Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Malu


__ADS_3

Kakek Suryo menatap heran pada ketiga teman cucunya yang seperti tidak menikmati sarapannya. Glen, Reno dan Alva masih merasa pegal pegal pada tubuh mereka.


"Kalian kenapa?" tanya kakek Suryo sambil menatap Glen, Reno dan Alva penuh selidik. Sementara Tamara menyibukkan dirinya dengan makanannya seolah ngga ada kejadian apa apa.


Regan dan Arga saling pandang dan tersenyum miring.


"Kalian sakit?" tanya mama Kiano agak khawatir.


"Engga, tante," sahut Alva sambil memaksakan senyum sambil menahan denyutan di pinggangnya.


Padahal tadi malam ngga begitu sakit, mengapa sekarang jadi sakit semua, keluh Alva sambil melirik kesal pada Tamara yang tetap cuek menikmati makanannya.


"Tadi malam sepertinya ada yang ribut ribut," kata papi Kiano membuat Glen, Reno dan Alva tersedak berbarengan sehingga beberapa orang yang ada di meja makan kaget mendengar mereka terbatuk batuk.


"Kalian kenapa?" tanya nenek cemas. Beliau langsung meminta para pelayan memberikan minuman untuk ketiganya.


"Tumben kalian kompak batuknya," kekeh papi Kiano penuh arti. Ketiganya makin terbatuk batuk dengan wajah memerah.


Apa Om tau ya? batin Alva malu.


Wadidawww, maki Glen kesal.


Ketahuan? tebak Reno dalam hati panik.


Apa kata dunia kalo tau dia d**ihajar perempuan. Hilang sudah harga dirinya, lanjut Reno membatin, dia hanya bisa menunduk ngga berani menatap papi Kiano.


Regan dan Arga saling pandang.


"Apa om melihat, ya?" bisik Arga lirih.


"Memalukan kalo sampai terlihat," balas berbisik Regan menjawab. Keduanya pun melebarkan senyumnya.


"Kamu, pi, malah dibecandain," protes mami Kiano merasa kasian mendengar suara batuk batuk yang belum berhenti.


"Iya ya," sela papi Kiano dalam kekehannya.


Beliau melirik Tamara yang lagi lagi cuek menghabiskan isi piringnya.


Beliau ngga sengaja melihat perdebatan ngga imbang antara sahabat sahabat putranya dengan Tamara. Beliau baru saja mengambil laporan yang tertinggal di mobilnya. Saat itu beliau bahkan harus menutup mulut karena menahan rasa geli hatinya melihat Glen, Alva dan Reno jatuh bertumpukan di lantai sementara Tamara berkacak pinggang berdiri di depan mereka.


"Pengantin baru masih di kamar, ya?" cetus Attar mengalihkan topik pembicaraan yang membuat ketiga sahabat Kiano canggung. Walaupun ngga tau apa yang teejadi semalam, tapi melihat reaksi aneh ketiganya, Attar tau, ada kejadian langka yang telah terjadi tadi malam.


Alva, Glen dan Reno pun bernafas lega karena mata mata di ruang makan ini ngga menyorot lagi pada mereka.


"Iya, belum keluar," sahut papa Aruna menanggapi.


"Apa mereka mgga lapar?" wajah nenek mulai menunjukkan rasa cemas.


"Harusnya, sih, lapar, nek," sambar Regan terkekeh. Yang lain pun ikut terkekeh.


"Biar mama yang antar," kata mama sambil berdiri. Kebetulan beliau baru menyelesaikan makannya.

__ADS_1


"Biar saya aja, tante," kata Tamara menawarkan diri. Rasanya dia sudah bosan melihat wajah sahabat sahabat Kiano. Makanya tadi dia cepat cepat menyelesaikan makannya.


"Oke, kakak akan menemani kamu. Mama di sini saja. Biar Almira bersama Tamar aja yang mengantar sarapan buat mereka," kata Almira sambil menepuk lembut bahu suaminya.


"Iya, antarkan mereka makan sebelum mereka kelaparan," kekeh Attar yang disambut tawa yang lainnya.


Dia jadi ingat pengalaman pengantin barunya dulu. Tentu saja rasanya sangat malu untuk sarapan bersama keluarga besar yang pasti akan meledek mereka abis abisan jika mereka ikut berkumpul.


Padahal dia dan Almira sudah merasa sangat lapar di kamar waktu itu. Untung mamanya dan mama Almira berinisiatif memgantarkan sarapan ke kamar.


"Sudah disiapkan, nona," ucap kepala pelayan di rumah kakek dan nenek Kiano, Bu Risti pun sudah siap dengan kereta dorong yang berisi banyak makanan.


"Makasih Bu Risti," ucap Almira lembut membuat Bu Risti tersenyum senang. Beliau sangat kagun dengan pribadi Almira, kakak ipar tuan mudanya. Selalu santun biarpun dengan para pelayan.


"Aku pergi dulu, ya sayang," pamit Almira sambil menepuk lembut bahu Attar yang langsung menggenggam tangan istrinya sebentar sebelum pergi.


Setelah keduanya pergi kakek Suryo dengan iseng melemparkan kerupuknya yang mengenai bahu Regan, untuk menyadarkannya yang sedang fokus menatap Tamara.


PUK


"Eh, kakek," kaget Regan mendapat timpukan kerupuk dari kakek Kiano.


"Matamu itu," goda kakek Kiano membuat Regan salah tingkah.


"Gimana kalo kakek jodohkan kamu dengan Tamara, Regan. Tamara itu cantik lho," kata kakek Kiano.


Regan langsung melongo mendengarnya.


"Bisa dijadiin bodyguard," kekeh Glen pelan.


"Betul," timpal Reno berbisik. Rasa kesalnya pada Tamara masih sangat menggunung.


"Kalian ini sampai kapan mau jadi jomblo?" omel kakek Kiano yang jadi kesal karena Ragan malah menatapnya bengong.


"Kamu mau Regan? Tante kenal loh sama mama Tamara," kata Mama Aruna sambil tersenyum kecil melihat Regan yang salah tingkah.


"Em, nanti aja, tante. Sa saya ngga gitu mengenal Tamara," tolak regan gugup. Arga yang berada di sampingnya tertawa kecil sambil bersyukur.


Untung bukan dia, batin Arga lega.


Alva, Glen dan Reno menatap Regan puas.


"Rasain lo," maki mereka dalam hati.


"Kakek kira kamu suka sama Tamara. Dari tadi liatin terus," cicit kakek.Kiano kesal membuat banyak pasang mata menatap Regan ngga percaya.


"Yang betul, kek?" tanya Alva menyiram minyak.


"Kakek peka sekali," sambung Glen menghidupkan kompor.


"Firasat seorang kakek biasanya ngga pernah salah," Reno memfinalkan dengan menyalakan kompor hingga meledak.

__ADS_1


DARR


Regan pun melirik sebal pada ketiga temannya yang hanya menyeringai bahagia melihat dia yabg sekarang jadi topik utama pembicaraan.


*


*


*


"Mau sampai kapan kamu tidur, Aruna," bisik Kiano lembut di dekat telinga Aruna.


Aruna membuka matanya dengan malas. Dan mata itu semakin melebar saat melihat wajah Kiano sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan nafas hangat laki laki itu menyapu kulit wajahnya.


"Ka kamuu, ngapain di sini. Aauuww," kagetnya saat bangun tapi kemudian menjerit karena rasa perih di sekujur tubuhnya. Apa lagi tubuh bagian bawahnya.


"Kamu lupa? Kita, kan suami istri," kata Kiano menggoda sambil terus mendekatkan wajah mereka.


Dengan menahan sakit, Aruna memundurkan tubuhnya sampai mentok di sandaran ranjangnya.


Kembali kilasan kilasan peristiwa semalam bermunculan di pikiranya.


"Aaah," jeritnya malu sambil menutup wajah dengan kedua tangannya membuat Kiano tambah gemas ingin memakan Aruna lagi.


Mereka sudah melakukannya? batin Aruna lemas.


"Mandi, setelah itu sarapan," kekeh Kiano melihat reaksi Aruna yang malu.


Haah, sarapan? Di depan banyak orang? wajahnya semakin merah.


Nggak. Aku di sini saja, batinnya lagi, bahkan kepalanya sampai menggeleng.


Tapi perutnya mengkhianati dirinya.


Kruyuk


Kiano memgangkat sebelah alisnya.


"Ayo, kita mandi. Setelah itu makan buat nambah tenaga," kata Kiano dengan tatapan penuh hasratnya.


Dengan cepat dia meraih tubuh Aruna yang hanya berbalutkan selimut, menggendongnya sehingga selimutnya jatuh ke lantai.


"Kiano, kamu apaan, sih!" jerit Aruna panik dan sangat malu sambil memukul bahu dan lengan Kiano tanpa henti.


"Jangan banyak gerak Aruna," kata Kiano serak membuat Aruna menghentikan pukulannya.


Tanpa sadar matanya melirik tubuh Kiano bagian bawah dan darahnya tersirap.


"Dia minta jatah lagi," kata Kiano sambil melangkah ke kamar mandi dengan Aruna yang kaku di gendongannya.


Aruna memejamkan matanya. Antara pasrah dan takut melihat mata Kiano yang sudah berkabut menahan gairah paginya.

__ADS_1


__ADS_2