Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Perasaan Yang Sebenarnya


__ADS_3

"Athar, Om tau kamu ikut membantu pembebasan Claudya dulu. Tapi kamu tau, kan, akhirnya seperti apa. Om harap kamu ngga melakukannya lagi," kata Dika Arhta Mahendra bsrbisik. Penih tekanan.


Begitu melihat kedatangan Athar dan Arik yang merupakan anak dari rekan bisnisnya, Dika Artha Mahendra langsung memghampiri. Beliau juga baru saja menerima kabar kematian Herman Permana dari grup bisnisnya dan langsung ke rumah duka. Biar bagaimana pun, keduanya pernah memiliki hubungan yang cukup baik.


Saat ini mereka sudah berada di rumah duka. Jenazah Herman Permana baru saja sampai ke rumahnya dari rumah sakit.


"Iya, Om. Aku minta maaf," jawab Athar pelan. Perasaan bersalah mendera hatinya.


Papi Kiano-Dika Artha Mahendra menghela nafas panjang. Rautnya memancarkan kekecewaan.


"Om mengerti perasaan kamu. Apalagi kamu dan Melvin sangat dekat. Tapi gimana pun, Om ucapkan terima kasih karena telah membantu menyelamatkan Aruna," katanya panjang lebar.


Athar hanya menganggukkan kepala dalam diamnya.


Mami Melvin dan mamanya juga bersahabat sejak lama, bahkan mama Aruna juga mengenal mami Melvin walau ngga terlalu akrab. Mereka teman di arisan sosialita.


Athar sendiri bukan setahun dua tahun dekat dengan Melvin dan keluarganya. Sejak keduanya lulus kuliah dan meneruskan perusahaan keluarga, keduanya sangat dekat karena kesamaan misi. Kerja sama bisnis pun sering dilakukan. Bahkan ngga jarang Athar dan Melvin saling menginap di rumah masing masing.


Hanya saja Athar ngga terlalu mengenal Claudya. Adik Melvin sejak lulus SMA, mukiah dan berkarir di Inggris. Hanya sesekali mereka bertenu, itu pun juga selintas saja. Jadi Athar ngga terlalu paham karakter Claudya yang ternyata cenderung psycho.


Karena kesedihan wanita paruh baya itu akan nasib putrinya yang harus mendekam di penjara, sampai harus masuk ke rumah sakit akibat shock akan perbuatan putrinya, sangat menganggu pikirqn Athar.


Awalnya Athar berpikir, kalo adik Melvin akan sadar dan menerima tawaran kakaknya untuk hengkang ke luar negeri melanjutkan karirnya. Tapi ternyata gadis itu menyimpan dendam yang sangat besar pada adik iparnya, Aruna.


Untunglah Aruna ngga apa apa. Dia ngga terlalu terlambat menyelamatkan adik istrinya itu.


Tapi dengan kejadian ini, Athar juga sudah memantapkan hati pada Melvin jika ngga bisa membantunya lagi. Walaupun berat, apalagi saat ini Melvin kehilangan dadynya. Athar akan lebih mengutamakan keselamatan Aruna yang sedang mengandung.


Ngga sulit bagi Om Dika mengetahui keterlibatannya. Mungkin nantinya Athar akan mengakui kesalahannya pada istrinya. Smoga luka luka yang didapatnya bisa mengurangkan sedikit kemarahan Almira padanya.


"Arik, Terima kasih sudah ikut mrmbantu menyelamatkan anak dan mantu, Om, ya," kata Dika sambil tersenyum pada Arik yang sedang menatap Athar kasian.


"Sama sama, Om," balas Arik tersadar kemudian balas tersenyum.


"Om mau nemuin Melvin dulu," kata Dika Attha Mahendra kemudian berlalu setelah mendapat anggukan dari keduanya.


"Sabar bro. Tapi yang dikatakan Om Dika ada benarnya juga. Lo harus bisa memilih yang prioritas," kata Arik memberi nasihat

__ADS_1


"Yah, gue pikir adiknya Melvin ngga se naif itu," aku Athar jujur.


"Dalam cinta, cara apa pun sah."


Segaris senyum miring terukir di bibirnya membuat Alva juga ikut tersenyum miring.


*


*


*


"Kiano, aku bingung.dengan perasaan ku terhadap Claudya," ucap Aruna pelan. Dia kasian sekaligus kesal dengan kebodohan gadis itu. Kenapa Claudya ngga bisa berpikir jernih. Kiano bukan satu satunya laki laki di dunia ini sampai dia harus berbuat nekat.


Setelah sampai di rumah dan mengabarkan berita bahagia ini pada mami dan kakek neneknya, Kiano membawa Aruna beristirahat ke kamar mereka.


Kiano yang akan membuka kaosnya jadi menghentikan tangannya dan menatap Aruna heran.


"Kenapa? Bukannya kita harus membencinya," sahut Kiano lugas sambil meneruskan kembali membuka kaos oblongnya.


Aruna terbelalak melihatnya.


"Maaf," katanya sambil menghapus air matanya yang akan menetes.


Kiano tersenyum lembut.


"Aku ngga apa apa. Yang penting istri dan calon anak kita baik baik saja," sahut Kiano lembut sambil duduk di samping Aruna yang sudah berbaring.


Dengan perlahan Aruna mengelus bilur bilur di punggung Kiano.


"Sakit ya?" pelan Aruna bertanya


"Sakitlah. Cuma sedikit," kekeh Kiano sambil.menarik tangan Aruna yang membelainya, kemudian mengevup punggung tangan itu.


"Jangan mancing mancing, sayang. Ingat kata dokter, kita ngga boleh sering sering main," goda Kiano membuat Aruna merengut kesal.


Ingin rasanya mencubit Kiano, tapi Aruna menahannya. Ngga tega. Kiano sampai tertawa melihat ekspresi manyun Aruna.

__ADS_1


"Kasian Alva sama Tamara. Bamg Athar juga. Mereka luka luka, bahkan Alva harus opname," cetus Aruna beberapa saat kemudian.


"Demi kamu sayang,."


Kiano pun mengecup lembut kening Aruna. Kemudian tangannya membelai lembut perut Aruna yang masih datar.


"Anak papi tumbuh kuat, ya. Nanti bisa ngelindungi mami, dari orang jahat," ucapnya membuat Aruna tersenyum. Tapi kata kata Kiano selanjutnya membuat Aruna manyun lagi.


"Papi pengen jenguk, tapi kayaknya ngga boleh sama mami," nyengir Kiano nakal.


"Kiamo. Iiiih," seru Aruna tambah kesal.


Kiano pun tergelak, lalu membaringkan tubuhnya di.samping Aruna. Tangannya pun memeluk pinggamg Aruna. Kepala Aruna pun dibawanya ke dadanya.. Posisi ini terasa nyaman baginya.


Dia betul betul berterima kasih pada Alva dan Tamara. Mereka benar benar melindungi Arunanya sampai dia dan Athar datang. Sangat fatal jika Aruna terkena pukulan atau tendangan dalam keadaan hamil muda begini.


Tangannya kembali membelai perut istrinya seakan akan dia sedang membelai kepala putranya.


"Baik baik ya, sayang di dalam rahim mami," bisiknya lagi. Dalam hatinya hanya ada kebahagiaan mengetahui ada keajaiban terbesar yang sedang tumbuh di dalam.rahim Aruna.


Aruna memejamkan matanya. Ngga nyangka Kiano sangat bahagia karena kini di rahimnya ada calon anak mereka berdua.


Kiano, bemarkah kamu secinta itu sama aku? batinnya haru. Aruna selalu mencurigai perasaan Kiano. Ngga pernah yakin sepenuhnya. Namanya juga perempuan, selalu mengingat hal buruk yang pernah Kiano lakukan padanya. Susah untuk dia lupakan.


Tapi kali ini Aruna berjanji akan mengingat selalu pengorbanan Kiano untuknya dan anak mereka. Dia ingin jadi isitri yang baik untuk Kiano dan mami yang penuh sayang untuk anak mereka.


Aruna pun membalikkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada Kiano, bahkan tangannya memeluk Kaino membuat suaminya mengembangkan senyumnya.


"Kita akan melihatnya tumbuh, Aruna," bisik Kiano lagi kemudian mengecup puncak kepala istrinya.


Sering Kiano menyesali kebodohannya yang ngga berani menemui Aruna untuk menyelesaikan masalah meeeka dengan cepat. Saat itu Kiano ragu dengan hatinya dan takut akan reaksi penolakan Aruna.


Setelah mereka putus, Kiano terus merasa bersalah. Apalagi Aruna selalu menghindarinya. Saat terpaksa berpapasan pun Aruna seolah ngga kenal dengannya.


Hatinya tercubit melihat gadis itu sangat menghindarinya seakan dialah kuman paling berbahaya. Dan dirinya sendiri pun ngga berani meminta maaf.


Sampai kesempatan itu datang. Dan Kiano ngga akan menyia nyiakannya lagi. Apalagi ada calon anak mereka. Bibir Kiano tersenyum lembut kemudian kembali dia mengecup lama puncak kepala Aruna.

__ADS_1


Aruna ngga bergerak dalam pelukannya. Kiano membelai rambutnya agar istrinya tambah nyenyak tidurnya. Hari ini sangat melelahkan untuk mereka.


__ADS_2