
Arga masih tersenyum melihat wajah Qonita yang masih saja ditekuk. Hingga pesta berakhir, dan mereka pun ngga lupa mengikuti sesi foto bersama pengantin.
"Masih marah?" godanya sambil terus menyetir.
"Hemm."
Arga tertawa kecil.
"Dulu itu, Alva dan Tamara saling ngga suka. Bahkan Tamara pernah menghajar Alva saat mau mengintip malam pertama Kiano dan Aruna," kekeh Arga ngga bisa berhenti mengingat nasib Alva yang paling parah gara gara ditendang Tamara.
Qonita pun ngga bisa menahan lagi ekspresi cemberutnya. Dia juga langsung melebarkan senyumnya.
"Serius?" tanya Qonita takjub sekaligus geli.
"Serius," jawab Arga di sela tawanya.
"Sejak itu Alva dari ngga suka jadi benci sama Tamara."
Kekesalan Qonita langsung menguap. Dia bahkan kini tertawa kecil mengimbangi derai tawa Arga yang terlihat bahagia sekali.
Jantung Qonita berdetak keras saat melihat wajah Arga yang terlihat normal, seperti laki laki baik, bukan laki laki kurqng ajar. Sangat tampan dan kiyut. Tawanya sangat lepas, ngga terkesan di buat buat.
Hei jantung, tenang sedikit. Jangan bikin aku malu, batin Qonita berkali kali.
Keduanya bersitatap sesaat sebelum Arga mengalihkan fokusnya ke depan.
"Tapi waktu di kafe, Alva kelihatan udah jinak sama Tamara. Kok, bisa?" tanya Qonita membuang suasana kikuk yang tiba tiba menyergap mereka
Arga berdehem sebentar.
"Malam itu Alva sedang ada pertemuan dengan keluarga Meti, membahas perjodohan mereka. Alva menolak, kemudian pergi ke club. Saat itu dia ketemu orang yang dia curigai sebagai salah satu pelaku yang mau menabrak Aruna di rumah sakit," Arga menjeda penjelasannya.
Mumpung dia lagi mood menjelaskan runtutan peristiwa dengan detil.
"Sebentar, sebentar. Aruna ditabrak? Kapan?"
"Ya, kami lagi nyari pelakunya. Udah lama kejadiannya, sih. Ternyata Alva nemu. Sayangnya pelakunya lagi rame, sedangkan Alva sendirian. Habis dia dipukulin."
Qonita hampir ternganga mendengarnya.
Cerita ini sangat seru. Di luar sangkaannya.
"Gue, Glen dan Regan datang terlambat ke parkiran club. Alva sudah ngga ada. Ternyata Tamara sudah menyelamatkannya."
Sampai di sini Arga terdiam cukup lama.
__ADS_1
Haruskan aku ceritakan tentang obat perangsang itu? batinnya mulai bingung lagi.
"Terus?" kejar Qonita sangat tertarik.
Setelah menatap wajah polos di depannya sebentar, Arga memutuskan enggak dan menilih mengarang cerita menjadi versi yang sedikit berbeda.
"Saat di rumah sakit, keadaannya cukup parah. Papi Alva berjanji akan membatalkan perjodohan itu. Papi Meti pun ngga keberatan karena mereka sudah saling menganggap keduanya anak sendiri," kata Arga mulai mengarang.
Syukurlah dulu dia selalu mendapat tinggi jika ada tugas Bahasa Indonesia untuk pelajaran membuat cerita. Baik itu cerita tentang kegiatan saat liburan sekolah atau pun cerita tentang karya wisata. Dia selalu bisa membuatnya dengan sangat baik.
"Awalnya Alva hanya menggunakan Tamara sebagai alat agar perjodohannya putus dari Meti. Tapi karena orang tua Alva merasa berhutang nyawa dengan Tamara akan keselamatan putranya, mereka malah setuju dengan rencana Alva. Apalagi Orang tua Tamara juga setuju dengan niat orang tua Alva menjodohkan keduanya."
Sampai di sini Arga mulai lega karena kebohongannya berjalan lancar dan mulai searah dengan fakta yang terjadi.
"Oooh... Tapi kenapa ya, Alva bisa kayak jadi suka sama Tamara? Kan awalnya ngga suka, trus benci," gumam Qonita pelan tapi masih terdengar sangat jelas oleh Arga.
"Perah dengar ada yang mengatakan kalo benci jangan sampai terlalu dalam, nanti bisa jadi cinta. Mungkin itu yang terjadi pada mereka berdua," sahut Arga sok bijak.
Qonita manggut manggut mengerti
"Seperti kamu," ucap Arga memancing, bermaksud menggodanya.
"Aku? Kenapa?" tanya Qonita sambil menunjukkan jari telunjuknya ke dadanya, ngga ngerti maksud Arga yang ingin menjebaknya.
"Iya. Jangan terlalu benci sama aku, nanti bisa jatuh cinta," goda Arga serius tanpa melihat Qonita.
Qonita merasa wajahnya merona sangat merah dan terasa panas sampai ke telinga.
Arga tersenyum saat Qonita yang tampak malu dan menunduk melalui spion depannya.
"Aku nggak lah," tolaknya cepat dengan jantung berdebar sangat kencang.
"Nggak benci tapi langsung suka?" goda Arga lagi tambah membuat warna merah itu semakin tebal dan nyata.
"Apaan, sih."
Arga tersenyum lebar, kemudian sebelah tangannya mengacak rambut depan Qonita.
"Kamu cantik kalo malu gitu," ledek Arga terkekeh, apalagi Qonita menepis kesal tangannya agar menjauh. Tawanya makin seru saja.
*
*
*
__ADS_1
Glen yang akan keluar meninggalkan ballroom pesta, membalikkan arah langkahnya ke pilar pojokan yang cukup.sepi.
Meti sedang berdiri menyandar di sana.
"Kamu ngga mau pulang?" tanya Glen begitu tiba di dekat Meti.
"Kak Glen, apa Meti nggak cantik?" tanya Meti langsung tanpa menatap Glen. Tapi gadis patah hati ini menatap jauh ke arah depan sana. Ngga tau apa yang dia lihat. Sepertinya hanya ada kegelapan dalam hatinya.
Perasaannya sangat sesak. Hancur. Kak Alvanya sudah menikah.
Flashback
"Meti, kamu adik kak Alva. Adik kesayangan," bujuk Alva pagi itu sebelum dia akan berangkat untuk melaksanakan akad.
Meti dengan nekat pagi pagi sekali sudah menemui Alva. Tapi mami dan papi Alva ngga marah, juga ngga melarang saat Meti berkata akan menemui Alva yang sedang didandan MUA di kamarnya.
"*Aku ngga mau hanya jadi adik. Aku mau jadi istri kak Alva," rengek Meti bersikeras. Ini kesempatan terakhirnya*.
"Kak Alva ngga bisa. Kak Alva udah sayang Meti sebagai adik. Ngga bisa jadi istri," bujuk Alva lagi setelah menghela nafas panjang.
Sulit sekali menjelaskan pada Meti, batinnya mumet
"Atau gini aja, Meti mau jadi istri kedua kak Alva," kata Meti sungguh sungguh. Mengulang lagi permintaannya yang dulu.
"Itu lebih ngga mungkin lagi, Meti sayang. Kak Alva udah harus berangkat nih," katanya sambil memberi kode pada MUA yang masih berada di dekat mereka.
"Apa Kak Alva cinta sama dia?"
"Ya. Kak Alva cinta sama Tamara. Baru kali ini Kak Alva merasa cinta yang begitu dominan. Ngga ingin berbagi. Dan memiliki seutuhnya," jawab Alva jujur.
Semua gara gara Wahyu kampret itu juga yang ngga menyerah mendekati Tamara membuat Alva selalu uring uringan dan akhirnya menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Meti terdiam. Dia seperti tercekik, nafasnya tersengal.
"Kak Alva pergi dulu, ya," pamit Alva langsung melangkah pergi meninggalkan Meti yang bergeming dengan mata berkaca kaca.
Alva ngga bisa melihat gadis itu menangis untuk kebahagiaannya. Alva memilih pergi meninggalkan Meti dan kesedihannya.
End.
Glen pun merengkuh kepala Meti hingga bersandar di dadanya. Dan tangisan Meti pun langsung pecah. Tersedu sedu dengan bahu yang terguncang guncang.
Glen hanya menepuk nepuk bahu Meti lembut. Membiarkan gadis itu menangis, meluapkan segala perasaan yang mengganjal di dalam hatinya.
Mungkin setelah ini Meti ngga akan sedih lagi atau bahkan ngga akan mengalami depresi.
__ADS_1
Jadi biarlah malam ini Meti menangis sepuasnya.
Patah hati memang sangat menyakitkan. Glen yang dulu pernah mengalaminya, sangat memahami hal itu.