
Panas dan gerah. Itu kembali dirasakan oleh Reno saat melihat Rain yang berdandan sangat cantik sedang berdansa dengan Lilo.
"Kita dansa, yuk," ajak Nadia yang kini menghampiri Reno. Dari tadi dia mencari tunangannya yang menjauh bersama Glen.
"Gue lagi ngga minat," tolak Reno kini mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Padahal Nadia malam ini juga sangat cantik. Ngga kalah jauh dengan Rain
"Kenapa?" tanya Nadia ngga bisa menyembunyikan perasaan kecewanya.
"Sama gue aja," tawar Glen karena Reno hanya diam, seolah menganggap Nadia ngga ada.
Dalam hati Glen ingin membanting Reno karena sikapnya yang sangat sangat menyebalkan pada Nadia.
"Gue pinjam tunangan lo," kata Glen sambil menarik tangan Nadia untuk mengikutinya.
Nadia sempat melihat ke arah Reno sebelum pergi dengan perasaan tambah kecewa karena Reno lagi lagi ngga peduli dengan dirinya.
"Jangan pedulikan dia," hibur Glen ketika melihat Reno melangkah keluar dari ballroom pesta.
Nadia hanya mengangguk menahan perasaan kecewanya.
Apa sih yang kamu pikirkan, Reno? batin Nadia sedih.
Regan yang melihat kepergian Reno pun menyusulnya.
Saat keduanya berada di taman, Regan pun mengambil rokok di tangan Reno, kemudian ikut menyulutnya.
Regan kali ini hanya diam. Dia tau Reno sedang cemburu dan ingin menjauh dari Rain. Rain yang sedang berdansa dengan Lilo.
Ini adalah rokok kedua mereka dan mereka berdua masih saling diam.
Reno bersyukur yang berada di sampingnya adalah Regan. Bukan Glen yang bawel. Dia sejak tadi menahan emosi akan sindiran sindiran Glen.
Reno butuh ditemani, hanya ditemani. Dia ngga mau sendiri. Tapi dia belum siap untuk mendengar kata kata yang menyalahkan dirinya.
Dan Regan sepertinya tau yang dia butuhkan. Merokok bersama membuat hati Reno lebih nyaman.
*
*
*
"Kamu capek?" tanya Alva ngga tega juga melihat Tamara yang masih berdiri di sampingnya saat ada jeda para tamu yang bersalaman dengan mereka.
"Nggak," bohong Tamaara. Sebenarnya dia ngga akan merasa lelah jika saja dia tidak.menggunakan heels.
"Mi, bolehkah kami beristirahat sebentar?" tanya Alva pada mami yang berada di sampingnya.
"Kenapa? Masa kamu udah capek?" ledek mami membuat papinya ikut tersenyum.
"Bukan aku, mi. Oh iya, mi, punya sendal nggak?" sangkal Alva.
"Sendal? Buat apa?" Maminya menggeleng gelengkan kepala.
Ada ada saja permintaan aneh anaknya ini, batin beliau.
__ADS_1
"Buat Tamara, mi. Kasian tuh, urat betisnya udh nongol," tukas Alva sekenanya.
"Mana ada urat betis gue nongol. Lagian lo mana bisa lihat," sergah Tamara berbisik pelan di dekat telingamya. Nadanya terdengar kesal.
Alva tersenyum.
'Gue tau dari wajah menderita lo," balasnya juga berbisik membuat Tamara makin kesal.
Mami Alva tersenyum mendengar bisik bisik keduanya.
"Sebentar," ucap mami Alva mengerti, kemudian mengkode salah satu anggota EO agar mendekat.
"Ya, tante?" tanya wanita EO itu mendekat.
"Ada flats shoes?" tanya mami sambil melirik kaki menantunya.
"Ada tante. Saya ambilkan," ucap wanita itu mengerti.
Ngga lama kemudian wanita itu sudah membawa flats shoes yang warnanya senada dengan gaun yang dikenakan Tamara.
"Biar gue aja," kata Alva sambil mengambil flats shoes dari tangan wanita itu.
"Ayo duduk dulu," tukas Alva sambil akan membantu Tamara untuk duduk dengan gaunnya yang sangat ribet.
"Gue bisa sendiri," tolak Tamara ngga mau dibantu, padahal dia cukup kerepotan dengan gaunnya. Bahkan wanita EO itu juga masih berada di dekatnya. Mungkin berjaga jaga, siapa tau nantinya akan dibutuhkan bantuannya.
"Ada apa?" tanya mama Tamara heran
"Ini ma, mau gantiin sepatu heels Tamara dengan yang rata aja," kata Alva sambil menunjukkan sepatu flats ditangannya.
Dalam hati dia bahagia melihat perhatian Alva pada putri bungsunya.
"Ayo, kamu duduk, sayang," ucap mama Tamara ikut membantu wanita EO itu mengatur gaun Tamara agar ngga kusut.
Alva pun berjongkok ketika Tamara sudah duduk.
"Lo ... Lo.mau ngapain?" tanya Tamara keget melihat Alva yang bersimpuh di depan kakinya.
"Pakein lo sepatu lah," ucap Alva kemudian melepaskan heels Tamara yang kini wajahnya sudah bersemu merah.
"Celana lo jadi kotor," ucap Tamara pelan.
"Di tepuk tepuk juga udah bersih lagi."
Kedua orang tua mereka saling pandang dan melempar senyum mendengarkan obrolan keduanya.
Ngga nyangka Alva sampai segitumya mau menggantikan sepatu Tamara.
Lagi lagi Tamara merasakan kehangatan mengalir di tubuhnya ketika kulit mereka bersentuhan.
Alva pun sempat termangu sebelum mami menepuk lembut pundaknya, menyadarkannya.
"Sudah," ucap Alva sambil berdiri. Dia pun menepuk nepuk celana bagian lututnya.
"Nih, lap tangan kamu pake tisu basah," kata maminya sambil mengeluarkan dua lembar tisu basahnya Wanita EO tadi yang sudah memberikannya.
Tanpa kata Alva melap tangannya yang digunakan untuk menepuk nepuk lutut celananya. Kemudian wanita EO pun mengambil tisue kotor itu dan kini memyemprotkan kedua tangan Alva dengan handsanitizer.
__ADS_1
Tamara pun sudah dibantu berdiri oleh mamanya dan wanita EO tadi.
"Makasih."
"Ya, sama sama."
Tamara membalas senyum tipis Alva. Dia akui tadi merasa tersanjung dengan perlakuan Alva.
Laki laki cuek, menyebalkan, player bisa juga berlaku manis, batin Tamara dengan perasaan senang campur malu.
Suara MC mengagetkan keduanya yang saling pandang. Begitu juga mami dan papi Alva.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Alva sambil memijat keningnya. Langsung stres.
Tamara pun meringis melihatnya.
"Kak Alva, lagu ini harusnya untuk dia," seru Meti lantang, membuat semua perhatian tertuju padanya.
Seorang gadis muda dan sangat cantik yang berdiri dengan sikap penuh percaya dri sambil menggoyangkan tubuhnya perlahan sesuai irama.
Teman teman Alva pun tergelak, begitu juga para tamu. Tapi ada juga yang hanya tersenyum bahkan menatap Meti kasian saat mendengar lirik lagu Harusnya Aku dari Armada.
Bahkan mereka pun ikut bersenandung bersama Meti.
Dan koor pun pecah saat lagu memasuki nada puncak.
...Harusnya aku yang di sana...
...Dampingimu dan bukan dia...
...Harusnya aku yang kau cinta...
...Dan bukan dia**aa...
...Harusnya kau tau bahwa...
...Cintaku lebih darinya...
...Harusnya...
...Yang kau pilih bukan...
...diaaaaa........
"Mi, kenapa Meti dibiarkan?" seru Alva gusar campur malu.
Apalagi Glen pun ikut bersuit suit memberi semangat pada Meti.
Mami dan papi Alva hanya bisa tertawa sambil menatap sahabatnya, orang tua Meti yang juga tertawa tapi juga malu melihat tingkah absurd putrinya.
Bahkan Reno yang stres juga terhibur dengan tingkah Meti.
Dia pun sudah melangkah memasuki ballroom bersama Regan saat suara Meti yang kencang meneriakkan nama Alva.
"Ngga disangka, Meti dalam banget cintanya sama Alva," kekeh Regan setelah gadis iru selesai bernyanyi dan langsung lari menyembunyikan dirinya di balik tubuh maminya yang masih tergelak gelak.
Reno dan Regan pun tadi ikut bernyanyi bersama teman temannya dan juga para tamu undangan. Insiden kecil ini pasti akan selalu dikenang.
__ADS_1