
Papa Regan melonggarkan dasinya untuk melegakan pernafasannya.
Keadaan Regan tepat seperti yang dokter perusahaannya sampaikan. Memang beliau pun ngga sembarangan merekrut dokter dan tenaga medis lainnya untuk para pekerjanya.
Tadi pegawainya sudah menangkap orang yang disuruh istri ketiganya untuk membuntuti Regan.
Kemarahannya begitu membakar dadanya. Kedua istrinya memang bukan perempuan baik baik. Mereka berdua pasti punya maksud ngga baik buat putranya. Salah satunya sudah berhasil melukai Regan. Yang satu lagi sedang merencanakan, dan sudah ketahuan sebelum berhasil.
Ngga nyampe setengah jam mantan istrinya bersama.putrinya datang ke rumah sakit. Papa Regan belum berani menghubungi orang tuanya. Beliau menunggu besok harinya setelah keadaan Regan mulai lebih baik.
"Dimana Regan?" tanya mantan istrinya.ketus. Dia marah karena perempuan terdekat mantan suaminya yang mencelakakan putranya. Nafasnya dan putrinya masih tersengal sengal karena mereka berdua berjalan agak berlarian
"Di dalam. Masuklah. Regan sedang tertidur," ucapnya merasa bersalah.
Tanpa menjawab, mamanya masuk dan Aira menatap papanya sebentar sebelum mengikuti mamanya masuk menemui kakak laki lakinya.
Air mata mamanya tumpah begitu saja melihat Regan yang sedang tertidur dengan dada dililit perban dan pundak yang diplester. Tqpi wajah tidur terlihat damai, detak jantungnya terlihat teratur.
"Kak Regan ngga apa apa, Ma," ucap Aira sambil menghembuskan nafas lega.
Sejak papanya mengabari tentang keadaan Regan, banyak pikiran buruk berseliweran di sana. Dia takut terjadi hal yang sangat buruk. Takut sampai kakaknya meninggal.
Sepanjang perjalanan dia selalu membatin, jangan meninggal. Kakak, kan, mau nikah.
Ngga disangkanya senekat dan sejahat itu mamanya Riko. Semoga dia dipenjara seumur hidup.
Tapi melihat keadaan kakaknya, Aira sangat bersyukur. Kakaknya masih dilindungi Yang Maha Kuasa.
"Ma, ngga hubungi Dinda?" tanya Aira. Dia pun akan menghubungi sahabat sahabat gila kakaknya.
Mereka sepertinya belum ada yang tau kejadian yang menimpa Regan. Papanya berhasil menutup kasus ini dari pihak luar.
"Oh, iya," ucap mamanya sambil menghapus air matanya. Mungkin kalo ada Dinda, Regan akan lebih cepat membaik.
Apa mereka langsung dinikahkan saja agar Dinda ngga sungkan menjaga Regan? batin mamanya mulai berpikir agak jauh.
Ngga lama kemudian, mama pun keluar dan menemui suaminya yang nampak kusut dan stres.
Pasti dia lagi bingung mau kasih tau papa dan mama, cibir mama Regan sinis.
"Ceritakan, kenapa wanita gila itu bisa menyerang Regan," katanya sambil duduk di samping mantan suaminya.
Papa Regan menghela nafas panjang.
"Kamu pasti tau, kan, penyebabnya," ucapnya sambil menatap jauh ke depan. Pikirannya menerawang jauh.
"Karena saham?" suara Mama Regan terdengar lelah.
Sudah berkali kali dirinya katakan pada mantan suami dan orang tua suaminya. Regan dan Aira sudah ngga butuh apa apa lagi di Paramadya grup. Perusahaan keluarganya sudah lebih cukup menghidupi mereka dengan sangat layak. Tapi mantan mertuanya keras kepala, terutama kakek Regan tetap bersikeras hanya Regan pewaris satu satunya di Paramadya grup. Beliau ngga pernah menganggap anak selain yang lahir dari rahim dirinya.
Mama Regan terharu mendengarmya. Hatinya tersentuh, betapa orang tua Regan sangat menyayanginya dan putranya.
Kata beliau, biarkan Aira yang menjadi pewaris dari keluarganya. Mama dan papa Regan adalah anak tunggal.
Tapi mama Regan tau, kalo ini terjadi firasatnya mengatakan kalo kedua anaknya akan menjadi incaran kejahatan kedua istri Papanya Regan. Dan itu sudah terbukti.
Mantannya yang selalu sombong dengan membanggakan banyak pengawal yang bisa menjaga Regan, kenyataannya ngga bisa berbuat banyak hingga Regan sampai terluka cukup parah.
Terdengar suara helaan nafas berkali kali dari papa Regan.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Tapi setelah ini aku berjanji akan menyingkirkan orang orang yang membahayakan hidup Regan," ucapnya kemudian berdiri dan melangkah pergi. Ada yang harus beliau lakukan.
Mama Regan hanya bisa terdiam memandangi punggung mantan suaminya yang semakin menjauh.
*
*
*
Hampir sejam Regan tertidur. Dan ketika terjaga dia terkejut melihat mama, aira, umi salamah dan Dinda yang sedang menatapnya cemas.
"Kamu sudah sadar, nak?" tanya Mama kemudian meraih dan menggenggam tangan kanannya. Sepasang mata mama Regan pun berkaca kaca.
"Mama jangan nangis," ucapnya lembut sambil memghapus air mata yang jatuh di pipi mamanya.
"Bagaimana mama ngga nangis lihat kamu yang hampir ngga jadi nikah," kesal mama membuat Regan tersenyum lebar.
Aira, Umi Salamah dan Dinda juga tersenyum mendengarnya. Bahkan wajah Dinda merona.
"Ehem," batuk Regan pelan sambil mengernyitkan keningnya. Regan pun menangkap wajah khawatir tanpa suara milik Dinda.
"Sakit, ya, kak?" tanya Aira kasian.
"Sedikit."
"Kamu harus istirahat total. Maaf umi, mungkin lamaran kami sedikit tertunda," ucap mama Regan sambil menatap Umi Salamah merasa bersalah.
"Kami, tepatnya Dinda akan menunggu. Iya, kan, Dinda?" balas Umi Salamah sambil menatap putrinya yang salah tingkah itu dengan senyum di bibirnya.
"Tunggu kakak aku sembuh dulu, ya. Din. Padahal dia udah ngga sabar mau nikah sama kamu," canda Aira tambah membuat Dinda semakin grogi. Apalagi sepasang mata milik Regan menatapnya lekat dan dalam membuat detak jantungnya semakin ngga seirama.
Dinda yang awalnya panik mendengar kata kata mamanya kalo Regan berada di rumah sakit sempat menangis karena mengkhawatirkan komdisi Regan.
Laki laki itu tampak lemah ngga berdaya. Matanya pun terpejam dan wajahnya sedikit pucat.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Ngga ada yang menjelaskan secara detil padanya. Melihat keadaan Regan dia seperti ditusuk seseorang.
Karena apa?
Itulah yang Dinda ngga ngerti. Pasti tusukan itu sangat dalam hingga membuatnya lemah begini. Tapi untunglah dia bisa selamat.
"Dinda sampai nangis loh nak Regan, khawatir banget," canda Umi Salamah lagi membuat putrinya tambah malu.
"Umii," rengek Dinda pelan dan manja sambil menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh uminya yang kini tertawa berderai derai. Begitu juga mamanya dan Aira.
Mata Regan agak beriak karena terkejut juga mendengarnya. Tapi entah kenapa hatinya menjadi senang mendengarnya. Kalo lagi ngga sakit begini, dia ingin sekali memggoda Dinda. Karena saat malu malu begini gadis ini tambah menggemaskan.
"Mama, tante, kenapa ditunda, sih. Malah nurut Aira langsung dinikahkan aja. Biar Dinda bisa ngerawat Kak Regan dan kak Regan pasti akan cepat sembuh," pancing Aira sambil mengedipkan sebelah matanya pada Regan
Regan pun makin melebarkan senyum di bibirnya.
Yes, batinnya senang. Adiknya memang selalu cepat membaca keadaan yang bisa menguntungkannya.
"Mama malah senang kalo Dinda bisa cepat cepat jadi mantu mama," dukung mama Regan penuh semangat. Kesedihannya sudah sirna perlahan.
"Saya ngga keberatan. Dari pada nanti jadi fitnah hubungan mereka berdua. Lebih baik segera di sahkan dulu secara agama," ucap Umi Salamah bijak.
__ADS_1
"Betul, tante. Sebaiknya mereka cepat dinikahkan," senyum Aira berubah jadi tawa bahagia.
Regan merasa degup jantungnya berdebar keras mengenai lukanya membuatnya meringis lagi.
Dinda yang sejak tadi salah tingkah karena sangat malu, menampakkan lagi wajah cemasnya. Sementara uminya, mama Regan dan Aira ngga memperhatikan karena sibuk tertawa.
Regan menggelengkan kepalanya sambil mengedipkan sebelah matanya dengan nakal.
Jantung Dinda tambah berpacu jadinya. Menurutnya laki laki ini sudah sehat sehat saja. Lukanya ngga menyakitkan. Dia hanya pura pura lemah.
"Tante, kita dukung mereka secepatnya dinikahkan," seru Glen, Arga dan Reno yang muncul berbarengan. Ketiganya tergelak sambil melambaikan tangan pada Regan. Kiano yang berada di belakangnya pun tertawa kecil.
Ruangan Regan kini dipenuhi gelak tawa bahagia.
Keempatnya langsung ke rumah sakit mendengar kabar Regan ditusuk mama tirinya dari Aira. Bahkan Kiano yqng sedang memimpin rapat di perusahaam papanya langsung mendelegasikan kepemimpinan rapat pada Aris yang dengan terpaksa meneruskan rapat tanpa kehadiran papa Kiano. Tentu saja dalam hatinya Aris terus mengomel.
Reno, Glen dan Arga dengan santainya meminta papa mereka mengambil alih tugas mereka.
Cerita Aira membuat mereka kalut.Tapi begitu sampai di depan pintu, mereka malah mendengar canda tawa untuk mempercepat pernikahan Regan dengan si cantik berkerudung. Tentu saja mereka mendukung sebagai sahabat sejati.
*
*
*
"Mas, kamu sudah pulang?" tanya Meli kaget melihat kedatangan suaminya yang rahang wajahnya terlihat mengeras.
"Tangkap wanita ini," kata Papa Regan sambil menoleh ke belakang membuat Meli terkejut.
Polisi? batinnya panik.
Dua orang polisi wanita pun datang dan menghampiri Meli yang berjalan mundur, menjauh.
Tapi satu tangan besar dan kuat menahannya hingga dua polisi wanita itu bisa memborgol kedua tangannya.
"Mas, ada apa ini?" serunya ngga terima. Perasaannya semakin takut dan kalut.
"Kamu dan Wita berkonspirasi untuk mencelakakan Regan. Wita sudah mengaku," kata Papa Regan dingin.
Tubuh Meli menegang. Terkejut yang amat sangat.
"Bohong! Mba Wita bohong!" jeritnya membela diri.
"Orangmu yang mengikuti Regan sudah mengaku," tandas Papa Regan dengan tatapan menusuk.
Matilah dia. Ternyata benar. Suaminya mengawasi mereks semua.
"Hari ini juga kita bercerai. Nanti aku akan kirimkan surat resmi dari pengadilan!" tegasnya membuat Meli menangis, memohon maaf.
"Ampun mas. Aku janji, akan berubah. Ampun mas, jangan ceraikan aku. Biarkan aku di sini dengan anak kita," jeritnya histeris. Air matamya sudah tumpah dengan deras.
Papa Regan menatapnya sinis. Sudah ngga ada pintu maaf di hatinya untuk mama buah hatinya.
"Bawa dia," titahnya dingin.
"Siap, pak."
"Ayo nyonya," seret salah satu polisi itu ikut membantu temannya membawa Meli yang terus meronta ronta minta dilepaskan.
__ADS_1
Papa.Regan menghembuskan nafas dengan kasar.
Hari ini dia langsung menceraikan kedua istrinya.