Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Terlalu Berprasangka


__ADS_3

Aruna terdiam ketika sudah berada di depan pintu kamar ruang kerja Kiano. Dia meraih hpnya yang bergetar. Ada pesan dari mamanya.


Besok kalo Kiano sudah sembuh, kalian fitting baju ya sayang.


Aruna menghela nafas panjang. Rasanya ingin sekali kabur dalam situasi seperti ini.


Tanpa mengetuk pintu, Aruna langsung membukanya. Dia bergeming melihat interaksi sepasang insan di depanya yang kini menoleh padanya.


"Dokter, kenapa ngga mengetuk pintu," kesal Sasya sambil memgusap air matanya. Kiano yang berdiri dua langkah di depannya menatap Aruna datar setelah tadi raut wajahnya terlihat mengeras.


Aruna ngga menjawab. Dia melangkah tenang menghampiri Kiano, tentunya di bawah tatapan tajam laki laki itu.


"Kalo sakit harusnya tiduran," ucap.Aruna tanpa ekspresi.


Tanpa kata pun Kiano langsung membaringkan dirinya di sofa dengan mata terus menyorot Aruna.


"Dokter, anda ngga sopan sekali," sentak Sasya tersinggung karena ngga dianggap kehadirannya.


"Tugas saya hanya memeriksa pasien dan mengobatinya. Setelah selesai, saya pergi. Kalian bisa lanjutkan lagi," tutur Aruna panjang lebar, masih demgan raut datarnya.


"Huh, sehebat apa kamu sampai tante Bellla harus memanggil kamu ke sini," cela Sasya tambah kesal.


Aruna ngga menjawab. Dari dulu dia ngga suka memperpanjang keributan.Dia pun mengecek keadaan Kiano, tetap dengan tenang walaupun Kiano terus mengawasinya.


"Kalo kamu mau umur panjang, lebih baik kamu istirahat sepanjang hari ini," perintah Aruna judes membuat Kiano menarik sedikit sudut bibirnya. Sesaat Aruna terpana melihatnya. Jantungnya pun berdebar keras.


Sakit juga masih tampan, rutuk Aruna membatin.


"Anda itu dokter atau penjual sayur di pasar. Ngga ada tata kramanya," sarkas Sasya tambah gondok, apalagi melihat Kiano sempat tersenyum tipis pada sang dokter.


"Anda salah nona. Penjual sayur di pasar lebih punya tata krama dibanding anda," kata Aruna balas mengejek membuat hati Sasya tambah panas. Belum lagi tadi masalahnya dengan Kiano yang belum usai.


"Kamuh..." geramnya tertahan karena melihat mama Kiano maemasuki ruangan kantor putranya.


"Tante, dokter ini sangat ngga sopan," teriak Sasya mengadu. Dia pun langsung menghampiri mama Kiano dan bergayut di lengannya.


Kiano cepat memberi kode dengan gelengan kepala ketika melihat mamanya akan menjelaskan siapa dokter di depan Sasya.

__ADS_1


Mama membuang nafas kesal, mengerti.


Kenapa harus disembunyikan, omelnya dalam hati.


"Iya sayang. Kita ke depan dulu ya," bujuk tante Bella-mama Kiano sambil mengedipkam sebelah matanya pada Aruna.


"Tapi tante," tolak Sasya sambil menghentikan langkahnya, memandang judes pada Aruna yang masih menatapnya datar.


"Ada yang mau tante bicarakan. Sangat penting," kata mama Kiano dengan nada penuh tekanan membuat Sasya ngga bisa menolak.


"Jangab genit kalo jadk dokter," sinis Sasya sambil melemparkan lirikan tajamnya pada Arina. Sasya pun menuruti mama Bella yang membawanya pergi. Aruna hanya bisa mengurut dada.


Setelah pintu tertutup, suasana hening menyelimuti mereka berdua. Aruna merasa canggung karena harus berdekatan dengan Kiano. Mereka hanya berdua saja di ruangan kerja Kiano. Aruna merasa lebih baik diam saja sementara Kiano terus mengintimidasinya dengan sorotan matanya yang tajam.


"Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Kiano akhirnya setelah sekian lamanya mereka terdiam.


"Ngga ada," dusta Aruna. Bibirnya terlalu berat untuk mengatakan keinginan mamanya tentang fitting baju pengantin mereka.


Aruna berdiri membelakangi Kiano sambil menatap ke luar jendela kaca. Pemandangan di luar sangat indah, tapi Aruna ngga bisa menikmatinya. Hatinya merasa sedih dan ingin menangis mengingat nasibnya yang harus menikah dengan orang yang akan menduakan bahkan lebih dirinya.


"Kamu kenapa?"


Aruna tersentak menyadari tangan Kiano melingkari pinggangnya. Dia ngga menyadari kedatangan Kiano karena sibuk dengan pikirannya sendiri.


Kiano meletakkan dagunya di bahu Aruna sambil memejamkan mata. Menahan kepalanya yang masih terasa pusing. Pipi mereka saling bersentuhan membuat dadanya menghangat.


Aruna ngga menjawab, hanya diam. Jujur dia menyukai kedekatan mereka saat ini. Tapi perasaan sedih terlalu dalam dia rasakan.


"Kamu menangis?" kaget Kiano merasa air mata Aruna membasahi pipinya.


Dia memaksa membalikkan tubuh Aruna yang berkeras bertahan.


"Kenapa?" tanya Kiano sambil.menghapua air mata Aruna yang masih mengalir.


Aruna ngga menolak sampai akhirnya Kiano membawa Aruna dalam pelukannya.


"Apa terlalu menyakitkan menikah denganku?" tanya Kiano salah paham.

__ADS_1


Aruna ngga menjawab, dia berusaha menahan air matanya agar ngga turun lagi.


Kiano mendekap erat tubuh Aruna.


"Aku ngga akan melepaskanmu. Apapun alasannya Aruna," kata Kiano penuh tekanan.


"Untuk apa? Kamu, kan, ngga suka sama aku," lirih Aruna.


"Bukannya kamu yang selalu menolakku?" sindir Kiano sinis.


"Dari awal aku sudah nerima kamu. Tapi kamu bohongi aku, kan," sergah Aruna sambil menarik diri dari pelukan Kiano.


Kiano terkesiap melihat Aruna melihatnya dengan matanya yang basah. Kiano dapat melihat ada luka yang menganga di sana.


"Aku sudah minta maaf, kan. Dulu aku salah. Tapi kamu ngga pernah mau maafkan aku," tegas Kiano dengan sorot matanya yang tajam.


Aruna memalingkan wajahnya ke arah lain


"Gadis tadi sangat cantik. Aku sudah ikhlas lepasin kamu untuk gadis itu atau gadis kamu lainnya," lirih Aruna berkata tapi masih bisa didengar Kiano.


"Tapi aku ngga ikhlas kamu bersama dengan dokter brengsek itu," jawab Kiano pedas.


"Kalian sama brengseknya," ketus Aruna sambil melangkah pergi. Mengingat dokter Farel yang telah menghamili seorang gadis.


Sambil menahan pusing di kepalanya Kiano mengejar Aruna dan menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Jangan pergi," kata Kiano sambil memejamkan matanya. Kepalanya terasa semakin pusing.


Tadi Sasya sudah membuatnya pusing dengan ancaman bunuh dirinya dan akan menyingkirkan perempuam pilihannya kalo Kiano meminggalkannya. Sekarang Aruna malah mau meninggalkannya lagi.


"Kiano, satu perempuan pun ngga akan ku ijinkan berdekatan denganmu," ancam Sasya sambil menangis.


"Awas kalo kamu berani nyakitin dia," tegas Kiano murka.


"Aku ngga peduli," isak Sasya menantang.


Saat Kiano memijat kepalanya yang semakin pusing sambil menatap Sasya dengan marah, Aruna membuka pintu ruangannya."

__ADS_1


__ADS_2