Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Hasil Yang Ngga Di harapkan


__ADS_3

"Tante dan Om terpaksa berdusta dengan keluarga kamu. Kami hanya mengatakn kalo putra tante tertarik denganmu. Tapi respon papa dan mama aku kedengaran sangat senang," jelas mami Alva sambil menatap lurua ke arah Tamara.


Tenru saja senang, tante. Mereka memang ingin aku segera menikah, batin Tamara gemas.


Aruna yang kini menyadari kekalutan Tamara menepuk lembut pundak sahabatnya.


"Tenanglah," bisik Aruna membujuk.


Tamara hanya memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya.


Semua sudah terlihat jelas di depan mata Tamara. Dia pasti akan dinikahkan. Tapi kenapa si kurang ajar itu hanya pasrah. Batin Tamara terus saja memgumpat kesal.


"Baru kali ini Alva berkata ingin menikah. Tante dan Om akan mewujudkannya," tandas mami Alva tegas membuat mulut Tamara kembali menganga karena ngga percaya.


"Maaf Tante, saya ikut bicara. Saya rasa Alva ngg serius," kata Aruna berusaha membantu sahabatnya.


"Betul, mbak. Aku juga rasa begitu. Aku rasa semua sudah selesai dengan.putusnya perjodohan putramu itu," sambung mami Alva membuat Tamara bisa sedikit menghirup oksigen untuk melegakan rasa sesaknya.


"Aku tau itu. Aku dan suamiku tau Alva sengaja berbohong," ucap mami Alva kemudian mengambil nafas panjang.


"Memang itu sudah kebiasaannya, aku cukup hapal," kekeh nenek Alva membuat mami Kiano dan mami Alva ikut tersenyum.


Sejak SMA, Alva samgat serimg berada di rumah kakek Kiano. Tentu kakek dan nenek Kiano sangat mengerti watak putra tunggalnya.


"Tamara, ini memang ngga adil buat kamu. Tapi hanya kamu yang bisa menjinakkan Alva."


"Maksud.tante?" tanya Tamara semakin mengerti dan takut akan pikirannya yang mulai menebak nebak arah pebicaraan mami Alva yang semakin terang tujuannya.


"kalian menikah, ya?" ucap mami Alva penuh bujukan.


"Tante becanda, kan," tolak Tamara halus.


"Tante serius. Nanti setelah menikah, kamu boleh hajar dia. Tante dan Om akan selalu mendukung."

__ADS_1


Nasihat perkawinan seperti apa ini? Umpat Tamara, dalam hati. Dia mentertawakan nasib buruknya.


Setelah cukup lama berbincang yang membuat dada Tanara tambah sesak, mereka pun kembali ke ruang tamu dimana Alva juga sudah berkumpul bersama Kiano.


"Alva, Tamara sudah setuju menikah dengan kamu," kata mami Alva langsung tanpa prakata apa pun sebagai basa basi.


Alva terdongak saking kagetnya. Ini di luar rencananya.


Tamara baru kali ini rasanya ingin menangis. Nasibnya begitu tragis hanya dalam semalam. Semua karena niat baiknya untuk menolong orang lain.


"Maksud mami?"


Papi Alva tersenyum. Dia senang melihat kepanikan putranya yang. Sudah dua kali terlihat. Tadi malam dan sekarang.


Sudah saatnya kamu bersikal dewasa, nak, batin Papi Alva.


Alva menatap Tamara yang gabti menunduk, seperti dirinya tadi.


Sementara Kiano menahan tawanya.


Rasakan, umpatnya dalam hati dengan perasaan senang.


*


*


*


"Dady, saham kita terus menurun," kata Melvin ketika pagi ini dadyna mengunjungi maminya di rumah sakit.


"Ya."


Tanpa memperdulikan Melvin, Herman Permana langsung menghampiri istrinya yang kedua matanya masih terpejam.

__ADS_1


Beliau pun menggenggam jari jari tangan yang ngga diinfus itu dengan lembut membuat pemiliknya tersadar.


Satu senyum tipis tergurat di sana membuat suaminya membalas dengan senyumnya yang lebih hangat.


"Hentikan. Aku mohon," pinta mami Claudya pelan


"Pikirkan saja kesehatanmu," tegas Herman Permana tetap keras kepala.


"Aku ngga ingin kehilanganmu," masih berbisik istrinya menyahutinya.


"Tenanglah. Semua akan baik baik saja," kilah Herman Permana tetap tenang.


"Tapi...."


"Cepatlah sembuh. Kami membutuhkanmu," potong Herman Permana cepat.


Istrinya hanya bisa menganggukan kepalanya.


Suami dan putrinya memiliki watak yang keras. Mereka sepemahaman. Susah untuk melunakkan keduanya.


Melvin hanya menatap punggung dadynya gelisah.


Keadaan perusahaan mereka sudah berada di ujung tanduk. Dia harus bisa mengambil langkah cepat untuk menyelamatkan perusahaan keluarga mereka sebelum makin terpuruk.


Dadynya terus berada di samping maminya sampai Melvin pamit untuk mengurus huru hara perusahaan keluarga akibat kelakuan negatif adiknya.


Melvin masih belum.bisa menebak apa yang sedang diremcanakam dadynya. Pasti sesuatu yang buruk.


Melvin ngga ingin hubungan baiknya dengan Athar kembali rusak.


Sambil berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, Melvin pun mengirim pesan pada Athar.


Ngga lama kemudian Alva membalasnya dan membuat Melvin agak tenang. Dia pun akan mengawasi tingkah laku dadynya. Beberapa pengawalnya sudah diperintahkannya untuk mengikuti kemana pun dadynya pergi.

__ADS_1


__ADS_2