Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Pesta Regan


__ADS_3

"Selamat bro," ucap Kiano setelah upacara perkenalan CEO baru dilakukan. Kini mereka sedang menikmati hidangan mewah yang sudah dipersiapkan di gedung pusat perusahaan Paramadya Grup.


"Makasih udah datang," balas Regan dengan senyum tipisnya. Kehadiran para sahabatnya membuat perasaan ngga nyamannya sedkit berkurang.


"Iya, bro, selamat," tukas Alva yang juga hadir. Mereka berpelukan bergantian.


Glen, Arga, Reno juga hadir. Mereka berkumpul bersama untuk menguatkan hati Regan.


Para CEO mau pun direktur laki laki dan wanita yang masih muda dan sudah berumur yang merupakan rekan bisnis Paramadya Grup diundang secara resmi oleh perusahaan.


Banyak.pasang mata wanita wanita cantik tertuju pada mereka. Pemuda pemuda tampan, kaya raya dan merupakan pewaris perusahaan ternama dan kekayaannya ngga akan habis tujuh turunan pasti akan menjadi tujuan akhir mereka.


"Gue yakin, lo pasti bisa," ucap Kiano memberi semangat pada Regan.


Kiano tau wajah Regan tampak sama sekali ngga menikmati. Ngga ada lebanggaan terpancar dari wajahnya. Mama dan adiknya juga ngga hadir.


Syukurnya istri kedua papanya dilarang masuk. Hanya istri ketiga papanya, si mantan sekretaris seksi bersama balitanya yang menemani papanya membuat Regan gerah.


Papanya tampan dan kaya raya, walau sudah paruh baya tetap aja sampai sekarang digilai para perempuan. Papanya selalu memanfaatkannya. Entah sampai kapan papanya akan bertobat.


"Jadi Aira yang gantiin lo jadi CEO di perusahaan mama lo?" tanya Arga sambil meminum.es kopinya untuk menghilangkan kantuknya.


Mereka pulang jam tiga dini hari. Dan paginya papinya memaksanya untuk menghadiri pelantikan Regan sebagai CEO.


Rata rata sahabat maboknya pada minum.es kopi. Selain mengusir rasi pusing dari sisa sisa alkohol juga untuk menghilangkan perasaan kantuk.


"Iya. Dia pun naek pangkat," kekeh Regan yang mengingat reaksi ngga suka adiknya ketika tau dia menerima jabatan yang papanya serahkan padanya.


Kata kata kakeknya ditelpon memperkuat alasannya untuk ngga menolak. Alasan pertama dia malas mendengar pertengkaran mama dan papanya yang oasti akan ribut setiap hari selama dia belum menerima posisi ini. Alasan keduanya karena bagi kakeknya, hanya dialah penerus Paramadya Grup yang kakek dan neneknya akui. Dan membiarkan adik perempuannya menggantikannya untuk mewarisi perusahaan mamanya.


Karena itu Riko hanya diangkat hanya sebagai direktur, karena kakek dan neneknya ngga akan pernah menyetujui adik tirinya menjadi CEO perusahaan milik keluarganya. Sepintar apa pun adknya, pewaris sah tetap Regan.


Arga dan yang lain pun terkekeh.


Sementara itu di bagian kudapan, Aruna ditemani Tamara menikmati hidangan makanann ringannya.


"Anakmu kelihatannya laperan," sindir Tanara karena dari tadi Aruna sudah menghabiskan beberapa potong puding. Sekarang Aruna sedang menikmati es campur alpukad dengan wajah penuh binar.


Aruna hanya melebarkan senyumnya.


"Kamu harusnya makan makanan utama dulu. Ngga bakal.kenyang kalo hanya makanan begitu," nasihat Tamara. Dia sendiri baru menikmati es campur alpukad sama seperti Aruna. Belum yang lainnya.


"Aku agak mual mencium bau baunya, Tamara. Aku lebih suka di sini. Mualku hilang," keluh Aruna.


"Kamu mulai ngidam?"


"Ya, begitulah."

__ADS_1


Akhirmya Tamara membiarkan Aruna menikmati puding puding sambil tetap meneruskan dengan es alpukadnya.


"Kamu ngga kepingin sate atau sup, sayang," sapa Kiano yang sudah berada di samping istrinya.


"Aku lagi ngga pengen," tolaknya setelah menelan puding kaca yang begitu cantik.dan enak.


Merasa akan jadi nyamuk, Tamara beringsut pergi.


"Aku ke sana dulu. Pengen nyobain sate," pamitnya sambil pergi.


"Oke," balas Aruna.


"Apa kenyang hanya makan itu?" tanya Kiano dengam senyum simpatik di bibirnya.


"Aku sudah menghabiskan tiga puding."


Senyum lebar Aruna menghiasi bibirnya membuat Kiano gemas ingin mengecupnya.


"Kamu ngga suka makanan utamanya?"


"Baunya bikin mual," bisik Aruna.


"Mual?" kening Kiano berkerut.


"Baru kali ini rasanya begitu."


"Kamu sekarang pengennya apa?" tanya Kiano lembut.


"Aku hanya pingin yang di sini saja," sahut Aruna yang lagi lagi dengan senyum lebarnya.Wajahnya pun merona.


Kiano semakin gemas melihatnya.


"Ya sudah, aku akan menemani kamu," kata Kiano kemudian meneguk es kopinya.


"Kamu ngga kumpul dengan teman teman kamu?" tanya Aruna heran.


"Mereka sudah menyebar, mencari mangsa," kekeh Kiano membuat Aruna kesal. Apalagi dia sempat melihat beberapa wanita cantik dan seksi mencuri curi pandamg ke arah suaminya.


"Kenapa kamu kelihatannya kesal?" heran Kiano yang menangkap aura istrinya yang berubah keruh.


"Ngga apa apa," sahutnya sebal, dan semakin bertambah saat melihat seorang gadis cantik berjalan menghampiri mereka. Tepatnya ke arah suaminya.


"Hai, Kiamo," sapa Natasha sambil nendekatkan pipinya pada Kiano .


Secara reflek Kiano memundurkan tubuhnya. Dan saat melirik istrinya, hati Kiano ciut karena wajah Aruna berubah horor.


Kiano pun meramgkulkan tangannya ke pinggang Aruna kenudian tersenyum tipis, tanpa membalas sapaan wanita cantik di depannya yang terlihat menahan malu.

__ADS_1


"Kamu lupa sama aku?" tanya wanita itu berusaha tenang. Walau ada nada ngga terima di dalamnya mendapat perlakuan Kiano yang ngga seperti biasa.


"Ini istriku, dokter Aruna," sahut Kiano memperkenalkan Aruna yang yang hanya menatap wanita itu dengan malas.


"Oohh," sahut wanita itu berusaha ramah.


"Aku akan membantu papi di perusahaan,. Makanya aku kembali," jelasnya walau ngga ditanya.


Kiano hanya menganggukkan kepalanya tanpa mau merespon lebih.


Kiano lebih takut akan kemarahan wanita hamil di sampingnya.. Dulu aja waktu belum hamil, saat marah Aruna akan butuh waktu lama untuk memaafkannya. Apalagi sekarang, dengan kondisi hamil pastilah Aruna akan lebih gampang emosi dan merajuk dalam waktu yang lebih lama lagi.


"Natasha," sapa Reno. Membuat ketiganya menoleh pada Reno.


Reno yang sedang mengobrol dengan Alva dan Arga langsung tanggap situasi saat melihat kehadiran Natasha di antara Kiano dan Aruna.


"Itu Nattaha, kan," tukas Alva sambil menunjuk dengan bahunya.


"Bisa perang dunia nih," kekeh Reno.


"Orang hamil itu sensitif," lanjut Arga juga terkekeh.


"Gue ke sana dulu, ya," pamit Reno setelah menaruh gelas es kopinya di nampan pelayan yang berdiri di dekat mereka.


Alva dan Arga ngga menjawab, tapi masih terkekeh mengiringi kepergian Reno dengan misi penyelamatan hubungan rumah tangga.


"Reno," Natasha balas menyapa walau enggan.


"Kirain masih di Inggris," ucap Reno tenang sambil menahan senyum melihat Kiano yang terlihat berusaha membujuk Aruna. Bahkan laki laki dingin itu ngga segan segan mencium istrinya membuat Natasha yang akan menjawab pertanyaannya malah menatap Kiano ngga percaya.


"Temani aku makan empal yuk," kata Reno sambil menarik tangan Natasha untuk pergi. Natasha terpaksa mengikuti langkah kaki Reno.


"Itu istrinya?" tanya Natasha ngga bisa menyembunyikan rasa kesalnya


"Iya."


"Kok, Kiano bisa sama dokter. Apa dulu dia sempat sakit?" selidik Natasha. Adalah aneh istri anak konglomerat hanyalah seorang dokter.


"Iya. Dulu Kiano sempat sakit parah. Aruna yang merawatnya. Sampai dijadiin istri," jawab Reno asal.


"Ooh."


Dalam hati Natasha mendecih sinis.


"Kirain kamu bertahan di Inggris," ujar Reno mengganti topik.


"Papi memintaku meneruskan perusahaan. Aku senang karena akan bertemu Kiano. Ngga disangka Kiano sudah menikah."

__ADS_1


Ada rasa sesal dalam.hatinya. Harusnya dulu waktu Kiano memutuskan kembali, dia juga ikut. Dia terlalu percaya diri kalo Kiano ngga tergoda wanita lain. Apalagi kini malah sudah menikah dengan hanya seorang dokter.


__ADS_2