orang laki laki muda berlarian di depannya. Kelihatannya mempunya tujuan lokasi yang sama. Tapi belum jelas, apakah kawan atau musuh.


"Kalian siapa!" sentak Arik sambil mempercepat langkahnya.


Ketiganya yang bukan lain adalah Regan, Arga dan Aries menghentikan langkah mereka mendengar suara bentakan keras.


"Loh, Ries, ngapain lo di sini?" sergah Arik saat melihat salah satu yang dikenalnya.


"Lo sendiri? Eh, sorry, kita buru buru. Anak bos gue dalam bahaya," balas Aries kemudian melangkah cepat menyusul Regan dan Arga yang sudah duluan pergi.


"Mungkin kita dalam misi yang sama. Anak bos lo Kiano?" tanya Arik sambil menjejeri langkah cepat Aries.

__ADS_1


"Yap betul!" sahutnya cepat. Otak Aries berpikir saat melihat puluhan laki laki berseragam di belakang Aries.


"Syukurlah kalo begitu. Orang lo banyak juga. Orang orang gue bentar lagi datang," seru Aries senang walau jantungnya berdebar aneh. Mumcul perasaan khawatir tentang keadaan Kiano.


Dia.yakin saat ini suasana di depannya sudah ngga kondusif. Apalagi suara pukulan dan teriakan mulai terdengar tanpa henti.


DOR


Regan, Arga, Aries dan Arik.saling pandang. Tanpa sepatah kata pun mereka semakin cepat melarikan langkah kaki mereka dengan menggenggam erat pistol di tangan.


Kiano, lo boleh mukul gue berapa kali pun. Tapi lo ngga boleh mati! batin Aries mulai dilanda kepanikan.


Athar, gue ngasih pistol lo malah bawa tongkat ngga guna itu. Lawan lo pada bawa pistol, bego! batin Arik ngga kalah cemasnya.


Regan dan Arga saling pandang. Saat ini yang terbayang di wajah mereka sama, Alva yang baru keluar dari rumah sakit.


"Semoga Al ngga pa pa," desis Regan yang diangguki Arga.


Begitu sampai di dekat pertarungan yang ngga imbang itu, Regan cs pun dengan sigap menarik pelatuk pistol masing masing dan menghantam tangan tangan di depannya yang sedang mengacungkan pistol.ke arah teman teman mereka.


Mereka ngga ada niat membunuh, hanya ingin membuat lawan menjatuhkan senjata apinya. Itu pun bukan tanpa resiko. Mereka takut dan cemas juga peluru peluru nyasar ini akan mengenai Kiano cs yang terlambat tiarap.


Suara tembakan bergema dengan dahsyat. Begitu juga suara teriakan kaget dan kesakitan. Di luar prediksi, bantuan lawan datang di saat mereka sudah akan memenangkan pertarungan ini.


"Sorry, kita telat," seru Regan seraya berlari dan menghajar para pengawal di depannya. Begitu juga Arga, Aries, Ariik dan anak buahnya. Sekarang teelihat pertarungan ini lebih dari seimbang.


"POLISI! Jangan bergerak!" seru Om Idham, temannya Om Bari di kepolisian dengan para prajuridnya yang semuanya menodongkan senjata api ke arah mereka yang sedang berkelahi dan kesakitam.


Puluhan polisi pun mengepung tempat itu. Gedung lama yang sepi kini mulai di datangi para tenaga medis dan pengunjung orang sakit akaibat bunyi tembakan yang. membahana. Rupanya isu yang tersiar kalo akan merenovasi gedung lama ini membuatnya menjadi tampak tak berpenghuni.


Sayangnya Aruna ngga mendengar isu itu. Jadi membiarkan perawat gadungan itu membawa pasiennya melewatinya.


"Kiano, kamu ngga apa apa?" tanya Aruna panik melihat darah di pumggung tangan Kiano. Aruna kembali meneteskan air mata.


"Ternyata kamu cemgeng juga," desis Kiano mengejek.


Senyum Kiano merekah manis.


"Aku serius nanya, kamu berdarah," ulang Aruna dengan netra penuh air mata. Dia khawatir melihat lelehan darah di tangan Kiano.


"Ini bukan darahku, sayang," kata Kiano kemudian mengecup kening Aruna dan kembali memeluknya.


"Syukurlah kita selamat," gumamnya lega yang dibalas anggukan penuh air mata Aruna.

__ADS_1


"Perutmu masih sakit?" tanya Kiano lembut.


Aruna menggeleng.


"Sudah ngga lagi."


"Tetap haris diperiksa, Aruna," kata Kiano membuat Aruna lagi lagi hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Alva!" teriak Tamara cemas.


Regan dan Arga cepat menghampir Tamara dna Alva.


Punggung laki laki songong itu mengeluarkan banyak darah. Rupanya dia terkena sambaran peluru ketika mendorong Tamara agar tiarap di lantai.


"Gue.... gue ngga apa apa,' katanya masih dengan senyum tengilnya. Seakan ngga merasakan sakit sama sekali.


"Kita bawa lo ke bagjan IGD. Tuhan, kenapa mereka merencaanakan kerusuhan di rumah sakit," tukas Arga sambil menggelengkan kepalanya ngga ngerti.


"Tapi syukurlah, tim.medis bergerak cepat," tukas Regan sambil.menunjuk dengan dagunya ke arah tim.medis yang sudah siap dengan banyak brankar.


Kemudian Regan dan Arga memapah Alva berdiri. Tamara pun ikut berdiri di sampingnya.


"kamu ngga apa apa?" tanya Regan ngga tega sambil memperhatikan keadaan Tamara yang kotor dan ada luka di sudut bibirnya.


"Lo ngga lihat dia berdarah," sarkas Alva terkekeh.


Regan ngga menanggapi.


"Aku ngga apa apa. Lebih baik kalian cepat membawanya ke IGD," kata Tamara agak sungkan campur kesal.


Heran, beda banget kelakuan si songong itu tadi dan sekarang. Tadinya Tamara sempat merasakan perasaan aneh yang membuatnya melayang, tapi sekarang hanya perasaan kesal yang memenuhi dadanya karena mulut menyebalkan dari si songong itu.


"Kamu juga ikut. Badanmu pasti memar memar," kata Alva tiba tiba menolehkan kepalanya pada Tamara ketika gadis itu ngga mengikutinya.


Netra Alva menyorot dalam padanya membuat dia ngga bisa membantah.


"I-iya," balasnya patuh.


"Iya, Tamara. Apalagi bentar lagi lo berdua bakal nikah," canda Regan dengan bibir penuh senyum.


"Kalian berdua harus secepatnya menghilangkan bilur bilur bengkak ini. Masa penganten tampangnya ngga ada mulus mulusnya," kekeh Arga membuat Regan juga ikut tertawa.


Wajah Tamara langsung terbakar, sementara Alva yang tadinya memintanya menikahi sahabatnya Regan, sama sekali ngga membantah. Tapi malah ikut tertawa seakan setuju dengan perkataan Arga.

__ADS_1


Dasar laki laki plin plan, umpat Tamara dalam hati.


__ADS_2