Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Lima Persen


__ADS_3

Arga yang baru saja keluar dari resto berjalan santai mendekati Regan. Sedangkan Qonita yang tadi berjalan di belakangnya memilih menunggu di depan mobilnya.


"Glen sama Reno udah hilang," kekeh Arga saat sudah berada di dekat Regan yang sedang nenyesap rokoknya.


"Si baby mana?" ledek Arga lagi karena ngga melihat si cantik berkerudung yang bersama Regan tadi, membuat Regan menghembuskan asap rokoknya sambil nyengir.


"Udah pulang juga," sahutnya ringan, lalu menyesap lagi rokoknya.


"Lo ngga bebas, ya," ledek Arga masih dalam deraian tawanya


Regan kembali menghembuskan asap rokoknya sambil.nyengir.


"Ngga tega gue "


Jawaban Regan membuat Arga tambah tergelak.


"Lo ngapain ke sini? Si dosen sudah berasap kepalanya nungguin lo," canda Regan sambil melirik wajah manyun Qonita.


"Oh iya, lupa gue," sahut Arga santai, tanpa rasa bersalah sudah mengkacangkan calon istrinya cukup lama.


"Gue antar dia dulu. Lo ikutin mobilnya, ya. Nanti gue baliknya bareng lo."


"Antar ke kampus lag?"


"Iya, katanya dia ada jadwal ngajar," tutur Arga sambil menepuk pundak sahabatnya


"Oke. "


Regan pun menginjak rokok yang tinggal separuh itu setelah dibuangnya.


"Thank's, bro," tukas Arga kemudian pergi menghampiri calon istrinya yang wajahnya sudah sangat ngga sedap di pandang mata.


"Kenapa, sih, ngga pulang sama teman kamu aja," judes Qonita begitu Arga meng klik renote kunci mobilnya. Dia pun segera membuka pintu mobil dan langsung masuk dan duduk.dengan perasaan kesal.


Dia yang punya mobil, tapi kenapa dia yang harus menunggu untuk masuk ke dalam mobilnya, omel Qonita dalam hati.


"Gue ini pria gentle. Gue juga harus ngantar lo dengan selamat kembali ke kampus," kata Arga santai sambil memasuki mobil.


Qonita mencibirkan bibirnya ke arah Arga, mrmbuat laki laki imi mengembangkan senyumnya. Senyum.yang dapat mematahkan hati para perempuan di luar sana. Tapi tidak untuk Qonita.


Mobil pun melaju perlahan di tengah kemacaetan.


"Lo beneran ngga mau mutusin perjodohan ini?" sungut Qonita sambil menatap ke jalan melalui kaca depan.


"Lo.mau diputusin?" tanya Arga melirik sebentar dosen cantik di depannya.


"Ya."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Gue, kan, udah bilang tadi. Gie ngga mau sama laki laki yabg belum move on," sahut Qonita sinis.


Arga menipiskan bibirnya.


"Gue memang belum move on," jujur Arga mengaku.


"Nah, itu," kesal Qonita.


"Tapi gue bisa ngasih sedikit hati gue ke lo. Jangan banyak banyak, ya. Lima persen aja," tukas Arga santai, kemudian lengkungan bibirnya terlihat lagi.


Qonita menatap Arga kesal.


Lima persen? Enak aja, batinnya.


Di luar sana banyak laki laki tampan dan sukses yang bsa memberikannya sampai seribu persen. Bahkan mungkin nyawa, sarkas Qonita dalam hati.


Temannya sesama dosen, bahkan mahasiswanya pun banyak yang naksir dengannya, batin Qonita sombong.


"Gue malah ngga bisa ngasih lo sepersen pun," sarkas Qonita judes dengan dada bergemuruh menahan kesal.


Arga tertawa renyah mendengarnya.


"Syukurlah. Gue tambah suka yang begini," selanya sambil mencubit pipi kanan Qonita dengan satu tangannya yang ngga memegang stir.


"Iiih issshh," ringis Qonita kesal.


"Pipi kamu empuk banget kayak donat," tukas Arga meledek


Dia ngga bisa. Dia ngga mau melakoni pernikahan yang seperti ini, tolak batin Qonita ingin menangis.


Dulu Qonita selalu berharap bisa menenukan laki laki yang dia cintai dan juga sangat mencintainya. Ada seorang pangeran tampan yang menawarkan cinta putih padanya. Akan mencintai dirinya sepenuh hati dan selalu melindunginya. Menjadikannya satu satunya wanita di hati dan hidupnya.


Bukan seperti laki laki yang ngga bisa melupakan mantannya ini. Laki laki yang hanya akan memberikannya lima persen saja untuknya mengisi kepingan hatinya.


Andai saja dulu Qonita ngga terlalu serius sekolah, ikut akseleraai dari sd hingga sma, menjadi lulusan tercepat dua setengah tahun untuk kuliah sarjana, dan meraih S2.dan S3 juga dalam waktu sangat singkat.


Dia ngga sempat punya teman, sahabat, apalagi kekasih. Hanya belajar dan main musik saja yang ditekuninya tiap hari.


Dia pun ngga sempat di dekati teman laki lakinya selama masa pendidikannya. Apalagi sampai kencan. Baru kali inilah dia kencan. Harusnya kencan pertamanya berisi momen yang indah. Tapi jauh di luar harapan dan khayalannya.


Untuk akademis dan keahlian bermain musik, dialah juaranya. Tapi untuk hubungan dengan sesama manusia, nol besar.


Kini dia baru menyadari celah ketaksempurnaannya. Saat teman teman dosennya saling bercerita tentang kekasih atau suami, dia hanya bisa diam sebagai pendengar.


Qonita ngga punya sama sekali bahan cerita untuk topik itu. Karena ngga ada pengalaman sama sekali yamg dia pernah miliki. Baik menyenangkan maupun menyedihkan.


*


*

__ADS_1


*


"Lo ngga ikut Arga dan yang lain ke kampus calon istrinya?" tanya Kiano heran ketika bertemu Alva saat membuka pintu ruangannya. Alva juga barusan keluar dari ruangannya.


Kiano akan pulang untuk makan siang bersama Aruna dan calon bayinya di rumah kakek Suryo.


Karena hamil kakek dan nenek, bahkan kedua orang tua mereka melarang untuk pindah ke apartemen Kiano.


"Enggak," jawab Alva malas.


Kiano melebarkan senyumnya.


"Lo takut ketahuan Tamara?" ledeknya membuat Alva memutar bola matanya kesal.


"Lo reseh banget. Lo aja ngga ikut juga," ketus Alva membuat lagi lagi Kiano tersenyum lebar.


"Gue udah cinta sama Aruna. Sebisa mungkin ngga mengundang hal hal yang akan menyakiti hatinya," jelas Kiano diplomatis.


Alva hanya mendengus menanggapinya.


"Lo serius sama Tamara?" pancing Kiano kali ini dengan tatapan penuh selidik.


"Ngga tau. Jangan tanya lagi. Gue pusing jawabnya," tukas Alva sambil memejamkan matanya. Seolah sedang menanggung beban hidup yang sangat berat.


Kiano tergelak mendengarnya.


"Sebenarnya belum terlambat untuk lo dan Tamara membatalkan pernikahan kalian," pancing Kiano santai.


"Tamara juga?" suara Alva terdengar ngga percaya.


"Iya."


Alva menghembuskan nafasnya panjang panjang.


"Kenapa?" gumamnya sangat pelan seolah olah hanya untuk dirinya sendiri saja yang mendengar. Tapi Kiano ternyata mendengarnya juga.


"Lo, kan, bukan tipenya," ucap.Kiano pedas.


Kiano sengaja melakukannya. Dia sangat ingin tau reaksi sahabatnya yang paling suka seenaknya sendiri.


Hati Alva panas mendengarnya.


"Memang tipenya seperti apa?" tanya Alva gusar.


Kiano tertawa dalam hati. Pancingannya sangat mengena dan melukai harga diri Alva.


"Lo cari tau sendirilah. Misalnya pergaulannya dengan teman temannya. Atau sesama atlet."


Kiano menebarkan racunnya.

__ADS_1


"Gue pergi dulu," pamit Alva langsung melangkah pergi meninggalkan Kiano yang berdiri santai dengan kedua tangan di saku celananya. Wajahnya menampilkan senyum lebar yang ngga bisa dia sembunyikan lagi.


Kiano sudah bisa memastikan kemana tujuan Alva akan pergi. Di antara para sahabatnya, Alva adalah yang paling gampang dibaca isi hatinya.


__ADS_2