Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Sugar Dady yang sangat Berkualitas


__ADS_3

Dua mobil mewah parkir dengan mulus di antara mobil mewah lainnya di parkiran kampus yang sangat elit dan terkenal dengan para mahasiswa dan mahasiswinya yang berkantong tebal.


Tapi dua mobil ini sangat mencolok karena warna, desaiin dan juga merknya yang lebiih mentereng.


Empat orang laki laki tampan dengan jas eksklusif keluar dari dalam mobil.


Tadi malam, ketika Arga menceritakan kalo besok akan ke kampus calon istrinya, Glen dan Reno sangat bersemangat ingin ikut.


"Lo ngga mau ikut, Al?" pancing Reno mengejek melihat Alva hanya diam ngga menanggapi.


"Kalo lo ikut semua, kasian Kianolah. Sendirian ngurus kantor," kilah Alva beralibi.


"Bilang aja lo takut ketahuan Tamara," ledek Reno kemudian tergelak. Senang sekali rasanya malam ini. Puas rasanya mengetawakan Alva di depannya langsung.


"Belum nikah lo udah takut istri," decih Glen menghina.


"Gimana nanti kalo beneran udah nikah," tambahnya mengompori.


"Lo udah suka, kan, sama Tamara," Regan ganti meledek Alva yang kini mukanya sudah sangat keruh menahan kesal dan malu.


Dalam hatinya, Alva terus memgumpat kebodohannya tadi malam.


"Terserah lo lah mau ngatain gue apa," sentaknya kesal membuat mereka semua tergelak gelak bahagia.


"Kita beneran mirip sugar dady," ucap Regan sambil melengkungkan garis bibirnya.


"Kalo kita pake kemeja, kita bisa dikira mahasiswa," sombong Glen.


"Iya, mahasiswa angkatan tua," gelak Arga membuat Reno dan Regan akhirnya ikut tertawa. Glen hanya nyengir.


Tapi memang tampamg mereka yang masih muda jadi lebih berwibawa jika mengenakan jas. Jika mereka mengenakan kemeja, mungkin ada yang salah mengenal mereka sebagai mahasiswa yang sedang kuliah di situ.


Dengan langkah santai mereka memasuki kampus. Penampilan mahal mereka membuat banyak pasang mata memperhatikan. Ada yang menatap penuh selidik, tapi banyak yang kagum. Terutama kaum hawa.


Wajar saja, keempatnya dikaruniai tubuh yang tinggi, kekar, atletis, dan berwajah tampan menawan. Apalagi jas yang mereka kenakan. Tentunya mahasiswa mahasiswi elit itu tau kalo harganya sangat mahal.


"Lo udah tau ruangan dosen lo?" tanya Glen sambil sesekali membalas senyum para mahasiswi yang cantik cantik dan seksi itu. Sama seperti yang Reno.lakukan.


"Ngga pa pa gue jadi sugar dady. Betah gue di sini. Besok besok lo ajak aja gue ke sini kalo lo butuh teman," ucap Reno dengan terusnmemamerkan senyum tipis yang membuat wajahnya semakin tampan.


"Gue juga ya. Ngga bakal nolak gue," sambung Glen semangat empat lima.


Arga dan Regan hanya menipiskan bibir sebagai respon.


Mereka pun melanjutkan langkah ke ruang dosen.

__ADS_1


Keempatnya berdiri dengan santai sambil menyandar di pilar gedung.


"Lo udah bilang kalo udah di sini?" tanya Regan.


"Sudah, bentar lagi dia keluar," ucap Arga sambil membaca pesan di ponselnya yang baru masuk.


"Kita seperti pengawal Arga," kekeh Glen sambil menggelengkan kepalanya. Matanya terus saja menatap dan menyeleksi mahasiswi yang berseliweran dan juga tersenyum aenyum padanya dan ketiga sahabatnya.


"Sesekali ngga apa apa juga," balas Regan terkekeh.


"Nama calon lo siapa?" tanya Reno ingin tau.


"Qonita," jawab Arga singkat.


CEKLEK


Saat mendengar pintu terbuka, keempatnya mengarahkan tatapan pada seorang permpuan cantik, tingginya seperti model balas menatap mereka berempat.


"Kita kencan berlima?" tanyanya sambil mengerutkan alisnya.


Ketiganya saling tatap.


"Gue betah kalo dosennya gini," bisik Glen sambil tersenyum miring membuat Reno yang dibisiki tersenyum memgiyakan.


Cantik banget. Kenapa ngga jadi model aja, batin Reno.


"Tapi yang cantik," tambah Arga lagi.


Regan meliriknya. Agak aneh melihat kelakuan Arga yang terlihat *nakal.


Apa dia sengaja agar dosen ini meminta putus pada orang tuanya*? duga Regan dalam hati.


Qonita terdiam. Kemudian dia melirik ke dalam ruangannya. Kemudian melihat lagi ke arah kerumunan mahasiswinya.


"Rain, Vani, Dinda, sini," panggilnya pada tiga mahasiswinya yang sedang berkumpul ngga jauh dari situ.


"Ya bu," sahut keriga berbarengan sambil melangkah mendekati dosennya. Mata ketiganya melirik pada keempat laki laki tampan yang berada di dekat dosen mereka.


Reno dan Glen langsung menyeleksi ketiga mahasiswi itu.


Cantik dan bening, walaupun yang satu berkerudung, batin Reno senang. Glen pun menaikkan sedikit sudut bibirnya. Mereka berdua satu frekuensi.


"Kalian masih ada kuliah?" tanya Qonita sambil menatap ketiga mahasiswinya.


"Ngga ada bu. Ni juga mau pulang," ucap Rain, gadia cantik dengan rambut panjang sepinggang, berkulit putih dan tinggi semampai.

__ADS_1


"Iya, bu, kita mau pulang," tambah Vani, si cantik berambut sebahu.


Sedangkan Dinda hanya diam. Gadis ini berkerudung, tapi tampak sangat fashionable. Gamis yang dia kenakan pun cukup longgar.


"Temani ibu kencan ya, " ucap Qonita terus terang.


Rain dan Voni langsung menatap keempat laki laki tampan di depan mereka.


"Pacar ibu yang mana?" tanya Rain ingin tau.


Tanpa diduga, Arga meraih pinggang Qonita membuat Reno dan Glen sedikit heran dengan sikap agresif Arga.


Bahkan Qonita sampai tengadah melihat wajah Arga saking kagetnya.


Padahal malam itu Arga terlihat sangat dingin dan datar.


Kenapa siang ini dia berubah seratus delapan puluh derajat? batin Qonita dengan dada mulai berdesir.


Dia yang awalnya akan mengerjai Arga jadi kelabakan juga dengan sikap Arga yang di luar dugaannya.


"Saya calon suaminya," ucap Arga dengan senyum tipisnya, sangat menambah pesonanya.


Lo gercep banget, cela Glen dengan fokus mata pada Rain. Glen selalu menyukai gadia berambut panjang.


Tapi Glen sempat terusik juga melihat yang berkerudung. Andai saja rambutnya tergerai, dia pasti yang paling cantik, analisa Glen dalam hati.


"Glen," ucap Glen sambil mengulurkan tangannya pada Rain yang tentunya disambut dengan perasaan sangat senang gadis itu.


"Rain."


Senyum manis tersungging di bibirnya.


"Reno," ucao Reno ngga mau kalah dari Glen. Dia pun mengulurkan tangannya pada Vani.


Untuk yang berkerudung lebih baik dengan Regan.


Perempuan yang baik untuk laki laki yang baik, batin Reno.


"Vani," balas Voni juga dengan senyum manisnya. Tapi dia agak kecewa, karena targetnya Regan, laki laki.yang bersikap acuh ngga acuh. Ngga seperti kedua laki laki di depannya. Dari tadi selalu mengerling dan tersenyum pada mahasiswi yang lewat di depan mereka. Seperti player sejati.


"Regan," tukas Regan sambil mengulurkan tangannya.


Tapi gadis itu hanya membalasnya dengan menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Dinda."

__ADS_1


Regan tersenyum tipis sambil menarik tangannya yang terulur. Dia ngga tersinggung, malah ada satu getar aneh dalam dadanya melihat sikap gadis itu.


__ADS_2