Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Uhuk Uhuk Uhuk


__ADS_3

Setelah berganti pakain untuk yang kesekian kalinya, Aruna diminta mama dan mami untuk beristirahat sebentar, mengisi perutnya bersama Kiano.


Tapi Aruna hanya memilih meminun jus alpokadnya saja, baginya itu sudah cukup mengenyangkan dan menambah daya tahan tubuhnya.


"Beneran ngga mau makan?" tanya Kiano sambil memegang piring kecil berisi beberapa tusuk sate dan lontong.


"Engga," tolak Aruna sambil.menggelengkan kepalanya. Mereka sengaja ditinggalkan berdua padahal Aruna senpat merengek pada mama dan kakaknya agar menemaninya. Mereka pun tega menjauhkannya dari Tamara. Padahal pasti Tamara dengan senang hati menemaninya.


Kiano berinisiatif melepas daging sate dari tusuk lidinya. Kemudian memotong kecil kecil lontongnya. Dia tau Aruna pasti lapar, karena pasti dari pagi sampai sore begini Aruna belum makan makanan berat. Sama seperti dirinya. Sekarang saja Kiano merasa sangat lapar.


"Ayo,"


Aruna yang sedang melamun sambil memegang sedotan jusnya kaget melihat sodoran sendok yang berisi irisan kecil lontong dan daging sate.


"Ayo, perut kamu harus diisi. Biarpun kamu dokter, kamu juga harus jaga kesehatan, Runa," kata Kiano lembut.


Aruna ngga enak hati mau menggelengkan kepalanya. Dia pun membuka mulutnya dan menerima suapan Kiano dengan wajah merona.


Kiano tersenyum setelah berhasil menyuapkan makanannya. Dia pikir akan ditolak.


"Nanti kita masih berdiri lagi. Ayo makan lagi," kata Kiano kembali menyuapkan Aruna kembali.


Walau malu malu tapi Aruna menurut, menerima suapan demi suapan dari Kiano hingga makanan di piring kecil itu habis.


"Kamu udah siap, kan malam ini?" tanya Kino menggoda.


Uhuk Uhuk Uhuk


Aruna langsung batuk batuk mendengarnya.


Kiano menepuk lembut punggung Aruna.


"Dokter, kok, batuk batuk," kekeh Kiano membuat Aruna ingin berenang di samudra Altlantik. Pokoknya dia harus memghilang secepatnya dan ngga ketemu Kiano lagi.


"Aku pelan pelan, kok. Paling sakit sedikit," goda Kiano lagi.


Wajah Aruna langsung merah padam.


Tamara, tolong guee, jeritnya dalam hati.

__ADS_1


Tanpa diduga Kiano mengecup bibir Aruna. Hanya sekilas, Kiano menjauhkan wajahnya sambil tersenyum geli melihat wajah Aruna yang terpana.


"Buat imun."


Kiano tersenyum sambil menatap Aruna sangat lembut.


Aruna masih bergeming dengan hati bergetar.


"Kamu cantik. Aku ngga tahan menunggu malam," bisik Arjuna sambil mengusap lembut bibir Aruna dengan tangannya yang bergetar, tambah membuat hati Aruna ngga menentu.


"Huayooo, mau ngapain nih," seru Glen bareng Alva mengagetkan keduanya. Kemudian terdengar tawa rame beberapa orang.


"Masih lama lagi wooiii," seru Reno cengengesan.


"Dasar kalian. Bisa jantungan mereka," kata Reno pura pura memarahi kedua sahabatnya yang ngga tau situasi. Tapi tawa keduanya tetap membahana.


Kiano membuang nafas kesal.


Mengganggu aja, batinnya.


"Kalian ngapain rame rame di sini," tegur mami Kiano yang sudah datang bersama Tamara.


"Bukan gue," sangkal Regan saat mata bulat itu melototinya sambil tangannya dengan cepat menunjuk Glen. Glen hanya memberikan cemgiran khasnya.


Tamara hanya mendengus kesal.


"Ayo, kita ke.panggung lagi," kata mami Kiano sambil membimbing Aruna bersama Tamara.


"Ayo Kiano," panggil mami ketika melihat Kiano yang belum bergerak.


"Iya mi," jawabnya sambil memandang sahabat sahabatnya dengan kesal.


Bayangkan saja, momen romantis yang sudah susah payah dia bangun, hancur seketika.


*


*


*

__ADS_1


"Tamara, bagaimana ini?" tanya Aruna resah. Setelah hampir seharian berdiri di acara resepsi, Aruna sudah kembali ke kamar. Tamara masih menemaninya, sedangkan mamanya, mami Kiano dan kakaknya sudah keluar dari kamar pengantinnya.


Kamar itu dihiasi begitu indah. Tapi Aruna semakin tegang saja. Saat ini dia masih memakai baju pengantin terakhirnya. Dia tadi sudah empat kali berganti gaun. Sangat melelahkan.


"Tenang," kata Tanara berusaha santai, padahal dalam hatinya Tanara juga tegang. Tapi dia ngga mungkin menunjukkannya. Dia di sini karena ingin menemani sahabatnya untuk melepas masa lajangnya.


Haaah?


Pikirannya sudah ngga menentu, Tamara merutuki dirinya sendiri.


Gimana nanti Aruna yang lugu dan polos mengahadapi Kiano yang sudah sangat berpengalaman.


Dalam hatinya Tamara sangat berharap kalo Kiano ngga akan mempermainkan Aruna.


Jika itu sampai terjadi, Tamara akan memanggil tim karatenya untuk menghajar Kiano. Kalo perlu sekalian teman temannya yang bermulut kurang ajar itu.


"Ayo, kita ganti gaun pengantin kamu dulu," ucap mama yang masuk bersama kakaknya, Almira.


"Kamu harus mandi biar segar dan wangi. Kan, mau malam pertama," goda Almira dengan senyum manisnya.


Uhuk Uhuk Uhuk


Bukan hanya Aruna yang batuk, Tanara juga ikutan batuk ngga kalah hebohnyĆ . Mereka pun batuk bersahut sahutan.


"Kalian kenapa, sih?" tanya mama panik sambil memberikan dua gelas air mineral pada Aruna dan Tamara.


"Kenapa kamu juga batuk, Tamara?" heran Almira pada sahabat adiknya. Tapi senyum manisnya tetap terulas di bibirnya.


"Eng... engga pa pa, kok, kak," gugup Tamara.


Gimana kerongkongannya ngga jadi gatal mendengar ucapan yang sangat mengerikan itu. Tamara mengomel dalan hati.


"Syukurlah batuknya sudah reda," ucap mama senang karena batuk keduanya sudah berhenti.


"Tamara, bantu tante sama Almira ya. Kita harus buat Aruna tampil cantik, seksi dan wangi," kata mama penuh semangat


Uhuk Uhuk Uhuk


Kembali Aruna dan Tamara batuk bersahut sahutan.

__ADS_1


"Kalian kenapa, sih?" kesal mama ngga peka. Sementara Almira terkikik, karena paham apa yang dirasakan kedua jomblo akut ini.


__ADS_2