Dendam Dokter Aruna

Dendam Dokter Aruna
Belum Jodoh


__ADS_3

"Dokter pulangnya sama suaminya, ya," tanya Suster Uci sambil membantu sang dokter membereskan meja kerjanya.


"Iya," jawab Aruna jadi kasian juga, biasanya suster Uci nebeng dengannya. Tapi Kiano memaksa mengantar jemput dan ngga membiarkannya menyetir mobil sendiri.


"Saya sekaramg ngga bisa ajak kamu pulang bareng," kata Aruna lagi.


Suster Uci melebarkan senyumnya.


"Ngga apa dokter. Dokter, kan, baru nikah. Masih anget angetnya," katanya menggoda.


Aruna jadi terkikik.


"Kamu bisa aja."


"Syukurlah dokter jadian sama pacar dokter itu. Ganteng banget, ya. Dokter kenalnya dimana?" tanya Suster Uci mulai kumat keponya.


Aruna tertawa lagi sebelum menjawab.


"Kita teman SMA," jawab Aruna jujur..Ngga apa menurutnya sekarang berterus terang. Dia dan Kiano sudah sah menjadi suami istri. Bahkan dia sudah menyerahkan mahkotanya pada Kiano.


"What's? So sweet banget, sih, dokter," seru Suster Uci penuh kagum dan excited.


"Jadi dokter pacarannya sangat lama ya, dari SMA sampai sekarang," duga Suster Uci masih ter kagum kagum. Dia aja ngga pernah pacaran waktu SMA. Naksir, sih, sering. Tapi ngga pernah ditanggapi lawan jenis. Masa SMA nya terasa menyedihkan. Begitu juga waktu kuliah. Karena keluarganya kesulitan ekonomi. Buru buru beli make up, buat makan aja susah.


Suster Uci baru bisa eksis setelah diterima bekerja di rumah sakit ini. Karirnya semakin bagus karena dipercaya dokter Aruna sebagai asistennya. Dokter Aruna juga ngga pelit memberikannya bonus. Karena itu Suster Uci mulai bisa membeli baju baju, tas dan sepatu. Walau KW. Dia juga sekarang mengoleksi berbagai merk lipstik, kalo ini asli, karena harganya masih terjangkau. Jadi gajinya selain disisihkan buat orang tuanya, dia pun mulai bisa menikmati hidup.


Sayangnya belum ada pujaan hati yang serius mendekatinya. Januar yang mau dia seriusi malah putar balik gara gara cemburu dengan Mas Reno. Padahal Suster Uci berharap lebih pada Januar. Walau bukan high quality, tapi secara pekerjaan jelas dan bisa membuat bangga orang tuanya. Wajahnya juga tampan walau ngga setampan Mas Reno. Tubuhnya juga kekar walau ngga se atletis Mas Reno.


Tapi bagi Suster Uci, Januar sudah masuk tujuh puluh persen dalam kriteria pasangan idamannya. Sayangnya Januar sudah patah arang dengannya dan lebih menilih bidan Rumi yang lebih tinggi dikit levelnya dari dirinya.


Suster Uci pun sekarang pasrah dengan nasib jomblonya. Tapi setidaknya dua temannya juga masih jomblo. Suster Ria dan Suster Eliana. Jadi dia ngga terlalu terintimidasi.


"Kita putus waktu mau lulus SMA. Baru ketemu kemarin kemarin di rumah sakit."


Suara dokter Aruna menyadarkannya dari lamunan.


"Udah jodoh ya, dokter. Padahal udah terpisah bertahun tahun," ucap Suster Uci dengan binar binar di matanya.


*Mungkin nanti jodohnya juga begitu dengan J*anuar? batinnya ge er.


Aruna hanya tersenyum melihat reaksi antusias asisten perawatnya.


"Pantasan dokter menolak dokter Farel, ternyata dokter belum bisa melupakan mantan," tebak Suster Uci jitu.

__ADS_1


Uhuk Uhuk Uhuk


Aruna langsung merasa ada yang mengganggu pernafasannya. Daya pikir susternya memang dalam. Juga daya keponya akan hubungan seseorang benar benar membuat semua rahasia bisa kebongkar.


"Dokter ngga apa apa?" tanya Suster Uci panik karena batuk Aruna yang ngga berhenti. Suster Uci menepuk pelan bahu Aruna.


BRAK!


Terdengar suara pintu mobil ditutup keras di dekat mereka.


Belum sempat Suster Uci melihat siapa pelaku yang mengagetkannya, orang itu sudah meraih Aruna dalam dekapannya.


"Kamu ngga pa pa?"


Aruna memgangkat kepalanya dari dada laki laki yang mendekapnya saat mendengar suara lembut yang berubah panik itu menyapa.


"Kiano, uhuk uhuk," ucapnya masih terbatuk. Rasanya tenggorokannya gatal.


"Ini minum dulu dokter," kata Suster Uci sambil.memberikan sebotol kecil minuman kemasan yang masih bersegel.


"Terimakasih," kata Kiano yang menyambutnya dan dengan cepat membuka tutup botolnya.


"Minumlah," kata Kiano lembut membuat Aruna menganggukkan kepalanya.


Dokter Aruna sangat beruntung. Suaminya sangat tampan dan lembut. Juga tajir kebangetan. Apa ya, amal ibadah yang dilakukan dokter hingga dapat jodoh sesenpurna ini, batin Suster Uci dengan wajah kepengen.


Nanti akan dia tanyakan, dan langsung dipraktekkan agar bisa mendapat jodoh seperti dokter Aruna. Paling engga beda tipislah, batin Suster Uci sambil nyengir.


Akhirnya batuk dokter Aruna reda juga.


"Kamu kenapa sampai batuk batuk?" tanya Kiano lembut sambil mengambil botol yang diulurkan Aruna.


"Keselek angin," jawab Aruna asal. Jantungnya masih berdebar ngga menentu mendapat perlakuan lembut Kiano.


Kiano dan Suster Uci serentak tertawa mendengarnya.


"Kamu ada ada aja," kata Kiano sambil menjawil ujung hidung Aruna membuat pipinya merona.


"Duuh romantisnya. Saya jadi pengen dokter," kata Suster Uci genit, masih ada sisa tawa di wajahnya.


"Ya, nanti kalo kamu udah punya pacar," balas Aruna agak tersipu, karena Kiano terus menatapnya.


Suster Uci kembali tertawa.

__ADS_1


"Kita pulang dulu, ya. Hati hati nanti kamu pulangnya," kata Aruna sambil melambaikan tangannya pada suster Uci.


Kiano pun seperti lelaki romantis dalam novel membukakan Aruna pintu mobil dan mempersilakan bidadarinya masuk ke dalam mobil. Kemudian setengah berlari memutari kap depan mobil dan masuk ke dalamnya.


Aruna kembali melambaikan tangannya pada suster Uci saat mobil beranjak meninggalkan suster Uci yang juga balas melambaikan tangannya.


Suster Uci terus menatap kepergian mobil mewah yang membawa dokter Aruna dan suaminya pergi sampai menghilang. Setelahnya suster Uci baru mengambil ponsel dari dalam tas sambil berjalan meninggalkan basemen. Dia akan memesan ojol.


Tanpa dia sadari seorang laki laki dengan seragam perawat sepertinya mengawasinya sejak tadi. Perawat laki laki itu melangkah cepat untuk menghampiri sang suster, dia bermaksud akan mengejutkannya. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil mewah berhenti di samping Suster Uci.


"Mas Reno!"


Perawat itu mendengus mendengar panggilan manja yang bernada kaget itu. Harusnya itu untuknya. Lagi lagi dia telat. Akhirnya perawat laki laki utu memutar balik langkahnya menuju notor vario lamanya yabmng sudah terparkir menunggunya.


Dia menimang helm pink yang sengaja dia bawa untuk suster Uci. Setelah menghembuskan nafas kesal, perawat itu mengambil helmnya di bagasi dan menyimpan helm pink itu sebelum menutup jok mobilnya.


Masih dapat dia lihat Suster Uci dengan riang memasuki mobil mewah buatan Amerika yang kemudian membawanya pergi.


"Jadi namanya Reno," gumamnya kesal sebelum menarik kuat gasnya meninggalkan tempat parkir.


Sementara itu suster Uci menatap ngga percaya pada saat kaca mobil mewah itu diturunkan dan menampilkan wajah tampan pria high quality.


"Mas Reno!"


Reno tertawa mendengar jeritan manja itu. Dia merasa seperti adiknya Rania yang memanggilnya.


"Ayo, gue antar pulang," kata Reno sambil membuka pintu mobil dari dalam.


Dengan wajah sumringah tanpa sadar sudah membuang lagi (?) kesempatan emas, Suster Uci memasuki mobil mewah Reno.


Wooww, batinnya saat merasai jok empuk dan interior mewah itu lagi.


"Mas Reno serius mau saya antar pulang?" tanya Suster Uci masih ngga percaya. Laki laki high quality ini selalu datang dalam waktu ngga disangka sangka.


Reno ngga menjawab, hanya tertawa sambil menjalankan mobil mewahnya.


"Kita makan dulu, ya. Kamu lapar nggak?" tanya Reno dengan setelah tawanya mereda.


"Iya, lapar," sahut suster Uci ngga malu malu. Kapan lagi makan gratis dan pastinya bukan di pinggir jalan tempat favoritnya.


"Teman gue baru buka resto Jepang. Mungkin kamu suka dimsum atau ramen," tawar Reno ramah.


"Ya, saya suka ranen, mas," Suster Uci menjawab dengan antusias. Dia ngga peduli ada ketimpangan obrolan karena Reno selalu memakai kata gue, sedangkan dirinya lebih suka dengan saya..

__ADS_1


"Oke," Reno pun melajukan mobilnya menuju tempat tujuannya.


__ADS_2