
Uhuk uhuk uhuk....
"Sampai kapan lo mau batuk batuk," ledek Glen sambil tersenyum lebar. Sama seperti reaksi Reno.
Regan pun menipiskan bibir menahan tawa.
Kurang ajar, ngga ada yang kasian padanya, maki Alva dalam hati geram. Sementara Tamara sudah menghilang. Ngga tau kemana.
"Kamu ngga apa apa?" tanya Nadia kasian melihat wajah memerah dan suara batuk yang masih saja terdengar walaupun ngga sesering tadi.
Pasti sangat menyakitkan.
Alva hanya menggelengkan kepalanya sambil berusaha meredakan batuknya.
"Nih, minum dulu," ucap Tamara sambil mengulurkan segelas air putih hangat.
Alva menatap Tamara sejenak sebelum.meraih gelas itu dan meneguknya perlahan. Dia mengira Tamara sudah pergi meninggalkannya karena marah akan ucapannya.
Tamara menghela nafas panjang sambil duduk di dekat Alva.
"Aku Nadia, tunangan Reno. Ini Dinda, pacarnya Regan," kata Nadia memperkenalkan dirinya dan Dinda pada Tamara.
Tamara tersenyum pada keduanya.
"Tamara," ucapnya sambil membalas uluran tangan keduanya.
Cantik, pujinya dalam hati saat memperhatikan Nadia. Kemudian Tamara mengalihkan tatapannya pada Dinda. Agak bingung.
Gadis ini berhijab. Ngga salah? batinnya kenudian mengalihkan tatapannya pada Regan
Regan yang menyadarinya tersenyum saat membalas tatapan Tamara
"Maaf," kata Alva memutus tatapan Regan dan Tamara. Hatinya agak panas melihat keduanya saling bertatapan.
Salahnya sendiri yang pernah menawarkan Regan pada Tamara hingga keduanya kini cukup dekat.
"Hemm?" dengus Tamara masih dalam mode kesal.
Bisa bisanya dia berencana mengeroyok Wahyu, sewotnya membatin.
Bahkan sampai membuatnya koma, sambungnya lagi masih dalam hati.
"Aku... Aku tadi becanda. Ngga serius," sambung Alva setelah dia merasakan sedikit kelegaan di tenggorokannya.
"Udah berkurang sakitnya?" tanya Tamara ngga tega juga melihat Alva yang masih sedikit meringis saat berbicara. Suaranya pun agak serak.
Bisa bisanya dia tersedak kopi panas, batin Tamara merasa kasian juga.
"Lumayan," sahut Alva lega karena Tanara ngga menyemprotnya karena lontaran ide gilanya.
Regan, Reno dan Glen mesem mesem melihat Alva yang nampak takluk dengan Tamara. Padahal Tamara belum mengeluarkan jurus jurusnya.
"Sorry, kita pamit dulu, bro," ucap Alva sambil menggamit lengan Tamara.
"Ya, ya, pergi sana," usir Glen terkekeh.
Rano dan Regan tertawa kecil melepas kepergian keduanya.
Dinda dan Nadia pun tersenyum tipis.
Nadia seperti pernah melihat sosok Alva. Tapi dia lupa.
Andai saja Reno seperti Alva, batinnya agak iri.
Atau seperti Regan, sambungnya lagi.
__ADS_1
Kemudian dia memghela nafas panjang.
*
*
*
"Ada apa tadi kamu ke kantor ku?" tanya Tamara agak ngga acuh. Perasaannya antara kasian dan kesal terhadap Alva masih berperang di batinnya.
"Hemmm," Alva mencoba menetralkan rasa seret di tenggorokannya.
"Mau antar undangan pernikahan kita ke teman teman kamu," jawab Alva dengan suara serak. Tapi gayanya udah cool lagi.
Ganti Tamara yang membesarkan bola matanya. Terkejut.
Seingatnya dia belum memberitahukan nama nama temannya.
"Dari mama kamu," jelas Alva lagi sambil memasangkan helm di kepala Tamara yang masih berdiri bengong.
Oooh, pantasan, batin Tamara kesal lagi, kali ini pada mamanya.
Tamara belum siap memberitahukan kabar pernikahannya yang terkesan cepat dan terburu buru ini pada mereka. Dia yakin akan muncul stigma negatif padanya nanti.
"Kenapa? Kamu ngga ingin laki laki itu tau kalo kamu akan segera menikah?" ketus Alva marah karena melihat reaksi Tamara yang terlihat enggan.
Apa menikah dengannya sangat memalukan? Ngga membanggakan sama sekali?
Woooiiii, gue nih kaya raya, ganteng dan sukses. Beda kelas sama laki laki itu, batin Alva sombong karena sangat tersinggung.
"Kamu kalo ngomong dipikir dulu, kek," kata Tamara gusar sambil menepis tangan Alva yang akan mengkaitkan tali helmnya.
Alva mendengus, kemudian meringis karena perihnya kerasa lagi. Dia harus hati hati bereaksi agar ngga merasa sakit lagi di tenggorokannya. Pikirannya mengingatkan.
"Ini terlalu cepat," ucap Tamara mencoba menyabarkan.
"Lusa kita menikah Tamara. Lo masih aja banyak pikir," ketus Alva sambil mengenakan helmnya.
"Karena itu, aku bisa dikira hamil duluan, makanya buru buru nikah," jelas Tamara mulai kesal.
Apa laki laki ini ngga mempedulikan rumor?
Alva yang akan menaiki motornya jadi terhenti. Kemudian dia menatap Tamara setelah menaikkan kaca helm sportnya.
Hamil? batin Alva dan di kepalanya langsung terbayang tiga lingerie yang ditunjukkan maminya tadi pagi.
"Lo pengen dihamilin sampai beli tiga lingerie?" sergahnya dengan mata menyorot nakal.
TUK
Tamara mengetuk helm Alva saking kesalnya. Alva malah tersenyum lebar.
Gara gara mama dan maminya, nih. Alva sudah nelihatnya? batin Tamara malu.
Sejujurnya dia membenci saat kedua wanita yang paling dihormatinya memilihkan tiga lingerie yang sangat seksi untuknya.
Itu pun sudah dia cut. Padahal kedua wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu masih ingin menambah koleksi lingerie lagi untuknya.
"Aku suka lingeriemya. Pake yang biru ya," katanya lagi sambil menghidupkan motornya. Dia pun memiringkan motornya agar Tamara mudah menaikinya.
Tanpa kata Tamara menaiki motor Alva dengan mudah, karena dia memakai celana panjang.
"Aku rasa tiga lingerie masih kurang. Kenapa mami hanya membeli tiga," oceh Alva lagi membuat Tamara ingin menoyor kepala.yang ngga ada isinya itu selain hal hal mesum.
Tamara hampir menjerit dan terpaksa memeluk Alva dengan erat ketika Alva tiba tiba melajukan motornya.
__ADS_1
"Kasih aba aba, kek, kalo mau jalan," sungut Tamara kesal.
"Emang kita di arena pertandingan," jawab Alva cuek dan dia pun semakin melajukan motornya membuat pelukan dan daya nempel tubuh Tamara semakin erat padanya.
Merasakan bagian empuk itu menekan punggungnya sangat dalam membuat pikiran Alva travelling kemana mana.
Kalo pake lingerie pasti si kekar ini sangat seksi, batinnya dengan senyum lebar tersungging di sana.
Ngga nyampe setengah jam, Alva sampai di kantor Tamara.
"Besok kamu udah cuti," kata Alva memberikan perintahnya.
"Ya," jawab Tamara malas sambil turun dari jok motor.
Alva melepas kaitan helm Tamara dan mengangkat helmnya dari kepala Tamara.
Tangannya reflek merapikan rambut Tamara yang sebahu yang tadi di kuncirnya.
"Ini," ucap Alva sambil memberikan paper bag berisi kartu undangan pernikahannya.
"Aku pulang dulu," pamit Alva, tapi dengan cepat dia mencubit pipi kanan Tamara membuat gadis ini tanpa sadar meneriakkan namanya dengan kesal.
"Alva!"
Tapi sosok tengil itu sudah melajukan kan motornya meninggalkan Tamara yang mencak mencak karena kesal.
*
*
*
"Kamu ngga lagi hamil, kan?" tuduh Ambar saat menerima undangan mewah yang diberikan Tamara.
Benerkan, pasti dugaannya merngarah ke sana, batin Tamara jengkel.
Harusnya memang ngga diundang, lanjutnya lagi memaki dalam hati.
"Kamu serius mau nikah?" tanya Mita shock.
Teman kantornya yang ngga pernah menceritakan hubungan romantisnya dengan pria mana pun malah akan segera dihalalkan.
"Gila, jodoh lo, Anak konglomerat," seru Disa sambil melototkan namanya seolah masih ngga percaya kalo nama itu akan menikahi Tamara.
"Kamu tau?" tanya Ambar langsung fokus pada Disa.
"Tau, dong. Pernah lihat di tivi. Tapi dia, kan, player. Kamu ngga takut nikah seminggu trus cerai karena laki kamu ketahuan selingkuh? cerocos Disa panjang lebar.
"Haah! Serius?" seru Ambar antusias.
Berita hot ini, batinnya berseru senang.
"Kamu ngga ngarang, kan, Dis?" tanya Mita ngga percaya.
"Ngga lah. Dia, kan, sering pacaran sama model seksi."
"Nasib kamu menyedihkan, Tamara," cela Ambar menyindir.
Tamara ngga menyahut, malah langsung pergi.
Tau gitu reaksi teman temannya, Tamara ngga akan memberikan undangan yang sangat berharga ini.
Sementara Wahyu menatap punggung Tamara dengan sayu.
Aku tunggu jandamu, Tamara. Aku tunggu, batin Wahyu dengan tekatnya yang sangat dalam.
__ADS_1