
Setelah teman temannya masuk ke dalam club, dengan langkah pasti, Tamara mendekati bagian pojok club tersebut.
Walaupun pencahayaannya remang remang, tapi Tamara masih bisa melihat bekas bekas perkelahian. Bahkan Tamara menemukan jas yang sudah robek di sana sini.
"Eeerrghh......"
Tamara menajamkan pendengarannya. Dia seperti mendengar suara rintihan. Dia pun menyalakan flash di ponselnya, menyoroti sekitar lorong yang biasa digunakan pasangan untuk bercinta tanpa modal.
Dalam hati Tanara berharap ngga menyoroti pasangan mesum yang sedang pamer na*fsu. Dia akan ketiban sial berminggu minggu, bahkan mungkin ber bulan bulan karenanya.
Dada Tamara berdesir melihat sosok yang meringkuk membelakanginya. Dia pun berjalan perlahan mendekat. Sosok itu mengeluarkan rintihan dan erangan yang aneh. Karena takut, Tamara menggunakan sebelah kakinya, untuk membalikkan sosok itu. Dia mengaitkan ujung sepatunya pada tali pinggang sosok laki laki itu, sehingga ngga kesulitan membuatnya berbalik menghadap ke arahnya.
"ALVA!" serunya sangat kaget. Di luar ekspetasinya melihat keadaan pemuda sombong itu babak belur dengan tubuh menggigil.
Alva yang memejamkan matanya karena menahan sakit dan hasrat aneh dalam tubuhnya, membuka matanya perlahan dan terlihat sangat berat saat mendengar namanya dipanggil.
"T... tolong," ucapnya lirih dengan suara bergetar.
Pandangannya kabur dan ngga mengenali Tamara.
"Lo kenapa?" tanya Tamara sambil membantu laki laki itu untuk duduk.
"Ta... Tamara?" ucapnya sambil menatap lekat wajah penolongnya.
Jantung Alva berdebar keras. Dia merasa sangat gerah.
Obat jahanam itu sudah bereaksi, rutuknya dalam hati sambil menahan kuat gairah dalam tubuhnya.
"Ka kamu .... jangan ... de ... dekat dekat... aku," katanya dengan nafas yang memburu.
"Lo ngga mau ditolong?" dengus Tamara kesal. Salah paham.
Alva ngga menjawab. Dan Tamara pun ngga mempedulikan kata kata larangan Alva. Dia segara membantu Alva berdiri dengan memapahnya.
Dibilang jangan dekat dekat, batin Alva merutuk kesal.
Yang aku butuhkan perempuan yang bisa dibayar, keluhnya dalam hati.
Harum rambut Tamara menambah gelora hasratnya. Tanpa sadar Alva menggenggam erat tangan Tamara.
"Kita ke hotel di sebelah ini saja," kata Tamara sambil membantu Alva melangkah perlahan dengan posisi tangan Alva merangkul bahunya. Dia yang hanya berniat menolong, ngga sadar sudah membiarkan tangan Alva meremas bahunya.
Seorang sekuriti hotel menghampirinya.
"Teman nona kenapa?" tanya sekuriti yang berusia tiga puluhan itu mengambil alih Alva.
__ADS_1
"Kayaknya habis dipukuli. Pak, saya titip dulu teman saya, ya, mau booking kamar," sahut Tamara sambil melepaskan rangkulannya pada Alva.
"Siap nona. Nona pesan lah dulu. Saya akan membantu membawanya ke dalam," balas sekuriti itu ramah.
"Terimakasih, pak," ucap Tamara setengah berlari masuk ke dalam hotel bintang tiga itu. Setelah mendapatkan kamar, Tamara juga meminta disediakan kotak obat P3K dan baju ganti buat Alva. Untunglah di dalam hotel tersedia kaos kaos oblong dan celana selutut yang diperjualbelikan. Kaos yang bertemakan wisata di kota Malang.
Dibantu sekuriiti, Alva dibawa ke kamar dan di rebahkan ke tempat tidur.
"Terimakasih, pak." Tamara pun memberikan tips berupa tiga lembar uang berwarna merah untuk pak sekuriti yang diterimanya dengan senang hati.
"Terimakasih nona. Kalo butuh apa apa, bisa hubungi saya," katanya sebelum pergi.
Tamara hanya mengangguk dan tersenyum. Saat akan menutup pintu, pesanan kotak obat dan kaos beserta celana pendek pun tiba.
"Terimakasih," katanya kemudian menutup pintu kamarnya.
Tamara membuang nafas dengan kasar.
Apa yang aku harus lakukan? batinnya bingung.
Ingin menghubungi Aruna, tapi dia ngga mau merepotkan Aruna atau pun Kiano. Apalagi masalah tabrakan Aruna yang belum tuntas terpecahkan. Tamara takut masih ada lagi yang mengincar sahabatnya itu.
Tamara pun berjalan ke arah tempat tidur. Dia merasa aneh melihat Alva yang berbaring dengan gelisah.
"Ka... kamu nga... pain?" tanya Alva dengan suara bergetar akibat sentuhan tangan Tamara.
Gila, gila, gila, umpatnya dalam hati. Dadanya terbakar, dia butuh lebih. Tapi ngga mungkin juga Tamara akan melakukan untuknya. Bisa bisa dia akan dihajar abis abisan.
Saat ini tubuhnya sudah penuh luka dan lemah sehingga ngga mungkin menang melawan Tamara.
Setelah itu Tamara mengambil sebotol air kemasan dan obat pereda nyeri yang dimintanya tadi di lobi hotel.
"Duduklah," kata Tamara sambil membantu Alva bangkit dari tidurnya.
Sepasang mata mereka saling bersitatap. Tamara merasa takut melihat sorot tajam Alva. Baru kali ini dia merasa diintimidasi.
"Ini obat pereda sakit. Minumlah," kata Tamara sambil mengulurkan sebuah pil ke tangan Alva.
Alva yang sudah disuntikkan obat perangsang dosis tinggi, meraih pil itu sambil menggenngam jemari Tamara menbuat gadis itu tersentak dan menarik kasar tangannya hingga obat itu jatuh ke lantai.
"Maaf," kata Alva frustasi karena ngga bisa mengendalikan dirinya.
"Untung masih ada lagi," kata Tamara sambil menyerahkan obat itu. Kali ini dia cepat cepat menaruh di tangan Alva sebelum Alva menyentuh tangannya seperti tadi. Jantungnya masih berdetak sangat kencang akibat sentuhan barusan.
Tanpa kata Alva menelannya. Sebenarnya Alva mulai ngga merasakan sakit pada luka luka di tubuhnya, tapi yang dia dirasakan adalah rasa panas dan dia butuh didinginkan secepat mungkin.
__ADS_1
"Kamu bisa ganti baju," kata Tamara sambil meletakkan kaos dan celana selutut itu di samping Alva.
"Te... terima kasih," sahutnya sambil melirik Tamara yang berlalu pergi.
Alva dapat merasakan tubuhnya yang mau meledak. Dengan tangan gemetar dia melepas baju dan celananya yang bernoda darah. Kemudian memakai kaos dan celana selutut pemberian Tamara.
Alva menggeram. Tapi dia berusaha menekan perasaan ngga benarnya. Saat ini Tamara mendekat dan duduk di sampingnya.
"Aku akan obati. Kamu kenapa bisa begini?" tanya Tamara sambil membersihkan luka di tangan Alva yang bergetar.
Tamara heran Alva ngga menjawab, tapi ngga mempedulikannya. Hanya dia merasa aneh karena Alva jadi lebih pendiam.
Biasa bawel. Dia kenapa sebenarnya? batin Tamara tanpa mau melihat wajah Alva. Entah mengapa saat ini dirinya merasa gugup di dekat laki laki yang menggenggam erat jemari tangannya tadi
Akhirnya selesai juga membersihkan luka luka di tangan Alva. Kemudian Tamara mulai membersihkan luka luka di wajah Alva.
"Wajahmu kelihatan baik baik saja. Hanya kening mu saja yang robek," cicit Tamara yang menekan kapas dengan lembut pada kening Alva.
Pasti dia tadi melindungi wajahnya abis abisan, cibir Tamara dalam hati.
Tapi Tamara kaget saat kapas yang dia gunakan untuk menyentuh bibir Alva diambil paksa Alva.
Laki laki itu malah membuang kapasnya dan mengambil jari telunjuk Tamara dan memasukkannya ke dalam mulutnya
Tamara tertegun. Dia merasakan sensasi yang aneh. Dia menatap mata Alva yang tanpak sayu dan aneh.
Tamara tersadar lalu menarik jarinya yang sudah basah oleh saliva Alva.
"Alva! Kamu jorok!" marah Tamara sambil mengelapkan jari itu ke kaos baru Alva.
Tamara merasa aneh melihat tubuh Alva yang menggigil dan matanya yang terpejam kuat.
"To... Tolong carikan aku ... perempuan," ucapnya dengan suara seperti menahan kesakitan yang amat sangat.
"Maksud kamu apa? Kamu pengen bercinta dengan tubuh luka luka begini?" sentak Tamaa jengkel.
Orang aneh. S*ex aja yang dia pikirkan, batin Tamara mengumpat kesal.
"A.. ku... diberi... o... obat pe... perangsang," jelas Alva susah payah. Rasanya hasratnya sudah naik ke ubun ubun. Dia butuh wanita secepatnya. Dia merasa sudah ngga kuat lagi menahannya dan takutnya akan langsung menerkam Tamara.
"APA!" teriak Tamara langsung menjauh. Apalagi saat ini netra Alva menyorotnya nyalang penuh na*fsu.
Alva dan Tamara
__ADS_1